
Keesokan harinya.
Rima bersiap-siap untuk berangkat bekerja. Rima berusaha melupakan semua masalah yang dia alami semalam karena dia tidak mau masalah itu menghambat pekerjaannya.
“Gue harus semangat. Gue enggak boleh menyerah gara-gara Navi!” tegas Rima.
Rima mengambil tasnya dan keluar dari kamar. Rima melihat Dinda sedang berdiri di depan pintu dengan wajah sendu dan tidak ada senyuman yang terukir di bibirnya membuat Rima bingung.
“Lu kenapa?” tanya Rima seraya berjalan menghampiri Dinda.
“Rim, maafin gue. Gue khilaf kemarin,” ucap Dinda seraya memohon.
“Enggak papa, gue juga kebawa emosi sampai bikin lu tidur di lantai. Maafin gue ya,” ucap Rima dengan perasaan bersalah.
“Iya, gue yang salah. Sudah menumpang, tidak tahu diri pula. Bagaimana untuk menebus kesalahan gue, gue antar lu ke kantor?” usul Dinda.
“Boleh, jarang-jarang diantar kerja sama anak konglomerat.” Rima meledek Dinda dan membawa embel-embel keluarganya, sedangkan Dinda hanya tertawa saja karena dia adalah anak konglomerat yang terbuang.
“Ayo, kita berangkat.” Dinda mengajak Rima menuju mobil. Namun, tiba-tiba sebuah mobil berhenti tepat di depan rumah Rima. Mobil itu berwarna merah dan terlihat sangat asing untuk Rima maupun Dinda.
“Mobil siapa tuh? Kayaknya mobil Angga enggak begitu deh,” tanya Dinda heran.
“Itu bukan mobil Angga,” jawab Rima.
Rima menatap tajam mobil tersebut dan tidak lama kemudian, pintu mobil itu terbuka. Tampak seorang pria keluar dari mobil itu dan wajahnya tidak asing untuk Rima atau Dinda.
“Navi!” Rima dan Dinda saling melontarkan pandangan, mereka terkejut sekaligus takut saat melihat Navi keluar dari mobil itu.
Navi berjalan menghampiri Rima dan berdiri di hadapannya. “Apa kabar sayang?” sapa Navi seraya tersenyum manis kepada Rima.
Spontan Dinda memundurkan langkah Rima dan berdiri berhadapan dengan Navi. Dinda tidak mau Navi kembali menyakiti Rima dan sebisa mungkin, Dinda akan melindunginya.
“Mau apa lu ke sini?” tanya Dinda seraya melontarkan tatapan tajam.
“Gue mau jemput pacar gue,” jawab Navi.
Navi hendak meraih tangan Rima, tetapi Dinda langsung menepis kasar tangannya. “Jauhi sahabat gue! Sampah kayak lu enggak pantas buat mendapatkan Rima!” seru Dinda.
Dinda mendorong tubuh Navi dan menendang perutnya, sementara Navi hanya terdiam seraya tersenyum licik.
“Kamu ingat ancaman aku semalam? Kamu mau video itu aku sebarkan?” Navi bertanya seraya menatap Rima yang bersembunyi di belakang tubuh Dinda.
“Video apa? Lu pernah melakukan apa sama setan ini?” tanya Dinda kepada Rima.
“Jadi sahabat kamu belum tahu ya?” Navi kembali mendekati Rima dan kali ini Navi menunjukkan video panas yang pernah dia lakukan bersama Rima.
__ADS_1
“Ini pasti editan! Mana mungkin Rima kayak begitu,” ucap Dinda tak percaya.
“Terserah lu mau percaya atau tidak. Itu bukan urusan gue!” seru Navi.
Tanpa aba-aba Navi langsung menarik paksa tangan Rima dan membawanya menuju mobil. Dinda mencoba menolong Rima, tetapi tiba-tiba Navi menendang perut Dinda dan membuat Dinda terpental membentur aspal.
“Dinda!” Rima berteriak histeris kala melihat Dinda terkapar di aspal. Rima berusaha melepaskan diri tapi Navi menarik tubuhnya dan mendekap erat tubuh Rima.
“Jika kamu memberontak, aku juga akan melukai adik-adikmu!” ancam Navi seraya berbisik di telinga Rima.
Seketika Rima terdiam, Rima tidak berani melawan karena takut adik-adiknya menjadi korban. Setelah itu, Navi membawa Rima masuk ke dalam mobil dan Navi bergegas pergi meninggalkan rumah tersebut.
“Gue harus susul mereka,” ucap Dinda.
Dinda berdiri sekuat tenaga, lalu Dinda masuk ke dalam mobil dan mengikuti mobil Navi dari belakang. Dinda tidak mau Navi melakukan tindakan tidak senonoh yang dapat membuat mental Rima semakin tidak karuan.
...*******...
“Kenapa lu datang saat gue sudah memulai lembaran baru?” tanya Rima seraya menatap Navi yang tengah fokus berkendara.
“Gue cinta sama lu dan sampai kapanpun lu bakal tetap milik gue!” seru Navi.
“Lawak, dulu lu tinggalin gue karena gue gendut dan sekarang? Lu kembali disaat gue sudah menemukan pengganti.” Rima berkata dengan suara lirih, dirinya benar-benar emosi dan tanpa sadar air mata mengalir membasahi kedua pipinya.
“Siapa orang yang mau sama lu? Lu saja sudah kotor, sudah enggak suci lagi. Mana mau laki-laki lain sama lu?” Navi bertanya dengan nada merendahkan karena mana mungkin ada laki-laki yang mau dengan wanita sudah ternodai seperti Rima.
****
Rima sudah sampai di depan kantornya. Navi memarkirkan mobilnya, lalu membukakan pintu untuk Rima.
“Silakan turun pacarku,” tutur Navi.
Rima mendorong Navi, kemudian Rima keluar dari mobil dan melangkah menuju kantornya. Sedangkan Navi langsung mencengkeram tangan Rima dan menahan langkahnya.
“Cium dulu dong. Aku kan calon suami kamu,” ucap Navi hendak mencium Rima.
“Menjauh dari gue!” Rima mendorong wajah Navi seraya berteriak, sedangkan Navi semakin berusaha untuk mencium bibir Rima.
“Hentikan!” Angga turun dari mobil dan berjalan menghampiri Rima, tanpa aba-aba Angga langsung menendang Navi dan mendekap erat tubuh Rima.
“Siapa lu? Kenapa lu berani ikut campur sama urusan gue?” tanya Navi menunjuk Angga.
“Seharusnya saya yang bertanya. Siapa kamu? Kenapa kamu mengganggu calon istri saya?” Angga berbalik bertanya.
“Gue pacarnya Rima,” jawab Navi.
__ADS_1
“Benarkah pria jelek ini adalah pacarmu?” Angga bertanya seraya menatap Rima.
“Tidak, kami sudah putus sejak tiga lalu!” jawab Rima dengan tegas.
“Oh, ngaku-ngaku. Lu enggak laku ya? Kasihan banget.” Angga mengejek Navi serta menertawainya, sementara Rima berusaha menahan tawa karena dia takut Angga kalah dengan mantan kekasihnya yang gila ini.
“Sombong banget. Meskipun gue enggak laku, gue sudah pernah cicipi tubuhnya Rima. Sedangkan lu? Lu dapat apa nanti? Dapat barang rongsok saja bangga,” ucap Navi.
“Apa maksud lu?” tanya Angga.
“Kasihan banget belum tahu. Kalau gue kasih tahu kayaknya pernikahan lu bakal batal. Apa lu siap rugi?” Navi berbalik bertanya.
“Enggak usah basa-basi! Cepat kasih tahu!” seru Angga penasaran.
Navi membuka ponselnya dan menunjukkan video panasnya dengan Rima, sementara Angga langsung terdiam dan menonton video itu selama beberapa saat.
“Bagaimana? Bergairah bukan? Wanita yang mau lu nikahi ini barang bekas. Tidak ada tempat untuk wanita kotor seperti itu jadi batalkan saja pernikahan kalian.” Navi mencoba menghasut Angga. Namun, Angga justru merampas ponsel Navi dan membantingnya hingga hancur berserakan.
“Mau dapat baru ataupun bekas, gue enggak peduli. Kalau gue cinta sama dia, gue akan tetap menikahinya. Itulah prinsip yang gue pegang!” tegas Angga.
Angga memindahkan pandangannya pada Galang, kemudian Galang berjalan mendekati Angga dan berdiri di sampingnya.
“Lu urus orang gila ini,” titah Angga.
“Baik,” sahut Galang.
Angga membawa Rima masuk ke kantor, sementara Galang menangkap Navi dan mengusirnya secara kasar. Galang menginjak kaki Navi dan memukul wajahnya hingga meninggalkan luka lebam di pipinya.
“Pergi dari sini atau gue tabrak pakai mobil sampai mati?” ancam Galang.
Navi hanya terdiam seraya mengepalkan tangan, lalu Navi berdiri sekuat tenaga dan memilih masuk ke dalam mobilnya.
“Lihat saja, gue bakal kembali!” sumpah Navi.
Navi pergi meninggalkan perusahaan itu, sementara Galang langsung membuang napas lega setelah melihat Navi pergi. Sebenarnya Galang tidak ingin melukai Navi, dia harus menuruti perintah Angga.
Angga adalah cucu kesayangan kakeknya. Lagi pula, Galang hanya anak yatim-piatu yang derajatnya tidak sebanding dengan Angga dan selama ini keluarga Angga selalu merawatnya bahkan menganggap Galang sebagai anak kandung mereka.
“Lang, Rima mana?” tanya Dinda seraya berlari menghampiri Galang.
“Lu ngapain di sini?” Galang balik bertanya ketika melihat kedatangan Dinda.
“Gue mengejar Rima tapi enggak keburu. Rima ada di dalam?” jawab Dinda dengan penuh kecemasan.
“Rima sudah aman. Lu pergi kerja saja sana,” suruh Galang.
__ADS_1
“Oke, terima kasih ganteng. Byee,” Dinda melambaikan tangannya dan kembali berlari menuju mobil, sedangkan Galang hanya tersenyum dan berjalan masuk ke kantor.