
Jam menunjukkan pukul 15.00 petang.
Rima sudah pulang dari kantor dan bergegas menuju rumah sakit. Rima tidak tega meninggalkan Erick dan kedua adiknya di rumah sakit, tetapi dia harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.
“Alisa, Alika ...” panggil Rima seraya menghampiri kedua adiknya.
Rima duduk di samping Alisa dan membuka plastik berisi makanan. Makanan itu sengaja Rima beli untuk adik-adiknya karena mereka sudah mengerti kondisi ekonomi kakaknya, bahkan semenjak Erick koma, mereka tidak pernah main bersama teman-temannya.
“Kakak tumben pulang cepat dan bawa makanan enak, ada acara apa?” tanya kedua adiknya penasaran.
“Tadi kantor kakak ada acara dan Bos kakak bagi-bagi uang ke pegawainya,” jawab Rima.
“Wah, baik banget ya Bos kakak. Semoga rezeki dia semakin banyak,” doa adiknya.
“Iya, cepat makan nasinya.” Rima memberikan dua bungkus nasi Padang kepada adiknya, kemudian adik-adiknya langsung menyantap nasi Padang tersebut.
“Buat kakak mana?” tanya adiknya.
“Kakak enggak usah, buat kalian saja. Tadi kakak sudah makan,” jawab Rima.
Rima tersenyum memandang adiknya, lalu Rima mengusap kepala adiknya secara bergantian. “Kalian harus lebih sukses dari kakak dan kalian tidak boleh mengalami hal serupa dengan Kak Erick,” ujar Rima.
Rima memandang kedua adiknya dengan mata berkaca-kaca. Rima kasihan dengan adik-adik yang sudah menjadi yatim-piatu saat usia mereka baru menginjak 2 tahun.
Kecelakaan tragis itu terjadi begitu cepat dan tidak ada satupun pihak keluarganya yang mau menampung Rima beserta saudaranya. Erick dan Rima berjuang bersama untuk menghidupi kedua adik mereka meskipun kala itu, Erick baru menginjak 16 tahun dan Rima baru menginjak 9 tahun.
“Selesai makan, kita salat ya. Kita doakan Kak Erick cepat sadar dari koma dan kembali bersama kita,” ucap Rima.
“Iya, Kak.”
Kedua adiknya melanjutkan makan mereka, sedangkan Rima memindahkan tatapannya dan menatap Erick yang masih terbaring di ranjang rumah sakit.
...*********...
Malam pun tiba.
Dinda baru selesai mandi dan bersiap-siap pergi ke rumah sakit untuk menemani Rima menjaga Erick. Dinda mengambil tasnya, lalu membuka pintu kamarnya.
“Mau ke mana kamu?” tanya Papa yang berdiri di depan pintu kamarnya.
__ADS_1
“Kepo banget sih, terserah gue mau ke mana. Sudah besar ini,” jawab Dinda.
“Papa bicara serius Dinda!” seru Papanya.
Papanya menarik tangan Dinda dan membawanya menuju ruang keluarga, sementara Dinda dipenuhi oleh berbagai perasaan tidak enak. Firasat Dinda mengatakan Angga sudah mengetahui wanita yang berkencan dengannya bukanlah dia.
“Kenapa kamu menyuruh orang lain untuk menggantikan posisimu?” tanya Papa.
“Posisi apa? Perasaan Dinda enggak pernah suruh orang,” jawab Dinda berpura-pura bodoh supaya tidak berantem dengan Papanya.
“Bohong! Kata Wijaya, kamu tidak pergi berkencan dengan Angga. Kamu menyuruh orang lain untuk berkencan, apakah orang itu adalah Rima?” tanya Papanya.
“Iya, kenapa memangnya? Lu mau bilang gue anak yang tidak tahu diri? Asal lu tahu ya, gue enggak akan mau dijodohin,” jawab Dinda.
“Mau atau tidak mau, kamu akan tetap Papa jodohkan dengan laki-laki yang sederajat. Memangnya mau mendapatkan jodoh seperti apa kamu?” tanya Papa.
“Gue cinta sama Erick. Gue cuman mau sama dia,” jawab Dinda.
“Erick Mangaraja? Kakaknya sahabat kamu? Mau makan apa kamu jika menikah dengan dia? Adiknya saja sudah banyak, bisa hidup susah kamu jika menikah dengannya.” Papanya tertawa merendahkan, dia mengetahui kisah hidup Erick yang sangat tragis. Dahulu Erick bekerja sebagai pencabut rumput di rumahnya dan saat beranjak dewasa, Erick sempat bekerja menjadi supirnya hingga akhirnya Erick diterima kerja di perusahaan milik keluarga Manurung.
“Memangnya lu bisa pertahankan rumah tangga lu? Mama saja pergi sama kekasihnya karena dia enggak malas tinggal sama suami kayak lu. Sudah banyak nuntut, suka melakukan KDRT pula.”
Dinda tersenyum merendahkan, Dinda tahu penyebab Mamanya kabur dari rumah. Mamanya tidak tahan dengan laki-laki tua ini, selain suka merendahkan orang lain. Laki-laki tua yang Dinda sebut sebagai Papa juga kerap melakukan tindakan kekerasan.
Plak!
Papanya menampar keras wajah Dinda membuat Dinda terdiam seraya memegangi pipinya yang mengalami luka lebam akibat tamparan dari Papanya.
“Anak kurang ajar! Berani-beraninya kamu berkata seperti itu kepada Papamu sendiri?” tanya Papanya.
“Hanya orang gila yang memaksa anaknya untuk menikah cuman demi mendapatkan kekayaan. Asal lu tahu gue sudah benci banget tinggal di sini,” jawab Dinda.
“Kalau begitu, pergi kamu dari rumah ini! Tinggalkan seluruh fasilitas yang saya berikan!” usir Papanya.
“Oke, gue bakal pergi dari sini dan gue enggak akan kembali ke rumah ini lagi!” seru Dinda.
Dinda membereskan semua barang-barangnya dan mengeluarkan koper untuk membawa barang-barangnya, lalu Dinda keluar dari kamarnya dan hendak pergi meninggalkan iblis jantan itu.
“Mana black card kamu?” tanya Papanya.
__ADS_1
“Untuk apa?” tanya balik Dinda.
“Kembalikan seluruh fasilitas yang telah saya berikan!” tegas Papanya.
“Baiklah.”
Dinda mengeluarkan dompetnya dan melemparkan black card tersebut begitu saja, kemudian Dinda bergegas meninggalkan rumah itu. Dinda sudah benar-benar muak berada di rumahnya dan lebih baik Dinda tinggal sendiri walaupun hidup sederhana.
...********...
Dinda sampai di rumah sakit dan berjalan menuju kamar—tempat Erick dirawat. Dinda ke rumah sakit dalam kondisi menyeret koper besar seperti habis diusir dari kontrakan.
“Rima!” Dinda berlari menghampiri Rima, lalu Dinda mendekap erat tubuh Rima hingga membuat Rima kesulitan bernapas.
“Lu kenapa sih? Datang-datang seperti ini? Mana sambil bawa-bawa koper, kebanjiran rumah lu?” tanya Rima seraya mendorong pelan tubuh Dinda.
“Gue diusir dari rumah,” jawab Dinda.
“Kok bisa? Lu berantem lagi sama Papa lu?” tanya Rima penasaran.
“Ini semua gara-gara Angga! Dia bilang ke Kakeknya terus Kakeknya bilang ke Papa gue,” jawab Dinda.
Dinda menghela napas, lalu duduk di sofa yang berada di ruang rawat inap. Dinda mencoba menenangkan hatinya yang habis terluka karena bertengkar dengan Papanya. Sebenarnya Dinda hanya ingin Papanya berhenti menjodohkannya dan mendukung rasa cintanya kepada Erick.
“Sekarang lu mau tinggal di mana?” tanya Rima dengan perasaan kasihan, Rima mengerti kondisi Dinda dan Rima sebisa mungkin membantu sahabatnya.
“Belum tahu,” jawab Dinda.
Dinda tertunduk lesu dan menyandarkan kepalanya di sofa. Kepala Dinda terasa begitu pusing setelah bertengkar dengan Papanya.
“Daripada sewa, mending lu tinggal di rumah gue saja. Gue sama adik-adik gue cuman tidur bertiga,” saran Rima.
“Nanti Erick gimana?” tanya Dinda.
“Kondisi Kak Erick masih belum pasti tapi siapa tahu kalau lu tinggal di rumah gue, Kak Erick bisa sadar,” ucap Rima.
“Kalau gitu gue mau tinggal di rumah lu. Siapa tahu gue bisa jadi kakak ipar juga,” celetuk Dinda.
“Hmm, semoga Erick cepat sadar supaya jomblo satu ini tidak terus-terusan dipaksa menikah sama Papanya,” doa Rima.
__ADS_1
“Aamiin,” sahut Dinda.
Rima dan Dinda kembali tertawa, keduanya selalu bersama melewati suka maupun duka yang menimpanya. Rima dan Dinda memang berbeda derajat tetapi hal tersebut tidak memengaruhi persahabatan mereka.