
Rima berjalan menuju rumahnya yang berada cukup jauh dari jalan raya. Rima berjalan seraya membawa makanan untuk dia, kedua adiknya dan Dinda.
“Pak Angga sudah boleh pulang?” tanya Rima terkejut saat melihat Angga berdiri di hadapannya dengan raut datar.
“Maafkan saya, Rima. Saya tidak sengaja membentak kamu,” jawab Angga dengan perasaan bersalah.
Angga meraih tangan Rima dan menggenggam jari-jemarinya. Angga menatap nanar Rima, kemudian Angga bertekuk lutut di hadapan Rima.
“Saya tahu saya bersalah tapi saya mohon jangan batalkan kontrak kita,” ucap Angga seraya memohon kepada Rima.
“Saya enggak mungkin membatalkan kontrak dengan Pak Angga. Lagi pula, saya tidak marah dan saya memaklumi kenapa Bapak bersikap seperti itu kepada saya.” Rima tersenyum memandang Angga.
“Terima kasih atas pengertian kamu,” ucap Angga membalas senyuman Rima dan kembali berdiri tegak, lalu Angga memeluk Rima dengan begitu erat.
Rima terdiam dan mendengarkan detak jantung Angga. Rima merasa hangat ketika dipeluk oleh Angga dan pelukan itu terasa begitu tulus di lubuk hatinya.
Tiba-tiba Angga melepaskan pelukannya dan kembali menatap Rima. “Oh iya, saya ingin mengajak kamu berbelanja untuk membeli gaun dan cincin pernikahan,” ungkap Angga.
“Kapan, Pak?” tanya Rima.
“Sekarang,” jawab Angga.
__ADS_1
Angga langsung menarik tangan Rima dan membawanya menuju mobil, lalu Angga memaksa Rima masuk ke dalam dan duduk di kursi belakang bersama dirinya.
“Siapa yang mengemudi?” tanya Rima.
“Galang,” jawab Angga.
Galang langsung melontarkan tatapan sinis kepada Rima dan Angga, lalu Galang masuk ke mobil dan mengemudikan mobilnya.
Angga berniat membawa Rima ke toko perhiasan milik keluarganya dan Angga juga ingin mempercantik Rima supaya tidak ada orang yang menghinanya lagi.
******
Rima dan Angga tiba di depan toko perhiasan. Mereka keluar dari mobil dan berjalan memasuki toko perhiasan seraya bergandengan tangan.
“Selamat datang, Pak Angga. Ada yang bisa kami bantu?” tanya karyawan dengan penuh hormat.
“Saya ingin membeli cincin untuk pernikahan saya,” jawab Angga.
“Oh, ayo silakan ke sini, Pak.” Karyawan itu mengajak Angga dan Rima untuk mengikutinya, kemudian Rima dan Angga berjalan menyusuri toko perhiasan tersebut dan berhenti di satu titik.
“Ini adalah cincin terbaik dan sepertinya cincin ini sangat cocok dipakai oleh calon istri Pak Angga,” ucap karyawan tersebut seraya menyerahkan kotak berisi cincin berlian kepada Angga.
__ADS_1
Angga mengambil cincin tersebut dan memakaikannya di jari manis Rima. Seketika Rima langsung mematung memandang cincin berlian asli berharga ratusan juta terpasang di jari manisnya.
“Kamu suka atau tidak?” tanya Angga.
“Suka tapi ini terlalu mahal untuk saya,” jawab Rima seraya berbisik.
“Hmm, baiklah. Saya ambil cincin ini,” jawab Angga membuat Rima tercengang.
Angga mengambil cincin itu dan membawa Rima pergi dari toko perhiasan. Sementara Rima hanya terdiam lantaran terkejut dengan keputusan Angga, Rima membayangkan menjadi bahan gosip di kantornya karena memakai cincin seharga ratusan juta.
“Kamu kenapa? Sejak tadi diam saja,” ucap Angga dengan penuh heran.
“Pak, kenapa Bapak ambil cincin ini? Cincin ini mahal banget harganya. Bisa-bisa saja menjadi bahan gosip lagi,” tutur Rima.
“Jangan terlalu memikirkan ucapan orang karena hidup kamu tidak akan bahagia jika mengikuti ucapan orang lain,” sahut Angga.
Angga berhenti dan memandang Rima, lalu Angga memegang kedua pipi Rima. “Pikirkan kebahagiaan kamu sendiri. Selama ini mereka tidak pernah membantumu, kan? Jadi untuk apa kamu memikirkan ucapan mereka? Biarkan saja mereka iri. Toh bukan mereka yang membayar cincin itu,” ucap Angga.
Rima terdiam memandang Angga, Rima memikirkan ucapan Angga yang ada benarnya. Selama ini pegawai di PT. Wijaya selalu memandang rendah dirinya karena dia hanya lulusan SMA dan berusia paling muda.
“Bapak benar, selama ini saya selalu diam ketika direndahkan dan sekarang saatnya bagi saya untuk membalas mereka semua.” Rima mengepalkan tangan dan tersenyum memandang Angga, ia tidak peduli dengan gosip di kantornya dan merasa sangat bahagia bisa memakai cincin semahal itu.
__ADS_1
“Sekarang saatnya kamu bersinar dan membuat pegawai lain segan kepadamu,” ucap Angga seraya menepuk kepala Rima.
Angga menggenggam tangan Rima dan kembali memasuki mobil. Mereka bergegas menuju butik untuk memilih gaun pengantin serta jas yang akan Angga gunakan.