
Rima duduk di samping Angga, Rima memandang lekat wajah Angga dan menunggu Angga sadar dari pingsan.
“Pak Angga terluka karena gw,” ucap Rima merasa bersalah atas hal yang terjadi kepada Angga.
“Lu suka sama Angga?” tanya Galang seraya menatap sinis Rima.
“Enggak,” jawab Rima.
“Halah, bohong. Kalian saling suka tapi belum menyadarinya. Lu tahu enggak? Angga sampai rela batalin rapat demi mencari keberadaan lu,” ungkap Galang.
Rima terdiam dan kembali menatap Angga. Rima tidak percaya Angga benar-benar peduli padanya, bahkan sampai membatalkan rapat dengan klien demi mencari dirinya.
“Natasha ... Natasha, Natasha!” Angga terbangun dengan mata terbelalak. Angga melihat sekeliling dan mencari keberadaan Natasha.
“Lu kenapa, Ga?” tanya Galang kebingungan melihat sikap Angga.
“Dimana Natasha? Apa dia baik-baik saja?” Angga bertanya dengan raut cemas, Angga sangat mencemaskan kondisi Natasha.
“Natasha sudah meninggal,” jawab Galang.
“Apa? Kenapa dia meninggal? Kenapa, hah?” Angga kembali bertanya sembari berteriak.
“Dia kecelakaan mobil tiga tahun lalu,” jawab Galang.
__ADS_1
Seketika Angga terdiam, Angga baru sadar Natasha sudah meninggal. Tadi Angga memimpikan Natasha dan mimpi itu terasa begitu nyata hingga membuat Angga enggan terbangun.
“Bagaimana kondisi Bapak? Apakah ada yang sakit?” tanya Rima mencoba memecahkan keheningan.
“Berisik banget lu. Gue lagi pusing mikirin Natasha jadi jangan ganggu gue!” Angga membentak seraya melontarkan tatapan sinis pada Rima. Sementara Rima langsung terdiam dan menunduk ketakutan, ia merasa kehadirannya tidak dibutuhkan dan hanya mengganggu Angga.
“Kalau begitu saya izin pamit. Sepertinya keberadaan saya tidak dibutuhkan di sini,” ucap Rima.
Rima langsung berjalan dan pergi meninggalkan Angga dengan Galang. Galang memandang Rima dari kejauhan, Galang mengerti kondisi Rima. Pasti sulit menjalin hubungan dengan laki-laki yang belum selesai dengan cinta masa lalunya.
“Lu enggak boleh begitu sama Rima. Meskipun hubungan kalian hanya sebatas kontrak tapi Rima tetap wanita biasa yang punya rasa cemburu,” ucap Galang mencoba memberikan nasihat kepada Angga.
Angga terdiam memandang Galang. Angga mencoba merilekskan pikiran, lalu beranjak dari kasur rumah sakit.
“Menyusul Rima. Gue mau meminta maaf sekalian mau bawa dia ke toko perhiasan untuk membeli cincin pernikahan kita,” jawab Angga.
Angga kembali memakai jasnya dan bergegas menyusul Rima, sedangkan Galang hanya menggeleng melihat kelakuan Angga.
Galang mengikuti Angga dari belakang, kemudian mereka keluar dari rumah sakit dan berjalan menuju parkiran mobil seraya mencari Rima.
“Sepertinya Rima sudah pulang. Gue terlalu keras membentak dia,” ucap Angga dengan rasa bersalah.
“Siapa suruh kepikiran Natasha. Di depan lu sudah ada wanita cantik malah mikirin mayat,” sahut Galang.
__ADS_1
“Ayo, kita ke rumah Rima.” Angga kembali berjalan menuju mobilnya, lalu Angga masuk dan duduk manis.
“Cih, jadi babu lagi gue.” Galang menggerutu dan duduk di kursi pengemudi, kemudian Galang menancapkan pegas mobil dan melaju dengan kecepatan sedang.
***
Di sisi lain.
Rima berada di angkutan umum, Rima masih memikirkan bentakan Angga. Entah mengapa hatinya terasa sakit saat dibentak oleh Angga, terlebih Angga selalu menyebut nama Natasha ketika bersama dirinya.
“Enak ya jadi Natasha, bisa dapatkan laki-laki seperti Pak Angga. Sudah kaya, ganteng, setia banget pula sampai rela belum menikah di usianya yang sudah kepala tiga.” Rima tersenyum sendu, ia merasa iri dengan Natasha yang berhasil mendapatkan cinta sejatinya sebelum bertemu dengan Sang Illahi.
“Seandainya Navi seperti Pak Angga pasti hubungan kami masih berlanjut hingga sekarang,” tutur Rima.
Rima teringat dengan kisah cinta yang kandas tiga tahun lalu. Dulu Navi menyelingkuhi dirinya dengan wanita bernama Anggun. Awalnya, Anggun berpura-pura sebagai sepupu jauh Navi sampai akhirnya, malam paling tragis untuk Rima terjadi.
Rima dijebak oleh Navi dan Anggun di acara pesta ulangtahun Anggun ke 20 tahun. Navi dan Anggun mempermalukan Rima serta melakukan kekerasan fisik kepadanya, tak hanya itu orang-orang dalam pesta itu ikut melakukan kekerasan fisik dan menghina Rima sebagai perusak hubungan orang.
“Aku tidak akan melupakan malam itu dan laki-laki misterius yang menolongku saat hendak bunuh diri,” ucap Rima seraya tersenyum.
Rima masih ingat dengan sosok laki-laki yang menyelamatkannya saat hendak melompat dari atap gedung apartemen. Laki-laki itu menggunakan gelang yang terukir huruf A&N.
Namun, sayangnya Rima tidak melihat wajahnya karena laki-laki itu menggunakan masker dan topi untuk menutupi wajahnya.
__ADS_1
“Siapa laki-laki itu?” tanya Rima mencoba mengingat-ingat. Sekilas laki-laki itu mirip dengan Angga apalagi dari postur tubuhnya. “Jangan-jangan dia adalah Pak Angga? Tapi tidak mungkin. Untuk apa Pak Angga berada di atap apartemen?” gumam Rima.