
Dikta berdiri, ia melangkah mendekati Praya, Dikta genggam tangan kecil yang selalu membuatnya tertawa dulu.
"aku nggak akan ngapa-ngapain kamu, raya" dengan langkah kaki yang ragu, raya mengikuti Dikta untuk duduk di sofa yang ada di ruangannya.
"gimana kabar kamu?"
"Alhamdulillah baik ka, ada apa ya, langsung aja, aku mau kerja" Praya terus menunduk menatap jari-jarinya yang saling terpaut, kedua kakinya bergerak tidak teratur. Dikta yang duduk di sampingnya membuang nafas berat.
"kenapa kamu pergi, kenapa kamu tinggalin aku gitu aja, kenapa kamu nggak pernah ngasih kabar, kenapa kamu menghilang Praya?" Dikta berucap begitu lirih, pria itu menoleh menatap Praya dengan kepala yang Terus menunduk, Praya tersentak saat Dikta tiba-tiba saja memeluknya.
"Ka, lepasin aku ka" Praya bisa rasakan gelengan dari Dikta.
"kamu tau aku begitu menyayangi kamu, aku mencinta kamu, tapi kenapa kamu justru pergi ninggalin aku, Kenapa!" Dikta menekan kalimat terakhirnya, tidak tahan dengan sikap Praya.
"Kita berbeda ka, status kita berbeda, kamu orang kaya terpandang, Sedangkan aku hanyalah wanita miskin sebatang kara"
"aku nggak peduli Praya, aku nggak peduli"
"tapi orang tua kamu peduli ka, orang tua kamu tidak merestui hubungan kita, mereka menginginkan yang terbaik untuk putra mereka, dan itu bukan aku " ucap Praya tidak kalah tinggi, dengan sekuat tenaga, Praya melepaskan lilitan tangan Dikta,.
"maaf ka, aku harus kerja " saat Praya ingin memutar gagang pintu, niatnya terhenti dengan Dikta yang lebih dulu melingkarkan tangannya di pinggang ramping Praya, Dikta tenggelamkan wajahnya di pundak Praya.
"aku mohon kembali lah, kita bisa hidup bahagia tanpa ada pengganggu dari siapapun "
"kita bisa memulai hidup kita berdua Praya, Kita bangun keluarga kecil kita,kita bangun rumah impian kita" Praya menggeleng, air matanya turun membasahi lengan Dikta.
"nggak bisa kak, aku sudah menikah"
"kamu bohong Praya! aku tau kamu berbohong, aku nggak akan percaya dengan bualan kamu itu" Dikta melepaskan pelukannya, dengan kasar ia membalik tubuh Praya agar menghadapnya, Dikta posisikan Praya dengan punggungnya menempel di dinding, kedua tangan Dikta mencengkram punggung wanita itu, Dikta pandangi wajah wanita yang sudah membuatnya menahan rindu selama bertahun-tahun.
kening Dikta berkerut, saat ia lihat luka sobek di sudut bibir Praya, ibu jarinya mengusap pelan dan sedikit memberi tekanan, Praya meringis karena luka itu masih baru.
"akh"
"siapa yang sudah Mukul kamu, Praya" Suara Dikta berubah berat, sungguh ia tidak bisa terima ada yang memukul wanitanya.
"aa--aku --"Praya gugup bukan main,
"jawab siapa Praya!" dada Dikta kembang kempis, ia tidak bisa diam saja saat melihat luka sobek di wajah Praya.
"katakan siapa yang sudah memberi tamparan di wajah kamu, Praya!" geram Dikta karena keterdiaman Praya,
__ADS_1
"aku mohon jawab Praya, siapa yang sudah memukul mu, hah" perlahan Suara Dikta berubah lirih, di usapnya lembut pipi mulus Praya, Praya menepis tangan Dikta dari wajahnya. Praya dorong sekuat tenaga Dikta agar memberi jarak di antara mereka, hal itu Praya gunakan untuk kabur dari ruangan Dikta.
"aku harus pergi" kali ini prayaa berhasil kabur dari ruangan Dikta.
"argghh" Dikta meraung kesetanan.
"aku akan kasih pelajaran orang yang sudah menyakiti kamu, raya" ucap Dikta dengan sorot mata tajam. tergesa-gesa Praya menuju ruangannya, ia usap dadanya yang bergemuruh hebat, Praya bercermin menatap wajahnya
"ini gara-gara mas bara" Praya berdecak kesal, cukup dalam juga panjang luka di sudut bibirnya.
"dor!" ayu dari belakang mengagetkan Praya.
"Allahuakbar" Praya terlonjak kaget, ia usap Dadanya kembali, ayu tertawa puas.
"kamu ya, awas kamu aku balas"
"pagi-pagi sudah bercermin aja, sana kerja, kamu mau di makan hidup-hidup sama mbak Mega" ayu menyerahkan alat pel pada Praya.
"iya iya"
"ayo" dengan semangat, ayu menggandeng bahu Praya, mereka berbincang selama bekerja, ada saja yang menjadi topik obrolan mereka, ke-dua sahabat itu juga saling berbagi tawa, meskipun hidup mereka sedang kesulitan, mereka tidak pernah terpuruk dengan keadaan.
"kamu bawa bekal?" Praya menggeleng
"makan mie ayam?" Praya mengangguk dengan senyum mengambang.
"ayo" ucap Praya antusias.
"praya, buatkan saya kopi" keduanya jelas kaget dengan suara Bara yang tiba-tiba terdengar memberi perintah, keduanya berdiri sebagai rasa hormat pada atasannya.
"baik pak" tanpa menatap Praya, Bara melenggang pergi begitu saja, ayu duduk kembali.
"kenapa pak bara suka banget sama kopi bikinan kamu" Praya mengangkat bahunya.
"aku juga nggak tau, ya udah aku buatin kopi dulu untuk bos, nanti kita makan mie ayam bareng"
"siap"
....
setelah mengetuk pintu, Praya langsung masuk keruangan Bara, pria itu berdiri memandangi bangunan-bangunan yang menjulang tinggi di depan mata.
__ADS_1
"mas kopinya " bara berbalik dengan raut wajah datar, ia melangkah mendekati Praya, .
"duduk" titah bara, Praya Menurut.
seperti sebelumnya, bara tidur dengan menjadikan paha Praya sebagai bantalnya, Praya mengusap-usap kepala sang suami.
"banyak kerjaan ya, mas "
"em"
"Praya "
"iya mas, Kenapa?" Praya menunduk menatap wajah serius bara dari atas
"kamu nggak akan menggugat cerai saya kan"
"tergantung" bara bangun tergesa mendengar ucapan Praya, ia menggeser agar lebih dekat dengan Praya.
"saya nggak mau bercerai" ucap bara tegas, matanya menyorot tajam.
"kan aku bilang tergantung mas, kamu ini dengerin aku nggak sih" Praya melipat tangan di depan dada, ia kesal juga karena bara yang lama terhubungnya.
"tapi Kan kamu---"
cup
ciuman singkat Praya membungkam mulut bara, wanita itu tersenyum, kemudian tertawa, wajah kaget bara begitu lucu
"lucu banget sih suamiku" ucap Praya dengan mengelus lembut rahang tegas Bara. Bara menggenggam pergelangan tangan Praya, ia tarik pergelangan tangan itu yang membuat Praya membentur dadanya.
bara mengelus wajah Praya dengan seksual, ia dekatkan dan mengikis jarak mereka, Bara melakukan hal yang sama seperti apa yang Praya lakukan, tapi tidak Hanya menempel.
mereka melakukan itu cukup lama, sekarang pun posisi Praya sudah terbaring dengan Bara di atasnya, mereka tidak mendengar lagi ketukan panggilan dari Dikta.
Dikta yang berada di luar berdecak kesal, sudah Dari tadi ia menunggu di Depan, tapi tidak ada sahutan dari dalam, Padahal ia harus segera kembali ke kantornya.
"bang, bang Bara" Dikta sudah menggenggam gagang pintu ruangan Bara, ia putar perlahan dan membuka pintu.
"Abang, ini surat dari kantor" Dikta berucap mulai dari pintu ia terus menatap surat di tangannya.
"bang ---" Dikta menghentikan langkahnya, surat di tangan terlepas, ke-dua bola mata Dikta terbuka sempurna
__ADS_1