
Mobil Angga berhenti di pekarangan rumah mewah yang dihiasi oleh lampu kelap-kelip dan bunga-bunga cantik di sekitarnya.
Angga keluar mobil dan membukakan pintu untuk Rima, kemudian Angga mengulurkan tangan dan meraih tangan Rima.
“Kita harus terlihat mesra di hadapan keluargaku,” tutur Angga.
Rima hanya mengangguk menuruti perkataan Angga. Rima dan Angga berjalan menuju pintu masuk kediaman keluarga Wijaya sembari bergandengan tangan supaya pelayan yang menyambut kedatangan mereka di pintu utama tidak merasa curiga.
“Selamat datang, Tuan Angga.” Para pelayan menyambut kedatangan Angga, dan Angga hanya membalasnya dengan senyuman.
Angga kembali melangkah dan masuk ke dalam rumahnya. Angga membawa Rima menuju halaman belakang rumahnya, sedangkan Rima terkejut kala melihat bagian dalam dari rumah keluarga Wijaya. Banyak barang-barang mewah dan antik terpajang di sana serta desain tangga unik yang membuat rumah itu semakin terlihat berbeda dari rumah-rumah orang kaya pada umumnya.
“Pak, kalau boleh tahu ... Harga rumah ini berapa? Pasti di atas 10 milliar ya.” Rima berbisik di telinga Angga, sedangkan Angga hanya tersenyum karena Angga tidak tahu berapa harga pasti dari rumah ini tapi rumah ini sudah ada sejak 100 tahun lalu.
***
Angga dan Rima tiba di halaman belakang. Ada beberapa orang sedang terduduk di meja makan dengan pandangan tertuju pada Rima, orang-orang itu adalah keluarga Wijaya yang memang menunggu kedatangan mereka.
“Selamat malam, kakek.” Angga menyapa kakeknya seraya menunduk hormat, tetapi kakeknya hanya terdiam dan melontarkan tatapan kebencian kepada Rima.
“Bukankah dia adalah pegawai di perusahaan kita?” tanya Rangga mengenali wajah Rima.
“Iya, dan dia adalah calon istriku.” Angga menggenggam tangan Rima dan membawa Rima menghampiri keluarganya, sedangkan Rima tidak berani berkata apapun, selain menunduk dan menutupi rasa takutnya.
Tiba-tiba seorang wanita cantik berdiri di hadapan Rima, wanita itu adalah Ibunda Angga sekaligus menantu satu-satunya di keluarga Wijaya. Keluarga Wijaya hanya memiliki dua anak yaitu Ayahnya Angga dan Ibunya Galang, tetapi kedua orangtua Galang sudah meninggal dan sejak kecil Galang diasuh oleh Paman dan Tantenya.
“Saya adalah Ibunda Angga, nama saya—Fiona Vidyanata—senang bisa mengenal calon istri dari putraku.” Fiona tersenyum memandang Rima tetapi Rima terdiam saja.
“Ayo, duduk. Tidak perlu sungkan,” tutur Fiona menyambut baik kedatangan Rima yang berstatus sebagai calon menantunya.
__ADS_1
Rima tersenyum dan hendak duduk di samping Angga. Namun, tiba-tiba kakek Wijaya berdiri dan menggebrak meja.
“Berhenti! Kau tidak pantas duduk di sini. Kursi ini hanya untuk wanita yang sederajat dengan cucuku!” Kakek berkata seraya menunjuk Rima.
Kakek Wijaya berjalan menghampiri Rima dan tiba-tiba Kakek Wijaya melempar sampah ke wajah Rima dan menyiram pakaian Rima menggunakan sirupnya.
“Kamu cuman perempuan miskin yang tidak pantas untuk cucuku! Kakek sudah menjodohkan kamu dengan Luna tapi kenapa kamu lebih memilih perempuan miskin ini?” tanya Wijaya kepada Angga.
“Itu hak Angga! Angga sudah setuju untuk menikah tapi dengan pilihan Angga sendiri,” jawab Angga dengan suara meninggi.
“Apa yang bisa kau andalkan darinya? Dia hanya perempuan miskin yang tidak berpendidikan. Jika kamu menikahinya, maka kamu akan mendapatkan pewaris bodoh seperti Ibunya!” hardik Wijaya seraya mencengkeram pergelangan tangan Rima.
Rima mengepalkan kedua tangan, kemudian Rima menatap Angga dengan penuh emosi. Rima sakit hati bercampur kecewa sehingga kedua matanya berkaca-kaca seperti ingin menitikkan air mata.
“Saya memang miskin, tapi saya tidak bodoh seperti yang Anda katakan. Meskipun pendidikan saya hanya SMA tapi kemampuan saya bisa diandalkan,” tutur Rima.
“Rima!” Angga berlari mengejar Rima. Angga merasa bersalah atas perlakuan kakeknya, Angga tidak tahu kakeknya akan bertindak seburuk ini di hadapan Rima.
“Maafkan perbuatan kakek saya, Rima!” Angga berusaha meminta maaf kepada Rima, tapi Rima mengabaikannya dan terus berlari hingga keluar gerbang.
Tanpa Rima sadari, ada sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi dan mobil itu hendak menabrak dirinya.
“Awas!” Angga langsung berlari dan menarik tangan Rima, kemudian Angga mendekap Rima dan menyelamatkannya dari bahaya.
“Kamu baik-baik saja?” tanya Angga dengan ekspresi begitu cemas.
“Iya,” jawab Rima gugup.
Rima tidak menyangka Angga akan menyelamatkan dirinya, selama ini Rima berpikir Angga hanya pria egois yang memikirkan keperluannya sendiri. Namun, ternyata Angga peduli padanya.
__ADS_1
“Tolong maafkan perkataan kakekku. Jangan diambil hati ucapannya,” tutur Angga seraya menggenggam jari-jemari Rima.
“Kakek Wijaya tidak bersalah, semua ucapan dia benar. Aku tidak pantas untukmu dan sebaiknya kamu terima perjodohanmu dengan Luna itu,” ujar Rima.
“Tidak mau!” seru Angga.
“Kenapa?” tanya Rima heran.
“Aku maunya dirimu,” jawab Angga.
Tiba-tiba Angga memeluk Rima dan mengusap rambutnya. Angga memeluk Rima begitu erat sehingga Rima dapat merasakan jantungnya berdetak lebih kencang.
“Apakah aku mencintai Pak Angga?” Rima bertanya seraya mendengarkan detak jantungnya. “Aku tidak boleh jatuh cinta kepada Pak Angga dan sampai kapanpun, hubunganku dengan Pak Angga hanya sebatas hubungan kontrak!”
Rima mencoba memberikan peringatan kepada dirinya agar tidak jatuh cinta kepada Angga karena mereka berbeda dan tidak mungkin bersama. Selain itu, hidupnya sudah terlalu rumit untuk persoalan cinta dan Rima tidak mau patah hati seperti dulu.
Rima melepaskan pelukannya dan menjauh sedikit dengan Angga, lalu Rima menghapus air matanya dan kembali tersenyum.
“Aku mau pulang,” tutur Rima.
“Biar saya antar,” ujar Angga.
Angga membawa Rima menuju mobilnya, kemudian mereka masuk ke mobil dan bergegas meninggalkan rumah tersebut.
Tanpa disadari, ada sebuah mobil mengikuti mobil Angga dari belakang. Mobil tersebut adalah milik Navi yang sengaja memantau Rima dan Angga untuk mencari informasi tentang hubungan mereka berdua.
“Jadi, calon suami Rima adalah pewaris dari keluarga Wijaya? Keren sekali Rima bisa mendapatkan laki-laki yang jauh lebih kaya dariku. Tapi aku pastikan hubungan mereka akan berakhir mengenaskan!” seru Navi.
Navi langsung tersenyum licik, ia sudah mempunyai rencana jahat untuk menghancurkan hubungan Rima dan ia yakin Angga pasti akan meninggalkan Rima serta membatalkan pernikahan mereka.
__ADS_1