
Rima dan Dinda berada di dalam mobil, mereka sedang menyusun rencana untuk membuat Angga trauma melakukan kencan dengan Adinda Kartawiharja.
“Bagaimanapun caranya, lu harus bikin Angga kapok kencan sama gue!” seru Dinda.
“Iya, lu tenang saja. Serahkan semuanya kepada Rima Aisha Maharani,” sahut Rima.
Rima keluar dari mobil dan berjalan masuk ke dalam restoran. Rima mencoba terlihat elegan supaya tidak terlihat kampungan di mata pengunjung lain yang rata-rata berasal dari kalangan menengah ke atas.
Rima melangkah mendekati meja yang sudah diberitahu oleh Dinda, dari kejauhan tampak seorang laki-laki menggunakan kemeja putih tengah duduk seraya meminum segelas teh.
“Itu pasti Angga,” batin Rima. Perlahan Rima mendekati laki-laki tersebut, kemudian Rima berdiri di hadapannya.
“Halo ganteng, apa kabar?” sapa Rima dengan senyuman menggoda.
“Kamu—Adinda Kartawiharja?” Angga berbalik bertanya seraya menatap Rima dari ujung kaki hingga kepala.
“Iya dong, kamu masih ingat aku, kan?” tanya Rima dengan suara genit, seperti tante-tante girang yang suka menggoda suami orang.
“Masih, silakan duduk,” titah Angga.
Rima duduk berhadapan dengan Angga dan Rima melontarkan senyuman manis kepada laki-laki itu. Laki-laki di hadapannya memang sangat tampan, bahkan sampai membuat mata Rima berbinar-binar. Angga adalah tipe idamannya, tetapi Angga berbeda kasta dengannya dan tidak mungkin Rima bisa mendapatkan pria seperti Angga.
“Kenapa menatapku seperti itu? Apa ada yang salah dengan wajahku?” Tiba-tiba Angga bertanya membuat jantung Rima berhenti berdetak beberapa saat.
“Aku tuh kagum banget sama ketampanan kamu, kamu mirip sama Oppa-Oppa Korea. Aaa Oppa.” Rima berteriak membuat seluruh pengunjung menatap dirinya, sementara Angga tidak merespon Rima dan Angga menyodorkan menu makanan pada Rima.
“Kamu mau makan apa?” tanya Angga.
“Sebentar ya ganteng, aku pilih dulu.” Rima melihat isi dari menu dan hanya ada satu makanan yang Rima suka yaitu ayam goreng.
“Aku pesan ayam goreng dan jus mangga,” ucap Rima kepada Angga.
“Kenapa tidak pesan sushi? Bukankah Dinda yang aku kenal dulu sangat menyukai sushi?” tanya Angga melontarkan ekspresi curiga, entah mengapa Angga merasa bahwa gadis di hadapannya bukanlah Dinda.
“Se—sejak kapan aku menyukai sushi? Aku tidak pernah suka sushi,” jawab Rima terbata-bata.
“Hmm, benarkah? Mungkin aku salah ingat.” Angga berusaha positif thinking dan percaya dengan jawaban Rima, lalu Angga memanggil salah satu pelayan untuk memesan makanan.
“Sebenarnya apa tujuan kamu mengajakku berkencan? Kita kan terpaut usia cukup jauh, masa kamu mau sama aku?” tanya Rima.
Rima mencoba mencari tahu alasan Angga mengajak Dinda berkencan karena sewaktu di perjalanan menuju restoran, Dinda mengatakan bahwa Angga sudah memiliki kekasih bernama Natasha dan itulah yang membuat Dinda segan menemui Angga.
“Umur hanyalah angka. Cinta tidak memandang usia,” jawab Angga.
Angga menyeruput kopinya dengan santai, sedangkan Rima merasa jengkel saat melihat sikap Angga. Rima berpikir Angga ingin menjadikan Dinda sebagai selingkuhan.
“Tapi kan kamu sudah punya Natasha, kenapa kamu malah berkencan denganku? Apa aku tidak memikirkan perasaan Natasha?” Rima mencecar Angga dengan berbagai pertanyaan, sedangkan Angga terdiam dan melontarkan ekspresi sinis pada Rima.
__ADS_1
“Dia sudah meninggal,” jawab Angga.
“Apa?” Rima terkejut dan tidak percaya mendengar jawaban Angga.
“Natasha sudah meninggal. Aku mengajakmu berkencan karena dipaksa oleh kakekku, kakekku selalu menyuruhku menikah. Tapi aku belum siap untuk mencari pengganti Natasha, aku masih sangat mencintainya dan tujuanku sebenarnya adalah—”
Belum sempat Angga mengungkapkan tujuannya, tiba-tiba beberapa pelayan menghampirinya. Pelayan itu membawa makanan pesanan Angga dan Rima.
“Selamat makan,” ucap ramah pelayan itu.
Pelayan itu meletakkan pesanan Rima dan Angga di meja, kemudian pelayan itu pergi meninggalkan Rima dan Angga.
“Apa tujuan kamu?” tanya Rima.
“Kita makan dulu,” jawab Angga.
Angga berhenti berbicara dan menyantap makanannya, sedangkan Rima terdiam dan melontarkan ekspresi kesal. Rima penasaran dengan tujuan Angga mengajak Dinda berkencan, tapi tiba-tiba Rima teringat jika dirinya harus membuat Angga benci dengan sikapnya dan berhenti mengganggu Dinda.
Rima mengambil garpu dan pisau untuk memotong ayam goreng miliknya, kemudian Rima berpura-pura kesusahan saat memotong ayam goreng tersebut.
“Kok susah dipotong ya?” Rima berusaha mensayat-sayat ayam tersebut, tetapi Rima justru membuat ayam tersebut terpental dari piringnya dan mengenai kemeja Angga.
“Aduh, maaf! Aku enggak sengaja,” ucap Rima. Rima mengambil tisu dan mengelap kemeja Angga, lalu Rima mengambil ayam goreng tersebut menggunakan tangannya.
“Jangan dimakan! Itu susah kotor,” ujar Angga saat Rima hendak memakan ayam tersebut.
Rima tetap menyantap ayam goreng tersebut dan Rima sengaja menunjukkan sisi buruknya pada Angga supaya Angga benci padanya. Rima menyantap ayam itu tanpa pakai pisau atau garpu seperti pengunjung pada umumnya, Rima menyantap ayam itu menggunakan tangan kanannya.
Rima terlihat sangat lahap apalagi ketika dia memakan sambalnya, Rima berkeringat dan mengelapnya langsung menggunakan tangan kiri tanpa memakai tisu.
Angga tercengang saat melihatnya, wanita yang berada di hadapannya tidak seperti Dinda. Baik dari segi makan ataupun berbicara, tetapi wanita ini sangat mirip dengan mendiang kekasihnya.
Bukan pertama kalinya Angga melihat wanita makan seperti itu, Natasha juga memiliki kebiasaan buruk yang sama dengan wanita yang berada di hadapannya.
“Kamu kenapa enggak makan?” Rima bertanya kepada Angga dalam kondisi mulut yang penuh dengan nasi.
“Saat makan tidak boleh berbicara nanti tersedak,” ujar Angga.
Rima mengacungkan jempol seraya tersenyum, lalu Rima kembali fokus menyantap ayam gorengnya hingga sisa tulang. Sementara Angga hanya tersenyum dan mengingat kenangannya sewaktu masih bersama Natasha beberapa tahun silam.
Setelah beberapa menit.
Rima selesai menyantap makanannya, sedangkan Angga masih menatap Rima tanpa berkedip sedikitpun.
“Oh ya, tadi mau bicara apa?” tanya Rima penasaran dengan tujuan Angga.
“Aku enggak mau basa-basi. Aku butuh bantuan kamu, aku capek selalu dipaksa kakek untuk menikah. Jadi, aku mau kamu jadi istri kontrak aku selama 1 tahun.”
__ADS_1
Seketika mata Rima terbelalak, Rima terkejut setengah mati setelah mendengar tujuan Angga dan Rima bingung mau menjawab apa karena dirinya bukanlah Dinda yang asli.
“Ke—kenapa harus menjadi istri kontrak? Gue belum siap menikah dan gue juga belum mau menjadi seorang Ibu,” jawab Rima mencoba berperan sebagai Dinda.
“Ini hanya pernikahan kontrak. Kamu tidak wajib untuk mengandung anakku, lagi pula kita sudah mengenal lama dan kamu juga sudah menganggapku sebagai kakak.” Angga mencoba sedikit memaksa membuat Rima semakin bingung. Rima hanya bertugas menggantikan Dinda berkencan, bukan bertugas menggantikannya di pelaminan.
“Kamu mau membantuku, kan? Aku akan memberikan apapun yang kamu mau,” ucap Angga sembari memohon.
Rima merasa iba kepada Angga, sepertinya Angga benar-benar membutuhkan bantuan Dinda tapi Rima tidak mungkin mengatakan bahwa dirinya bukan Dinda.
“Maaf, gue enggak bisa bantu. Gue mencintai seseorang dan gue enggak mau menikah dengan laki-laki selain dia,” sahut Rima.
Rima mengambil tasnya dan berdiri tegak, kemudian Rima bergegas pergi meninggalkan meja tersebut.
“Tolong bantu gue, gue bakal kasih apa pun yang lu mau!” teriak Angga.
Angga mengejar Rima dan berlari dengan sangat cepat, sementara Rima mencoba kabur dari Angga. Rima berlari sekuat tenaga karena Angga sudah berada sangat dekat dengannya. Namun tiba-tiba kakinya tersandung dan Rima terjatuh hingga isi dalam tasnya berhamburan.
“Argh, kenapa di saat seperti ini aku harus tersandung?” gerutu Rima.
Rima bergegas merapikan tasnya dan melepas sepatunya, Rima kembali berlari sekuat tenaga karena Rima tidak mau Angga mengetahui identitas aslinya.
“Kenapa dia berlari seperti itu? Apakah ada yang dia sembunyikan?” batin Angga.
Angga berhenti mengejar Rima dan memandangnya dari kejauhan. Tanpa sengaja Angga melihat sebuah kartu tergeletak di bawah kakinya, Angga mengambil kartu itu dan mengecek identitas pemiliknya. Kartu itu adalah kartu tanda penduduk milik seorang wanita bernama Rima Aisha Maharani.
“Jangan-jangan wanita tadi bukan Dinda tapi pemilik KTP ini,” gumam Angga.
Angga terdiam sejenak dan berjalan keluar restoran, kemudian Angga menghampiri Galang yang menunggu di parkiran.
“KTP siapa tuh?” tanya Galang sesaat Angga tiba di hadapannya.
“Enggak tahu tapi sepertinya KTP ini milik Dinda palsu,” jawab Angga.
“Hah? Dinda palsu? Maksudnya?” tanya Galang bingung.
“Dinda menyuruh wanita lain menggantikan posisinya berkencan denganku dan wanita itu adalah pemilik KTP ini,” jawab Angga.
Seketika ekspresi wajah Angga berubah menjadi menyeramkan. Angga mengepalkan kedua tangannya, lalu memukul pohon yang berada di samping mobilnya.
“Cari wanita itu dan bawa dia ke hadapan gue!” perintah Angga.
“Baik, Pak.”
Galang membukakan pintu mobil, kemudian Angga masuk dan duduk manis seraya memandang foto KTP tersebut. Angga tidak menyangka ada orang yang berani bermain-main dengannya, bahkan sampai membuatnya memohon-mohon tadi.
“Gue bakal buat lu menyesal karena sudah bermain-main dengan Angga Wijaya!” sumpah Angga di dalam hatinya.
__ADS_1