Istri Kontrak Pak CEO

Istri Kontrak Pak CEO
Calon Istri


__ADS_3

Rima masuk ke dalam lift dan menekan tombol menuju lantai 2. Sesaat setelah pintu lift tertutup, tubuh Rima ambruk.


Rima terduduk dalam posisi menunduk dan perlahan air mata mengalir membasahi kedua pipinya, Rima hanya terdiam hingga akhirnya Rima berteriak memanggil nama Ibunya.


“Kenapa aku selalu seperti ini? Apakah merebut Ibu dan Ayahku tidak cukup untuk menguji kehidupanku, hah?” tanya Rima seraya meraung dan mengacak rambutnya.


“Aku benci semua orang!” teriak Rima.


Rima memukul dirinya dan menjambak rambutnya, Rima benar-benar depresi dengan kondisinya. Berbagai masalah selalu datang menghantam dirinya dan semua masalah itu belum dapat Rima selesaikan, bahkan Navi masih sering mengancam dirinya.


Menjelang pintu terbuka, Rima kembali berdiri tegak dan menghapus air matanya. Rima tersenyum seperti biasanya, Rima tidak mau rekan-rekan kantornya bertanya-tanya. Rima tahu semua pegawai di kantor itu bermuka dua dan tak ada satupun orang yang dapat Rima percaya, selain dirinya sendiri.


Ting!


Pintu lift terbuka, Rima keluar dari lift dan melangkah menuju tempat duduknya. Rima melewati para pegawai yang melontarkan ekspresi penasaran kepada dirinya, tetapi Rima mengabaikan mereka dan terus berjalan hingga tiba di tempat duduknya.


“Pak Angga bicara apa sama kamu?” tanya Keyla mencoba mencari tahu informasi.


“Apa urusanmu bertanya itu? Kamu bukan siapa-siapa aku jadi aku tidak berhak untuk menceritakannya,” jawab Rima.


Rima duduk di depan komputer, lalu Rima kembali mengerjakan berkas yang belum sempat Rima selesaikan.


“Sombong banget sih lu, pasti Pak Angga mau pecat lu, kan? Tapi lu mohon-mohon untuk tidak dipecat.” Keyla mencibir Rima dan memberikan tatapan rendah padanya.


“Pak Angga bilang dia bakal memecat pegawai yang suka merendahkan orang lain,” jawab Rima.


“Apa? Lu pasti bohong, kan? Mana mungkin Pak Angga bilang seperti itu.” Keyla tidak percaya dengan ucapan Rima dan dia terus melontarkan pertanyaan yang sama membuat emosi Rima memuncak.


“Berisik banget sih lu nenek lampir. Bisa nggak sih? Lu diam, sekali saja. Capek telinga gue dengar suara lu itu,” amuk Rima.


Rima membuang pandangannya dari Keyla dan fokus mengerjakan berkasnya seraya memakai earphone dan mendengarkan musik kesukaannya supaya tidak ada satupun orang yang mengganggu dirinya.


...******...


Pukul 17.00 sore.


Para pegawai sedang bersiap-siap untuk kembali ke rumah. Mereka membereskan barang-barang dan memasukkan beberapa berkas ke dalam lemarinya.


Rima tengah merapikan tasnya dan tanpa Rima sadari, Angga sedang berjalan menghampiri dirinya.


”Selamat sore calon istriku,” sapa Angga sesampainya di hadapan Rima.


Spontan Rima menoleh dan melontarkan tatapan tajam kepada Angga. “Kenapa kamu berbicara seperti itu?” tanya Rima.


“Loh, kamu kan memang calon istriku. Kita sebentar lagi menikah,” jawab Angga.

__ADS_1


Angga berdiri di hadapan Rima dan melontarkan senyuman yang belum pernah Angga tunjukkan sebelumnya. Senyuman itu terlihat begitu indah, bahkan membuat Rima sedikit terpesona ketika melihatnya.


“Calon istriku pasti capek seharian bekerja. Seharusnya kamu bilang ke aku supaya aku tegur atasan kamu,” ujar Angga.


Angga mengelap keringat Rima dan merapikan rambutnya, sementara para pegawai lain langsung menuju meja Rima.


“Pak Angga berpacaran sama Rima?” tanya Keyla seolah tidak percaya melihat kemesraan Angga dengan Rima.


“Iya, dan kami akan menikah.” Angga menjawab pertanyaan itu tanpa beban membuat Rima langsung menginjak kakinya.


“Bapak pasti bercanda, kan? Mana mungkin Bapak mau sama pegawai biasa? Sekalipun mau pasti sama saya, bukan sama Rima.” Keyla berkata dengan penuh kepedean.


“Memangnya saya mau sama kamu? Saya hanya mau sama Rima!” tegas Angga.


Angga mengambil tas Rima dan menggenggam jari-jemarinya. “Ayo kita pergi dari sini. Aku takut, ada kuntilanak lagi birahi.”


Spontan Rima tertawa, lalu Rima berdiri dan membalas genggaman Angga. Rima sengaja ingin memanas-manasi Keyla yang sudah lama selalu mencela dirinya.


Rima dan Angga melangkah meninggalkan lantai dua seraya bergandengan tangan, sedangkan para pegawai di lantai dua itu masih tercengang seraya memandang Rima dan Angga hingga pintu lift tertutup.


“Apa aku sedang bermimpi?” tanya salah satu dari pegawai itu.


“Tidak, itu nyata.”


“Lalu kenapa Pak Angga mau dengan pegawai biasa seperti Rima? Apakah mereka akan benar-benar menikah?” tanya yang lain.


“Kau tahu Pak Angga akan menikah dengan Rima!” ungkap Keyla.


“Oh, aku sudah tahu. Tadi saat membersihkan ruangan Pak Angga, aku mendengar obrolan Pak Angga dengan Pak Galang. Pak Angga mengatakan dia dan Rima akan menikah seminggu lagi,” jawab Aris membuat para pegawai semakin terkejut.


“Apa? Kenapa Pak Angga tidak memilih aku saja? Aku siap melayaninya 24 jam dan aku jauh lebih cantik dari Rima,” protes Keyla.


“Pak Angga bukan tipikal laki-laki seperti itu. Sepertinya Rima dan Pak Angga juga sudah berpacaran lama karena tadi aku tidak sengaja melihat foto Rima terpajang di meja kerjanya Pak Angga,” ungkap Aris.


“Beruntung sekali Rima, sepertinya Pak Angga sangat mencintai dia. Bahkan fotonya pun dipajang di meja kerja,” tutur lainnya.


...******...


Rima dan Angga berada di lobby. Rima melepaskan genggamannya dan berjalan menjauh dari Angga.


“Kenapa dilepaskan? Bukankah kamu menyukai tanganku?” tanya Angga.


Angga mengikuti Rima dari belakang, sementara Rima berhenti di depan pintu dan melontarkan tatapan sinis pada Angga.


“Bisa berhenti ikutin gue enggak sih? Gue risih diikuti terus,” ungkap Rima.

__ADS_1


“Loh, saya ingin bertemu dengan keluargamu. Saya ingin berkenalan adik dan kakakmu,” sahut Angga.


“Enggak boleh! Nanti adik gue bisa kesambet lihat wajah lu,” ketus Rima dan kembali berjalan menuju pintu keluar.


“Kamu sudah menandatangani perjanjian kontrak dan jika kamu melanggar, kamu harus membayar denda 10 kali lipat dari uang yang aku janjikan!” teriak Angga.


Seketika langkah Rima terhenti, Rima menoleh ke Angga dan menghela napasnya. “Cepat ke sini!” panggil Rima.


Angga berlari menghampiri Rima, lalu keduanya berjalan bergandengan seperti yang mereka lakukan sewaktu di lantai dua.


“Gue bawa motor tapi helm cuman satu. Kalau ikut ke rumah gue berarti kita naik mobil tapi motor gue gimana?” tanya Rima.


“Biar Galang yang dia bawa motor kamu dan kita naik mobil,” jawab Angga.


Angga menghubungi Galang dan menyuruh Galang untuk menjemput dirinya, sementara Galang menuruti perintah Angga dan bergegas menuju kantor Wijaya.


“Sebaiknya kita beli makanan dulu untuk adik-adik kamu,” saran Angga.


“Ya sudah, tapi jangan jauh-jauh. Nanti kena tilang,” ujar Rima.


Rima memberikan helm dan kunci motornya kepada Angga, lalu Rima duduk di belakang Angga dan Angga mengendarai motor Rima. Mereka pergi ke rumah makan Padang yang biasa Rima belikan untuk adik-adiknya.


Sesampainya di sana, Angga langsung masuk ke dalam dan memanggil salah satu pelayan untuk memesan makanan.


“Nasinya beli berapa?” tanya Angga.


“Di rumah aku ada 2 adikku, Dinda, dan aku,” jawab Rima.


“Oke berarti beli 6 bungkus karena aku dan Galang juga mau,” ucap Angga.


Rima dan Angga menunggu antrian, tempat ini bukanlah tempat yang asing untuk Angga. Saat Natasha masih ada, Angga dan Natasha sering makan malam di tempat ini sebelum mereka berkeliling melihat keindahan Kota ketika malam Minggu.


“Ini pesanannya Mas Angga,” ucap pelayan itu seraya memberikan kresek besar berisi 6 bungkus nasi Padang yang komplit menunya.


“Kembaliannya ambil saja,” ujar Angga.


Angga memberikan uang tersebut kepada pelayan, lalu Angga dan Rima kembali ke kantor mereka untuk menemui Galang.


“Kok pelayannya bisa tahu nama kamu?” tanya Rima penasaran.


“Aku sering makan di situ,” jawab Angga.


“Sama siapa?” tanya Rima lagi.


“Sama Natasha.”

__ADS_1


Seketika Rima terdiam, Rima tidak mau bertanya karena takut menyinggung perasaan Angga. Rima tahu Angga belum melupakan Natasha hingga saat ini dan jika terus menyebutnya, Angga akan terjebak dalam bayang-bayang Natasha untuk selamanya.


__ADS_2