
“Dinda tolong gue!” Rima berteriak sepanjang perjalanan menuju mobil Dinda yang terparkir cukup jauh dari restoran tersebut.
“Lu kenapa, Rim?” tanya Dinda berlari menghampiri Rima.
“Si Angga minta gw buat jadi istri kontraknya,” jawab Rima dengan napas tersengal-sengal.
Rima berusaha mengatur napas dan mengelap keringat yang bercucuran dari sekujur tubuhnya, sedangkan Dinda membantu Rima membawakan tasnya.
“Bagaimana ceritanya Angga bisa meminta lu jadi istri kontrak?” Dinda kembali bertanya seraya membukakan pintu mobil untuk Rima.
“Gue ceritain nanti, sekarang kita harus pergi dari sini sebelum kepapasan dengan Angga.” Rima bergegas masuk ke dalam, sementara Dinda menuruti kata Rima dan duduk manis di kursi pengemudi.
Dinda mengemudikan mobilnya dalam kecepatan tinggi, sedangkan Rima menundukkan kepala karena takut berpapasan dengan Angga di jalan.
“Kasihan sih tapi gue enggak mau menikah sama Kak Angga. Lagi pula, kenapa Kak Angga enggak buka hati buat wanita lain saja? Kak Natasha juga sudah meninggal. Tidak mungkin Kak Natasha bangkit dari kubur gara-gara Kak Angga menikah dengan wanita lain,” celetuk Dinda.
“Tidak segampang itu melupakan seseorang yang sempat menjadi bagian dari hidup kita. Mungkin Kak Angga sudah pernah mencoba tapi hatinya masih terikat dengan kenangan yang telah dia lalui bersama Natasha.” Rima terdiam sejenak dan memusatkan tatapannya pada pemandangan di luar jendela mobil.
Rima termenung memikirkan kenangan indahnya sewaktu bersama mantan pacarnya sewaktu SMA. Laki-laki itu bernama Navi Dirgantara, dia adalah laki-laki istimewa yang berhasil dicintai hebat oleh Rima.
Rima pernah berbohong kepada keluarganya supaya bisa jalan berdua dengan Navi, bahkan Rima rela tidak bersosialisasi dan hanya berdiam diri saat di sekolah karena Navi selalu menuduhnya berselingkuh dengan salah satu murid laki-laki di sekolah.
Namun, semua perjuangan Rima sia-sia. Navi mengakhiri hubungan mereka pada tanggal 12 Mei 2020, satu hal yang menjadi alasan Navi mengakhiri hubungan yaitu Navi tidak suka berpacaran dengan wanita gemuk dan dia juga sudah lelah menemani proses diet Rima yang tidak kunjung berhasil.
“Kalau boleh jujur, gue juga masih mencintai Navi. Gue sayang banget sama dia meskipun dia sudah berkali-kali melukai hati gue,” ungkap Rima dengan mata berkaca-kaca dan secara perlahan Rima menitikkan air mata hingga membasahi kedua pipinya. Sampai detik ini Rima masih mencintai Navi meskipun Navi telah menggoreskan luka paling hebat seumur hidupnya.
Dinda hanya menghela napas saat mendengar ucapan Rima. Dinda tahu bahwa Rima sangat mencintai Navi dan rela melakukan apa saja demi menjaga kelanggengan hubungannya dengan Navi, tetapi laki-laki itu memang tidak tahu diri. Navi menyia-nyiakan ketulusan sahabatnya demi berpacaran dengan wanita cantik yang ketulusannya tidak seberapa dengan Rima.
__ADS_1
“Berhenti menangisi Navi, dia sudah bahagia dan lu masih berhasil hidup meskipun tanpa dukungan dari dia. Apakah dia berguna dalam hidup lu? Apa dia pernah bantu ekonomi keluarga? Enggak, kan? Terus untuk apa lu menangisi pria tidak berguna?” Dinda mencecar Rima dengan berbagai pertanyaan dan Rima hanya terdiam seraya menatap Dinda dengan air mata yang masih mengalir.
“Berhenti menangis! Laki-laki seperti itu tidak pantas untuk ditangisi!” tegas Dinda.
Dinda menimpuk wajah Rima menggunakan tisu. “Lap air matanya, lu jelek kalau nangis.” Dinda menatap Rima sejenak, kemudian Dinda kembali fokus mengemudi.
Rima hanya tersenyum saat melihat kelakuan sahabatnya, kemudian Rima mengelap air matanya. Rima mencoba melupakan Navi dari pikirannya dan kembali memusatkan topik pembicaraan mengenai ajakan Angga kepada Dinda untuk menikah kontrak.
“Bagaimana tuh? Apa lu bakal menikah kontrak sama Angga?” tanya Rima.
“Enggaklah, kan yang Angga ajak itu lu. Bukan gue jadi lu yang bakal menikah sama dia,” jawab enteng Dinda.
“Sinting! Gue kan cuman menggantikan posisi lu berkencan, masa jadi gue yang kebawa-bawa sama permasalahan lu?” tanya Rima seraya menggerutu.
“Hehehe, gue cuman bercanda kok. Jangan marah ya,” bujuk Dinda.
...----------------...
Angga sampai di kediamannya. Angga keluar dari mobil dan bergegas masuk ke dalam rumah, Angga memperlihatkan raut marah membuat seisi rumahnya keheranan.
“Bagaimana kencannya? Apakah berjalan lancar?” tanya kakek.
Angga mengabaikan pertanyaan dari kakeknya dan berlari menaiki anak tangga, Angga sudah muak dengan permainan kencan yang diciptakan kakeknya.
“Angga kenapa, Lang? Kok wajahnya seperti itu?” tanya Bunda Angga pada Galang.
“Dinda menipu Angga. Dinda menyuruh wanita lain untuk menggantikannya berkencan dengan Angga,” jawab Galang.
__ADS_1
“Apa? Berani sekali dia menipu Angga. Lihat saja akan kakek beritahu Papanya!” tegas kakek yang bernama Wijaya.
Wijaya menelepon Papa Dinda, sedangkan Ibunda Angga pergi ke kamar Angga untuk mengecek kondisinya. Bunda tahu tujuan Angga menemui Dinda adalah untuk meminta bantuan, tetapi tujuan Angga juga salah karena pernikahan bukan itu dipermainkan.
“Angga ...” panggil Bunda.
Bunda masuk ke kamar Angga dan menghampiri Angga yang duduk sembari meratapi foto Natasha.
“Sampai kapan kamu mau seperti ini? Natasha juga pasti sedih karena kamu belum menemukan penggantinya,” ucap Bunda.
Bunda duduk di samping Angga dan ikut menatap foto Natasha yang sudah meninggal tiga tahun lalu. Kepergian Natasha membuat Angga depresi dan sampai saat ini, Angga masih memeluk foto Natasha saat tidur.
“Berhenti menyiksa dirimu sendiri. Natasha sudah tenang,” ujar Bunda menasihati Angga.
“Susah Bunda, Angga masih mencintainya dan sampai kapanpun hati aku cuman milik Natasha!” tegas Angga.
“Itu karena kamu masih menatap fotonya. Semakin kamu memikirkan dia, semakin susah pula kamu melupakannya.” Bunda berdiri di hadapan Angga, kemudian Bunda merampas foto Natasha.
“Bunda, berikan fotonya!” titah Angga.
“Tidak, Bunda tidak akan memberikan foto ini sampai kamu mendapatkan penggantinya!” tegas Bunda.
Bunda langsung berlari meninggalkan Angga, sedangkan Angga tidak berusaha mengejarnya karena ia sudah terlalu lelah. Hari ini Angga mengeluarkan banyak tenaga dan itu gara-gara wanita bernama Rima.
Angga mengambil KTP Rima dan menatapnya dengan ekspresi sinis. “Gue bakal cari lu sampai dapat! Gue pastikan lu yang akan menjadi istri kontrak gue!” pekik Angga seraya menunjuk KTP Rima.
Angga menendang bangku yang berada di kamarnya, kemudian Angga menghempaskan tubuhnya ke kasur dan tertidur. Besok Angga akan menghadiri acara pengangkatannya sebagai CEO di perusahaan keluarganya. Ayahnya akan berpindah tugas jadi Ayahnya menyerahkan jabatannya kepada Angga. Terdengar merepotkan tapi itulah risiko menjadi pewaris tunggal satu-satunya.
__ADS_1