Istri Kontrak Pak CEO

Istri Kontrak Pak CEO
Mempercepat Pernikahan


__ADS_3

Angga dan Rima menjadi pusat perhatian lantaran Angga mendekap Rima dengan sangat erat, seperti seorang penjaga yang siap berkorban untuk melindungi putri.


“Pak Angga serius mau menikahi Rima? Aku pikir hanya gurauan saja,” tutur salah satu pegawai kepada pegawai lain.


“Biarkan saja, perusahaan ini miliknya. Terserah dia mau melakukan apa,” jawab pegawai yang enggan memberi komentar.


Samar-samar Rima mendengar obrolan itu dan Rima berusaha melepaskan dekapan Angga. Namun, Angga justru sengaja mempererat dekapannya.


“Kamu harus terbiasa. Ingat, kamu sudah menandatangani kontrak!” seru Angga seraya berbisik di telinga Rima.


Rima melirik Angga dan kembali pasrah menerima dekapan Angga, mustahil bagi Rima untuk melawan perkataan Angga karena dia sudah menandatangani kontrak yang bisa membuatnya terkena denda dan hukuman jika berani melawan Angga.


Angga membawa Rima ke ruangan kerjanya, lalu Angga menutup rapat pintu ruangan dan menguncinya karena Angga ingin bicara berdua dengan Rima mengenai hubungan masa lalu Rima dan Navi yang belum usai.


Bukan tugas Angga untuk ikut campur tapi Rima adalah calon istrinya. Meskipun hanya pernikahan kontrak, pernikahan mereka akan tetap sah secara agama maupun negara.


“Kenapa kamu tidak bicara jujur padaku?” tanya Angga dengan suara meninggi dan sorotan tajam tertuju kepada Rima.


“Maaf, aku tidak mengatakannya karena itu adalah aib bagiku. Aku takut kamu tidak akan menerima masa laluku dan membatalkan perjanjian kita,” tutur Rima dengan suara bergetar dan menunduk ketakutan.


“Kapan kamu melakukannya?” Angga kembali bertanya, tetapi kali ini suara sorotan mata tampak biasa dan suaranya kembali normal.


“Sewaktu SMA tapi aku terpaksa menuruti keinginannya. Saat itu dia datang menjemput aku di sekolah dan aku pikir dia mengantarku pulang tapi dia malah membawaku ke hotel dan memaksaku memenuhi birahinya,” jawab Rima menceritakan kejadian awal dari tindakan pelecehan yang dia alami.

__ADS_1


“Kenapa tidak melapor?” tanya Angga.


“Melapor pada siapa? Aku sudah tidak punya orangtua sepertimu. Kak Erick sibuk mencari nafkah dan dia tidak peduli dengan kondisi mental aku sedikitpun,” jawab Rima.


“Sekarang tidak ada laki-laki yang mau sama aku. Aku wanita kotor, murahan dan tidak pantas hidup!” Rima mencaci dirinya seraya menampar pipinya secara bergantian, Rima menyesali perbuatannya tetapi dia tidak bisa berbuat apa-apa selain membenci dirinya.


Angga menghela napas dan terdiam selama beberapa saat. Angga mengerti kondisi Rima dan Angga tidak bisa menyalahkan Rima seutuhnya karena Rima dijebak oleh laki-laki mesum yang berstatus sebagai mantannya.


”Sudah, tidak perlu dilanjutkan. Aku sudah memutuskan untuk mempercepat pernikahan kita dan selama kita belum menikah, kamu tidak boleh pulang ke rumah!” tegas Angga.


“Tapi aku tidak bisa meninggalkan adik-adikku saat malam hari,” ucap Rima.


“Kamu mau membantahku? Kalau begitu urus masalahmu sendiri. Aku akan membatalkan kontrak kita dan kamu langsung membayar denda 10 kali lipat,” sahut Angga kesal.


“Bawa adik-adikmu ke tempat persembunyian yang sudah aku siapkan,” jawab Angga.


“Baik, kalau begitu aku kembali bekerja. Terima kasih atas pengertiannya, Pak Angga.” Rima tersenyum dan menunduk sebagai rasa hormat kepada Angga, lalu Rima keluar dari ruangan Angga dan berjalan menuju lift.


Angga memandang Rima dari kejauhan, kemudian Angga memindahkan tatapannya pada foto pacarnya yang sudah meninggal tiga tahun lalu. Sama seperti Rima, Angga belum selesai dengan masa lalunya.


Perasaan bersalah atas meninggalnya Natasha selalu mengikuti hidup Angga tetapi Angga berusaha melupakan tragedi itu dan terus berjalan melanjutkan hidup.


“Meskipun aku tidak bisa memberikan hatiku tapi aku bisa menjaganya sampai batas waktu yang telah ditentukan,” ucap Angga.

__ADS_1


...******...


Sore hari tiba.


Rima dan Angga keluar dari kantor dan bergegas menuju rumah keluarga Wijaya. Malam ini Angga akan memperkenalkan Rima dengan keluarganya terutama kakeknya yang sudah lama menyuruh Angga menikah.


“Kamu sudah siap menjawab beberapa pertanyaan yang mungkin ditanyakan oleh keluargaku?” tanya Angga pada Rima.


“Sudah, aku juga sudah latihan. Semoga lidahku tidak belibet saat menjawabnya,” jawab Rima.


Rima menenangkan dirinya dan kembali merias wajah supaya terlihat cantik di mata keluarga Wijaya. Tak hanya itu, Rima sudah mengganti kemeja kerja menjadi dress berwarna merah tua dipadukan hitam.


“Bagaimana reaksi keluarga kamu saat tahu calon istri kamu adalah pegawai sendiri? Sepertinya mereka tidak akan setuju,” ucap Rima mengoleskan bedak di wajahnya.


“Mereka yang memaksaku menikah jadi mereka pasti menerima kamu sebagai menantunya,” sahut Angga.


“Memangnya umur Pak Angga berapa? Sampai dipaksa menikah?” tanya Rima dengan sorotan mata tertuju pada Angga.


“30 tahun,” jawab Angga singkat.


“Tua banget, aku saja baru 20 tahun.” Rima terperangah tak percaya, ia mengira Angga masih seusia kakaknya. Namun ternyata usia Angga jauh lebih tua dari usia kakaknya.


“Santai saja kali, lebih enak sama yang tua. Sudah mapan dan sudah matang batangnya. Sekali tancap bikin menjerit,” tutur Angga seraya tersenyum menggoda.

__ADS_1


Seketika Rima bergidik ngeri, Rima membayangkan nasibnya jika tertancap hewan buas punya Angga. Bisa-bisa dirinya lumpuh selama satu hari.


__ADS_2