
Angga dan Rima sudah tiba di rumah Rima.
Angga memarkirkan mobilnya, lalu keluar dari dalam mobil. Angga tercengang saat melihat rumah Rima yang hanya sebagian dari halaman di rumahnya, bahkan cat tembok di rumah itupun luntur dan membuatnya terlihat seperti rumah tidak berpenghuni.
“Rumahku jelek banget ya? Sampai kamu tercengang begitu,” ucap Rima membuyarkan lamunan Angga.
“Bagus kok. Lagi pula rumah adalah istana bagi pemiliknya jadi kamu harus bersyukur bagaimanapun bentuknya,” sahut Angga.
“Ayo kita masuk ke dalam. Motornya parkir di samping mobil saja,” ajak Rima.
Rima mengajak Angga dan Galang masuk ke dalam rumahnya. Tidak ada siapapun di sana dan hanya tercium bau gosong dari dapur.
“Siapa yang masak nih?” gumam Rima.
Rima mencari keberadaan adik-adiknya dan tak lama kemudian, adik-adiknya keluar dari dapur bersama Dinda yang membawa telur gosong dan piring untuk makan.
“Lu sudah pulang, kok enggak kedengaran?” tanya Dinda seraya tersenyum. Kedua adik Rima melontarkan senyuman kecut ketika melihat Dinda karena Dinda membuat stok persediaan telur di rumah mereka habis.
“Kak Dinda berkali-kali menggoreng telur dan hasilnya selalu gosong,” ungkap Alisa.
“Eh, ini enggak gosong kok ... Cuman sedikit hitam saja,” elak Dinda.
Dinda menunjukkan telur yang dia goreng kepada Rima, sedangkan Rima hanya menghela napas ketika melihatnya. Telur itu lebih cocok dibilang arang daripada makanan, bahkan rasanya pun pasti sangat pahit.
“Hahaha, telur apaan tuh? Baru tahu gue kalau ada telur kayak begitu.” Galang tertawa terbahak-bahak saat melihat telur hasil masakan Dinda, sedangkan Dinda langsung menginjak kaki Galang dan mendorongnya.
“Berisik lu! Gue cuman nanya ke Rima, bukan ke lu!” tegas Dinda.
Dinda menatap sinis Galang, sedangkan Galang kembali terdiam dan memindahkan pandangannya kepada Angga.
“Sudah, gue bawa makanan. Ayo kita makan,” ajak Rima.
Rima membagikan makanan tersebut dan mereka makan bersama di ruang tamu yang beralaskan semen. Rumah itu sebenarnya mau direnovasi, tapi tidak jadi karena Erick keburu mengalami kecelakaan dahsyat.
“Kenapa lu bisa pulang bareng anak-anak setan ini? Apa mereka macam-macam sama lu?” tanya Dinda seraya menunjuk Angga dan Galang yang duduk bersebelahan.
“Enggak kok tapi gue sudah menandatangani perjanjian kontrak dengan Pak Angga,” jawab Rima membuat Dinda terkejut.
__ADS_1
“Apa? Lu mau jadi istrinya dia? Dia cuman mau main-main, kenapa malah lu terima?” Dinda mencecar beberapa pertanyaan kepada Rima, sedangkan Rima hanya tertunduk dan terdiam. Rima bingung mau menjawab apa sebab Angga berada tepat di hadapannya, tidak mungkin Rima menceritakan tentang ancaman Angga kepada Dinda.
“Gue enggak seburuk itu. Gue masih punya hati,” sahut Angga mencoba membela dirinya dari fitnahan Dinda.
“Lu sadar enggak sih? Lu itu pembawa sial! Lu bikin gue diusir dari rumah dan sekarang lu mau hancurin hidupnya Rima juga? Jangan mentang-mentang lu berasal dari keluarga kaya raya, lu bisa seenaknya menindas orang miskin seperti Rima!” tegas Dinda.
“Tidak boleh seperti itu. Kamu harus minta maaf kepada Pak Angga,” ujar Rima.
“Memang benar, kan? Hanya orang gila yang memaksa seseorang untuk menuruti keinginannya. Lagian Angga mencari istri kontrak karena Natasha meninggal, kan? Kenapa tidak suruh saja Natasha bangkit dari kubur biar pernikahan mereka tetap dilaksanakan dan tidak perlu repot-repot mencari istri kontrak,” ucap Dinda.
“Jaga ucapan lu! Orang yang sudah meninggal tidak mungkin bangkit lagi dan Pak Angga juga tidak mau Natasha meninggal tapi itu takdir yang Allah berikan,” sahut Rima mencoba menasihati Dinda.
“Justru itu seharusnya Angga mencari pacar baru karena orang yang sudah meninggal tidak bisa hidup lagi. Dia pikir dengan menikah kontrak dan memberikan seluruh fasilitas bisa membuat wanita itu bahagia?” tanya Dinda dengan penuh emosi, sedangkan Rima sudah kehabisan kata-kata untuk menjawab pertanyaan Dinda.
“Wanita itu tidak akan bahagia karena dia hanya boneka untuk memuaskan nafsu Angga. Lebih baik Angga beli boneka pemuas hawa nafsu sungguhan dan minta wajah boneka itu dibentuk seperti Natasha,” sambung Dinda.
Dinda melontarkan tatapan sinis kepada Angga, sementara Angga hanya bisa menghela napas dan berdiri tegak.
“Sebaiknya gue pergi. Kedatangan gue bikin suasana panas di rumah ini,” tutur Angga.
Angga melangkah meninggalkan rumah Rima, sementara Galang mengikuti Angga dari belakang. Angga tidak mau ribut apalagi membuat Rima berseteru, niat awalnya hanya untuk mengantar Rima tetapi kedatangannya tidak diterima baik oleh Dinda.
Angga tidak menggubris perkataan Dinda, Angga masuk ke dalam mobil serta diikuti oleh Galang. Mereka sudah biasa mendapat cacian dari orang-orang yang benci dengan keluarganya, bahkan dulu ujaran kebencian yang mereka dapatkan lebih besar.
“Enggak baik menuduh seperti itu. Pak Angga saja masih mencintai Natasha, mana mungkin keluarganya membunuh Natasha?” tanya Rima mencoba menegur Dinda.
“Keluarga Wijaya adalah keluarga paling munafik yang pernah gue temui. Sudah menjadi rahasia umum jika keluarga Wijaya selalu menjadi dalang di balik tragedi mengenaskan yang menimpa keluarga kalangan kelas atas. Mereka siap membunuh orang yang dianggap saingan terberatnya dalam bidang bisnis,” jawab Dinda.
Dinda memandang mobil Angga yang menjauh dari halaman rumah, sementara Rima merasa tidak enak atas ucapan Dinda. Tidak seperti biasanya, Dinda berbicara kelewat batas bahkan menyebut keluarga Wijaya sebagai dalang kematian Natasha.
“Gue kecewa sama lu,” ucap Rima.
Rima melangkah meninggalkan Dinda dan berjalan masuk ke kamarnya, sementara Dinda hanya memandang Rima. Dinda tahu Rima pasti kecewa dengannya tapi dia melakukan itu supaya Rima tidak menjadi korban kekejaman keluarga Wijaya.
“Lu enggak tahu apa-apa tentang kejahatan keluarga Wijaya, Rim. Mungkin terdengar mustahil tapi bisa saja lu yang menjadi target selanjutnya,” batin Dinda.
Dinda kembali masuk ke dalam dan mengunci rapat pintu rumah. Dinda memilih tidur di ruang tamu karena kamar Rima dikunci dari dalam, Rima pasti kecewa dengannya tapi itu demi kebaikan Rima.
__ADS_1
Dinda tidak rela Rima terjebak dalam perangkap keluarga Wijaya. Awalnya, keluarga Wijaya pasti bersikap baik tapi lama-lama sikap baik itu berubah menjadi penderitaan yang bisa membuat luka lama Rima terbuka.
...******...
Rima berada di dalam kamar, Rima enggan membuka pintu sebelum Dinda menyesali perbuatannya. Ucapan yang dilontarkan Dinda sudah kelewat batas dan dia tidak mau berteman dengan orang seperti itu.
“Biarin saja Dinda tidur di ruang tamu, siapa suruh dia bicara seperti itu.” Rima berjalan menuju kasur, kemudian Rima membaringkan tubuhnya di kasur dan memejamkan mata.
Namun, tiba-tiba ponsel Rima berdering dan tampak panggilan telepon dari nomor bertuliskan sampah masyarakat.
“Siapa sih? Malam-malam begini ganggu tidur gue,” gerutu Rima.
Rima meraih ponselnya dan menjawab panggilan telepon tersebut dengan mata yang baru terbuka setengah.
“Halo, siapa nih?” tanya Rima.
“Ini jodoh kamu, Navi Dirgantara.”
Spontan Rima membuka mata. “Ngapain lu telepon gue?”
“Masa telepon pacar sendiri enggak boleh? Aku kan kangen banget sama kamu.”
“Gue bukan pacar lu. Hubungan kita sudah berakhir tiga tahun lalu,” ketus Rima.
“Masa sih? Tapi aku pengin balikan.”
“Gue enggak sudi balikan sama lu! Sampai kapanpun gue bakal selalu ingat ucapan menyakitkan lu ke gue!” tegas Rima.
“Kalau kamu enggak mau balikan, video porno kamu akan aku sebar.”
Rima terperangah tak percaya. “Apa? Sudah sinting otak lu!”
“Aku tunggu besok. Kalau kamu enggak mau menemui aku, aku sebar seluruh aib kamu.”
Belum sempat Rima menjawab, panggilan itu terputus. Rima mematung beberapa saat dan mencoba mencari cara untuk terbebas dari Navi tanpa bertemu dengannya.
“Aku harus bagaimana?” gumam Rima.
__ADS_1
Rima dipenuhi oleh rasa kegelisahan karena Navi adalah lawan yang menakutkan. Navi selalu memberikan ancaman kepadanya dan semua ancaman itu tidak main-main, bahkan gara-gara ulah Navi, Rima dipukul oleh Erick.
“Kenapa dia harus datang saat aku sudah memulai kehidupan baru? Bisa hancur masa depanku gara-gara pria itu,” batin Rima.