
Angga melacak keberadaan Rima melalui ponsel pintarnya, Angga melihat pelaku itu membawa Rima ke apartemen yang terletak di kawasan Jakarta Pusat yang berada tidak jauh dengan lokasinya saat ini.
“Mau ngapain dia ke sana? Jangan-jangan orang yang menculik Rima adalah mantan pacarnya?” gumam Angga.
Angga mencengkeram setir mobilnya dan semakin mempercepat laju mobil. Perasaan Angga tidak tenang, bahkan pikirannya pun semakin tidak karuan. Angga takut laki-laki gila itu mencelakakan Rima atau memaksa Rima untuk berhubungan suami-istri.
“Gua enggak akan ampuni lu!” sumpah Angga dengan rahang yang mengeras.
***
“Siapa lu? Kenapa lu culik gue?” tanya Rima kepada penculik yang menggendongnya, tetapi penculik itu diam saja dan membawa Rima ke kamar apartemennya.
“Lepasin gue! Gue enggak mau di sini!” Rima berteriak sembari berusaha memberontak, Rima loncat dari gendongan penculik dan hendak kabur dari tempat tersebut.
“Jangan berisik sayang, nanti orang-orang dengar.” Penculik itu menarik tangan Rima dan menyeret paksa tubuhnya menuju kasur yang sudah ditaburi oleh bunga mawar.
Sesampainya di depan kasur, penculik itu membanting tubuh Rima ke kasur kemudian dia mengikat kedua kaki dan tangan Rima supaya Rima tidak bisa melarikan diri lagi.
__ADS_1
“Apa mau lu? Kenapa lu sampai bertindak kasar kayak gini sama gue?” Rima kembali bertanya dan kali ini Rima menatap mata penculik itu yang terdiam memandangnya.
“Gue enggak rela lu dinikahi sama pria lain. Gue masih cinta sama lu dan sampai kapanpun lu akan tetap jadi milik gue!” jawab penculik itu dengan suara meninggi.
Penculik itu membuka penutup wajahnya dan terlihat wajah dari penculik tersebut yang ternyata adalah mantan kekasihnya—Navi.
“Apakah kita tidak bisa memulai hubungan ini dari awal? Aku berjanji akan memperbaiki sikapku,” tutur Navi.
“Tidak bisa! Aku sudah terlanjur bersama Pak Angga dan aku tidak mau mengecewakan dia,” sahut Rima berusaha menolak.
“Kamu yakin mau menikah sama dia? Setahuku dia belum move-on dari masa lalunya, seperti yang kita ketahui. Seseorang yang terjebak dalam bayang-bayang masa lalu, tidak bisa mencintai orang lain.”
“Kamu yakin mau menikah dengan laki-laki seperti itu? Jika kamu tidak yakin, batalkan saja. Aku akan mengganti semua dana yang sudah dikeluarkan Angga untuk persiapan pernikahan kalian,” ucap Navi.
“Aku tidak akan membatalkan pernikahan aku dengan Angga. Aku mencintai Angga dan sampai kapanpun aku akan mempertahankan hubungan kami!” tegas Rima.
Rima menatap Navi dengan tatapan tajam dan tangan yang mengepal. Pilihan Rima sudah bulat, Rima tetap mempertahankan hubungannya meskipun mustahil baginya menggantikan posisi Natasha di hati Angga. Namun, setidaknya Rima sudah merasakan menjadi istri Angga walaupun hanya berlangsung selama satu tahun.
__ADS_1
“Jadi kamu lebih memilih Angga? Baiklah, aku akan merebut kamu secara paksa!”
Navi langsung menaiki kasur dan mendekati tubuh Rima. Navi meraba-raba tubuh Rima dan hendak membuka pakaian Rima.
“Mau apa kamu? Minggir!” Rima mencoba mendorong Navi menggunakan kakinya, tetapi Navi menekan Rima menggunakan tubuhnya dan mencengkeram tangannya.
“Sudah lama kita enggak main seperti ini. Kamu mau langsung atau pemanasan dulu?” tanya Navi seraya berbisik.
“Enggak! Gue enggak mau! Angga tolong!” Rima berteriak memanggil nama Angga, Rima berharap Angga datang menolongnya sebelum laki-laki gila ini menyentuhnya.
“Enggak ada yang bisa menolong kamu termasuk calon suamimu itu,” sahut Navi.
Navi tersenyum licik dan tanpa aba-aba Navi langsung membuka celana Rima, kemudian Navi memasukkan ke lubang sempit dan membuat Rima menjerit kesakitan.
Seketika Rima meremas sprei dan menutup mata. Rima tidak mau melihat wajah Navi yang tengah menikmati tubuhnya. Rima berusaha menahan erangan dan terus memanggil nama Angga.
“Berhenti memanggil Angga dan mulai fokus pada permainan kita!” seru Navi murka.
__ADS_1
Navi mempercepat tempo permainannya dan memasukkan burungnya lebih dalam supaya Rima semakin kesakitan dan berhenti menyebut Angga. Namun, Rima sekuat tenaga tidak mengeluarkan suara erangan dan menahan rasa sakit bercampur perih.
“Angga, Angga, Angga ...” Rima menyebut nama Angga seraya menitikkan air mata. Rima tidak mampu melawan tetapi Rima juga tidak mau menikmati permainan, Rima berharap Angga datang menolongnya dan menghentikan tindakan bejat Navi.