Istri Kontrak Pak CEO

Istri Kontrak Pak CEO
Rima diculik!


__ADS_3

Keesokan harinya.


Rima pergi ke kantor bersama Dinda. Hari ini Angga tidak bisa menjemputnya karena Angga harus menghadiri pertemuan dengan rekan bisnis di luar Kota.


“Hati-hati ya, Rim. Kalau ada apa-apa langsung telepon gue,” tutur Dinda seraya menatap Rima.


“Iya, lu tenang saja.” Rima tersenyum dan melambaikan tangan, lalu Rima keluar dari mobil dan berjalan memasuki kantornya.


Saat berada di dalam kantor, beberapa pegawai melontarkan tatapan sinis pada Rima dan ada juga yang diam-diam membicarakannya. Namun, Rima tidak peduli dan terus melangkah meninggalkan orang-orang yang sedang membicarakannya. Perlahan Rima mulai terbiasa dengan gunjingan yang dia dapatkan dan dia memakluminya karena dia berstatus sebagai calon istri Angga yang menjabat sebagai CEO di sana. Tentu ada sebagian orang yang iri dengannya tetapi ada sebagian orang yang justru mendukung pernikahannya.


**


Rima tiba di lantai dua. Rima bergegas menuju mejanya dan melewati beberapa rekan kerjanya yang terlihat asing semenjak Angga mengakuinya sebagai calon istri.


“Jam segini baru datang? Mentang-mentang calon istri Pak Angga, kau bekerja sesuka hati.” Keyla mencibir Rima dan melontarkan tatapan sinis kepadanya, sementara Rima tidak menjawab dan duduk di kursinya.


“Kau tidak biasanya seperti ini. Ada apa Rima? Apa ada masalah yang terjadi kepadamu?” tanya Bu Maya—senior di kantornya—yang sudah Rima anggap seperti Ibu kandungnya sendiri.


“Aku sudah tidak tinggal di rumahku yang dulu. Pak Angga memberikan vila padaku dan tempatnya cukup jauh dari kantor,” jawab Rima berterus terang.


“Oh, pantas saja kamu selalu telat. Tapi sepertinya hari ini kamu tidak bersama Pak Angga, ke mana dia?” tanya Bu Maya.


“Pak Angga sedang mengadakan pertemuan di luar Kota dan baru pulang besok pagi,” jawab Rima.


“Oh, begitu. Ya sudah lanjutkan pekerjaanmu biar tidak ada pegawai yang mencibir kamu,” ujar Bu Maya.


Rima hanya mengangguk dan tersenyum, lalu Rima membuka komputer dan kembali melanjutkan pekerjaannya. Rima harus menyelesaikan berkas yang diberikan oleh manajer dan berkas itu harus sudah selesai sebelum jam pulang kantor.


***

__ADS_1


Jam 17.00 sore.


Jam kerja telah usai dan pegawai meninggalkan kantor tersebut. Rima turun ke lantai bawah bersama rekan-rekannya dan kali ini mereka terlihat sangat akrab meskipun Keyla masih memberikan sindiran tapi Rima tidak menggubrisnya dan tetap tersenyum di hadapan rekan-rekan kerjanya.


“Kamu pulang sama siapa, Rim?” tanya Bu Maya pada Rima.


“Naik ojek, Bu.”


“Oh, hati-hati ya. Biasanya menjelang pernikahan begini suka didekati bahaya,” ucap Bu Maya memberikan peringatan.


“Iya, Bu. Insyaallah saya dijauhkan dari bahaya-bahaya itu,” sahut Rima.


“Ya sudah, kami pulang duluan ya. Kalau ada apa-apa kabarin saja,” ujar Bu Maya seraya melambaikan tangan.


Bu Maya beserta rekan-rekan kerja yang lain pergi meninggalkan Rima, sementara Rima menunggu ojek pesanannya datang dan terduduk di dekat parkiran.


“Kok lama banget ya?” Rima mencoba menghubungi ojeknya, tetapi tidak ada satupun balasan dari driver ojek yang membuat Rima kesal.


“Loh, Pak Angga ngapain telepon aku?” tanya Rima dengan penuh keheranan.


Rima menjawab panggilan itu dan terdiam beberapa saat sampai dia mendengar suara Angga di ponselnya.


“Kamu sudah pulang?” tanya Angga.


“Sudah tapi aku masih menunggu ojek di parkiran,” jawab Rima.


“Hati-hati di jalan. Jangan sampai kamu bertemu dengan mantanmu!” seru Angga.


“Bapak kok peduli banget sama saya? Jangan-jangan Bapak jatuh cinta sama saya ya?” tanya Rima seraya menggoda.

__ADS_1


“Apaan, jangan kepedean kamu! Saya cuman tidak mau pernikahan kita gagal gara-gara mantan kamu itu,” ketus Angga.


“Masa sih? Kalau jatuh cinta mah bilang saja. Nanti saya diculik orang lain, Bapak menyesal loh.” Rima terus-menerus menggoda Angga. Rima merasa ada yang berbeda dengan sikap Angga dan menurut firasatnya, Angga mulai jatuh hati kepadanya.


“Siapa yang mau culik kamu? Makan kamu banyak yang ada rugi mereka kalau culik kamu,” sahut Angga.


Angga dan Rima saling melontarkan ejekan dan tanpa Rima sadari, ada seseorang yang sedang mengintai dirinya dan orang itu berjalan mendekatinya dengan memakai penutup wajah dan baju serba hitam.


“Hai cantik,” sapa orang itu seraya berdiri di hadapan Rima.


“Siapa kamu?” Rima bertanya dengan ekspresi ketakutan, Rima merasa bahwa orang ini adalah penjahat.


“Kamu harus ikut denganku!” serunya.


Orang tersebut menarik tangan Rima dan hendak membawanya menuju mobil, sedangkan Rima berusaha memberontak seraya berteriak meminta bantuan.


“Lepaskan aku!” Rima berteriak membuat Angga kebingungan. tetapi orang itu justru mendekap Rima dan memukulnya menggunakan balok kayu.


“Rima! Kamu kenapa?” tanya Angga cemas. Belum sempat mendapat jawaban, panggilan telepon itu sudah terputus tiba-tiba. Angga mencoba menghubungi Rima kembali tetapi nomornya tidak dapat dihubungi.


“Apa yang terjadi? Jangan-jangan—”


Angga langsung merapikan barangnya dan bergegas menuju mobil, sementara Galang mencegat Angga karena mereka belum selesai berbicara dengan klien.


“Mau ke mana lu? Rapat kita belum selesai,” ucap Galang mencoba menghalangi Angga.


“Minggir! Rima dalam bahaya!” tegas Angga.


“Tapi ini projek besar! Lu mau mengorbankan projek ini demi Rima?” tanya Galang.

__ADS_1


Tanpa menjawab Angga langsung menepis tangan Galang dan kembali berjalan menuju mobilnya. Angga tidak peduli meskipun Galang meneriaki dirinya.


Angga masuk ke dalam mobil, kemudian Angga menancapkan pegas mobilnya dan melaju dengan kecepatan tinggi.


__ADS_2