
Angga keluar dari lift dan bergegas menuju kamar apartemen pelaku penculikan Rima yang sepertinya sudah Angga ketahui orangnya.
“Keluar lu!” Angga berteriak seraya menggedor-gedor pintu apartemen. Namun, tidak ada satupun jawaban tapi samar-samar Angga mendengar suara jeritan wanita dari dalam.
Tanpa banyak ba-bi-bu, Angga langsung mendobrak pintu apartemen dengan satu tendangan. Lalu Angga bergegas masuk ke dalam dan mencari sumber suara tersebut.
“Suaranya dari dalam kamar ini.” Angga berdiri di depan kamar itu, lalu Angga mendobrak pintu tersebut dengan sekali tendangan.
“Rima!” Angga terkejut setengah mati saat melihat Rima sedang melakukan hubungan suami-istri dengan Navi.
Angga berlari menghampiri Navi dan menarik paksa tubuhnya, kemudian Angga menyeret Navi hingga keluar.
Navi berusaha untuk memberontak tetapi tenaganya tidak mampu mengalahkan emosi Angga.
“Laki-laki bajingan! Perusak anak orang, kau pantas mati!” seru Angga dengan rahang yang mengeras.
Angga mencengkeram dagu Navi, lalu Angga menendang wajah Navi dan membuatnya terkapar di lantai. Namun, Angga belum merasa puas. Angga kembali mencekik Navi dan memukulnya secara membabi buta.
“Lu harus mati!” teriak Angga.
__ADS_1
Angga mengambil sebuah balok besar, lalu Angga hendak memukul Navi menggunakan balok tersebut.
“Cukup Pak Angga! Bapak jangan menjadi pembunuh demi saya!” ujar Rima menghampiri Angga.
Rima memeluk erat tubuh Angga dari belakang, kemudian Rima bersandar di punggung Angga.
“Maafkan aku, Pak.” Rima terisak, dirinya benar-benar merasa bersalah karena kembali gagal menjaga dirinya dan membuat Angga terlibat dalam pertarungan melawan Navi.
“Ini bukan salahmu. Ini semua salah laki-laki itu!” seru Angga menunjuk Navi yang terkapar di lantai dalam posisi terluka cukup parah.
“Tapi gara-gara saya, Pak Angga jadi terlibat dalam permasalahan ini.” Rima berkata dengan sesegukan, air matanya semakin mengalir deras hingga mengenai jas Angga.
Angga mengelap air mata Rima dan tersenyum padanya. Angga merasa lega karena berhasil menemukan Rima meskipun dia harus bertarung dengan pria sakit jiwa—Navi.
Tiba-tiba Navi kembali berdiri dan mengambil balok berukuran dan melayangkannya menuju Angga.
“Pak Angga awas!” seru Rima.
Belum sempat Angga menghindar, sebuah balok berukuran besar memukul Angga dan mengenai punggung serta lehernya. Seketika Angga tidak sadarkan diri dan terjatuh di pelukan Rima.
__ADS_1
“Bangun Pak Angga!” Rima menepuk-nepuk pipi Angga dan berusaha menyadarkannya.
“Apa mau lu, hah? Kenapa lu melukai Pak Angga?” Rima berteriak dengan mata berkaca-kaca.
“Siapa suruh dia ikut campur dengan urusan kita,” jawab Navi tanpa merasa bersalah.
Perlahan Navi berjalan mendekati Rima dan tersenyum licik padanya. “Kamu akan tetap menjadi milikku. Tidak ada pria lain yang bisa memiliki dirimu!” seru Navi.
Navi mencengkeram tangan Rima dan hendak menariknya paksa. Namun, tiba-tiba Galang datang dan menendang Navi dari belakang.
Sontak Navi terpental dan membentur tembok apartemen. Navi kembali terkapar dan kali ini kondisi tubuhnya benar-benar mengenaskan.
“Siapa lu?” tanya Navi seraya menahan rasa sakit di sekujur tubuh.
Galang hanya terdiam dan berjalan melewati Navi, lalu Galang berdiri di samping Rima dan membantu Rima memapah tubuh Angga.
“Cepat kita bawa Angga ke rumah sakit,” ucap Galang kepada Rima.
“Iya,” sahut Rima.
__ADS_1
Rima dan Galang bergegas keluar apartemen itu dan membawa Angga menuju rumah sakit terdekat. Mereka takut Angga mengalami luka dalam akibat pukulan balok tersebut.