
"mas, kenapa?"
"ah, nggak papa sayang"
"dari tadi aku liat mas ngelamun"
"nggak sayang, mas nggak papa, kita habiskan makannya baru pulang, ya" Dista mengangguk.
"iya mas"
di tempat yang berbeda, Praya dan Aliza akhirnya membeli sesuatu di mall, mereka membeli es krim, itu pun dengan harga yang paling murah, mereka pesan satu untuk di makan berdua, mereka mengobrol sambil menunggu pesanan mereka selesai di buat.
sepertinya takdir memang sengaja mempertemukan mereka, Bara dan Dista pun ad di sana, saat Praya maju mengambil pesanannya saat itu juga bara memesan eskrim untuk Dista, Dista menunggu di salah satu meja, Praya sebenarnya sudah menyadari jika yang berdiri di depan sana adalah suaminya
"mas" bisik Praya pelan, bara sampai kaget.
"kamu"
"iya ini aku Praya, bukan setan, nggak usah kaget gitu juga kali mas... pesan eskrim juga ya mas?"
"emang mau ngapain lagi kalau bukan pesan eskrim!"
__ADS_1
"ya siapa tau nas lagi cari loker kan" ejek Praya.
"makasih ya mbak" ucap Praya saat pesanannya jadi, bara pandangi eskrim milik Aliza, bara sudah langganan di sana, setiap mereka ke mall pasti Dista Minta di belikan eskrim di tempat yang sama. eskrim polos tanpa toping dengan dua sendok.
"mas, aku duluan ya"
"tunggu "
"kenapa mas?"
"pesan lagi eskrim yang lain, eskrim mu itu terlalu polos " Praya perhatian eskrim nya, benar saja polos tidak ada toping dan Hanya satu rasa saja, maklum lah harga murah dan promosi.
"saya yang bayarin "
"nggak usah mas,aku duluan ya, takut ada yang curiga kan bahaya, I love you mas, mas ganteng" Praya terkekeh pelan, bara menghela nafas panjang, ia juga pandangi tanpa sadar istri mudanya, Praya terlihat sangat cantik dengan pakaiannya. bara berhenti menatap setelah kasir memberikan kartunya kembali. Bara tidak tau aja jika sejak tadi Dista terus memperhatikannya, ia lihat gadis muda berdres hitam tak segan menebar senyum pada suaminya, tapi bara sebaliknya, pria itu hanya menatap dengan wajah datar.
"dia siapa mas?" tanya Dista langsung setelah Bara meletakkan eskrim nya.
"siapa?" jujur bara tau orang yang di maksud sang istri, sekarang bara gugup bukan main, tapi tetap ia pertahankan wajah pura-pura tidak tahunya.
"anak muda yang tadi berdiri di samping mas?"
__ADS_1
"ooh itu, namanya Praya, dia cleaning servis di kantor, anaknya periang aktif, jadi nggak segan buat ngajak bicara mas, mas juga sudah biasa sama tingkah nya" jelas raga berharap istrinya tidak curiga
"anaknya cantik, berapa umurnya mas?"
"22, kalau nggak salah "
"andai Latisyha nggak hilang, adik ku itu pasti sudah seumur anak itu mas, ya Allah, aku kangen Tisha mas" bara mengusap punggung istrinya, benar apa kata Dista, adik iparnya yang hilang dua puluh tahun yang lalu seumuran dengan istri mudanya itu,tiada hari tanpa perasaan bersalah di hidup Dista, ia menganggap dirinyalah penyebab adik kecilnya menghilang.
bara mengusap air mata di wajah sang istri.
"Mas yakin suatu hari nanti kita akan menemukan Tisha, sayang " Dista mengangguk dan menghembuskan nafas berat
....
"makasih ya yu, hati-hati, besok kita ketemu lagi darah"
"daah, assalamualaikum "
"waalaikumsallam "
Praya hidupkan kipas setelah menutup pintu, rumahnya terlalu kecil dan Hanya ada ventilasi udara di atas pintu, jadilah ruangan persegi itu terasa Sesak.
__ADS_1