
Rima sampai di parkiran kantor. Rima turun dari motor dan berlari memasuki lobby kantor. Rima datang terlambat karena harus pulang ke rumah untuk mandi dan berganti pakaian.
“Kenapa dia?” batin Angga.
Angga memandang Rima dari dalam mobil, kemudian Angga keluar dari mobil dan berjalan memasuki lobby kantor.
Angga mengikuti Rima dari belakang dan Angga melihat Rima berjalan tergesa-gesa menuju lift kantor.
“Argh, gue terlambat!” Rima berteriak histeris seraya melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul 08.00 pagi dan pasti Rima akan dimarahi oleh atasannya.
Rima berdiri di depan lift dan hendak menekan tombol lift. Namun, tiba-tiba ada tangan yang menekan tombol lift lebih dulu dan orang itu berdiri di belakangnya.
“Apa kabar Adinda Kartawiharja?” tanya Angga seraya berbisik di telinga Rima. Spontan Rima menoleh ke sumber suara itu dan matanya terbelalak saat mengetahui Angga berdiri tepat di belakang dirinya.
“Sejak kapan Adinda bekerja di PT Wijaya? Setahuku dia bekerja sebagai Direktur di perusahaan milik keluarganya,” tutur Angga.
Rima terdiam, ia tidak tahu harus menjawab apa bahkan tangannya bergetar dan keringat menetes dari sekujur tubuhnya.
“Aku tidak menyangka ada wanita yang berani mempermainkan diriku apalagi sampai membuatku mengemis di tempat umum,” ucap Angga seraya tersenyum sinis.
Ting!
Pintu lift terbuka, refleks Rima mendorong Angga dan bergegas memasuki lift yang di dalamnya terdapat beberapa pegawai yang tidak terlalu Rima kenal.
“Selamat pagi, Pak Angga,” sapa para pegawai saat melihat Angga.
Angga hanya tersenyum dan memasuki lift khusus untuk petinggi perusahaan. Lift itu tidak boleh digunakan oleh pegawai apalagi pegawai kelas bawah seperti Rima.
Setelah melihat Angga pergi, Rima langsung menghela napas. Rima merasa lega karena Angga tidak berani mengikutinya ketika melihat ada pegawai lain di dalam lift itu.
Rima buru-buru menekan tombol lift dan menuju lantai 2. Rima berusaha mengabaikan kejadian buruk yang dia alami karena tujuan dia datang ke kantor adalah untuk bekerja.
...*******...
Rima sampai di lantai dua. Rima berjalan melewati para pegawai lain yang melontarkan tatapan sinis kepadanya, Rima mencoba tidak peduli dan duduk di kursinya.
“Dari mana lu? Jam segini baru datang, lu pikir lu istri CEO bisa datang seenak jidat.” Keyla mencibir Rima seraya melontarkan tatapan merendahkan kepadanya, sementara Rima hanya tersenyum seringai. Rima tidak mau mencari masalah dengan pegawai di sana karena mereka adalah lulusan sarjana, sedangkan Rima hanya lulusan SMA.
“Rima dipanggil ke ruangan Pak Angga,” teriak Aris dari kejauhan.
“Hah? Untuk apa?” tanya Rima.
“Enggak tahu tapi Pak Angga suruh lu menemui dirinya,” jawab Aris.
__ADS_1
Spontan Rima langsung menghela napas. Sejak awal, Rima sudah punya firasat tidak enak apalagi Angga mengenali wajahnya. Angga pasti akan memanfaatkan hal tersebut untuk menguji kesabarannya.
“Sabar Rima, sabar. Ini ujian,” batin Rima.
Rima kembali berdiri dan berjalan memasuki lift, Rima mengabaikan beberapa tatapan tajam yang tertuju padanya dan menekan tombol lift untuk menuju ruangan Angga.
“Jangan-jangan Rima mau dipecat,” ucap salah satu pegawai memulai gosip.
“Bisa jadi, pekerjaan dia tidak pernah becus.”
“Kita doakan saja supaya dia pecat, biar aku tidak punya saingan di perusahaan ini.” Keyla ikut menimpali perbincangan tersebut.
...*****...
Rima keluar dari lift dan berjalan menuju ruangan Angga. Sesampainya di sana, Rima bertemu dengan wanita cantik yang bertugas sebagai sekretaris Angga.
“Pak Angga ada?” tanya Rima.
“Oh, Mbak Rima ya? Silakan masuk. Pak Angga sudah menunggu di dalam,” jawabnya.
Rima menunduk dan masuk ke dalam ruangan tersebut. Rima melihat Angga tengah duduk di kursi putar dan berbalik badan.
“Selamat pagi, Pak Angga. Ada keperluan apa Bapak memanggil saya ke sini?” tanya Rima berusaha bersikap profesional.
“Tujuan saya memanggil kamu ke sini untuk membicarakan tentang pernikahan kita,” jawab Angga seraya tersenyum manis.
“Saya tidak pernah menandatangani kontrak pernikahan dengan Bapak,” sahut Rima mencoba mengelak.
“Tapi undangan pernikahan kita sudah jadi.”
Angga menunjukkan foto undangan kepada Rima, di undangan itu bertuliskan Rima Aisha Maharani dan Angga Putra Wijaya.
Rima terpaku ketika melihatnya, Rima tidak menyangka jika Angga akan bertindak senekat ini. Rima pikir semua permasalahan sudah selesai kemarin karena Angga sudah menemukan penggantinya, tetapi ternyata wanita yang dimaksud Angga adalah dirinya.
Angga berdiri di hadapan Rima dan memegang kedua tangannya. “Terimalah pernikahan ini, saya berjanji akan memberikan apapun keinginanmu.” Angga mencoba membujuk Rima karena hanya Rima yang cocok menjadi istri kontraknya.
“Saya tidak mau!” tegas Rima.
Rima keluar dan berlari meninggalkan ruangan Angga, sementara Angga langsung mengejar Rima. Angga berlari dengan sangat cepat membuat Rima kewalahan, Rima ingin menaiki lift tetapi pintu lift tidak kunjung terbuka hingga Rima menuruni anak tangga.
“Kamu tidak akan lolos dariku!” teriak Angga.
Angga langsung meloncati pegangan tangga dan mencegat Rima. Rima ingin menerobos Angga, tetapi Angga menggendong dirinya.
__ADS_1
“Lepaskan!” pinta Rima.
Rima berusaha untuk memberontak dan turun dari gendongan Angga. Namun, Angga terlihat biasa saja dan justru menaiki anak tangga seraya menggendong Rima.
Angga membawa Rima kembali ke ruangan kerjanya, kemudian Angga mengunci ruangan itu supaya Rima tidak kabur lagi.
“Buka pintunya!” titah Rima.
“Pintu ini tidak akan terbuka sebelum kamu bersedia menikah denganku,” sahut Angga.
Angga melemparkan surat pernikahan kontrak kepada Rima, kemudian Angga mengeluarkan KTP Rima yang dia temukan sewaktu di restoran.
“Jika masih mau bekerja di perusahaan ini, kamu harus menjadi istri kontrak saya atau jika tidak, kamu akan saya pecat secara tidak hormat!” ancam Angga.
“Saya tetap tidak mau!” tegas Rima.
“Kalau begitu, saya akan menyebarkan KTP kamu ke perusahaan lain dan menyuruh seluruh perusahaan memblack list nama kamu dengan begitu kamu akan menjadi pengangguran seumur hidup.” Angga melontarkan senyuman licik kepada Rima.
Rima terdiam seraya mengepalkan kedua tangan, Rima begitu merasa emosi dengan CEO menyebalkan ini. Angga menggunakan jabatannya untuk mengancam dirinya.
“Coba pikirkan nasib kedua adikmu jika kamu berhenti bekerja. Apa kamu tega membiarkan mereka kelaparan bahkan berhenti sekolah?” tanya Angga seraya berdiri di samping Rima.
“Tahu dari mana kamu?” tanya Rima.
“Bukan urusanmu. Bukankah kakak laki-laki kamu juga sedang koma? Bagaimana nasib dia jika kamu menjadi pengangguran? Apa kamu siap kehilangan dia?” tanya Angga lagi.
Rima kembali terdiam, ia bingung mau menjawab apa karena saat ini dirinya adalah tulang punggung keluarga. Selain membiayai kebutuhan sekolah adiknya, Rima juga harus membayar biaya pengobatan Erick.
“Bagaimana? Apa kamu bersedia?” Angga kembali bertanya.
Rima menghela napas. “Iya, aku bersedia,” jawab Rima.
Rima langsung menandatangani surat kontrak tersebut dan memberikannya kepada Angga, sementara Angga tersenyum padanya dan memberikan KTP itu kepada Rima.
“Terima kasih, aku pastikan kamu akan mendapatkan apapun yang kamu mau.” Angga berjanji pada Rima, sementara Rima melontarkan tatapan datar.
“Tolong buka pintunya,” pinta Rima.
Angga kembali membuka pintu ruangannya dan tanpa basa-basi, Rima langsung keluar dari ruangan dan berjalan menuju lift. Rima
tidak melirik sedikitpun ke arah Angga, sedangkan Angga mengerti perasaan Rima.
Angga tahu Rima terpaksa tapi dia juga tidak punya pilihan lain, selain melakukan ini. Waktunya tidak banyak, Angga harus menikah sebelum Luna datang ke Indonesia atau bisa-bisa Luna menggagalkannya.
__ADS_1