Istri Pemuas Nafsu Sang Ceo

Istri Pemuas Nafsu Sang Ceo
Maaf


__ADS_3

"Berangkat sama saya"


"saya bisa berangkat sendiri, bapak jalan aja duluan" Bara turun dari mobilnya lagi, ia tarik pergelangan tangan sang istri untuk di paksa masuk kedalam mobil, begitu juga dengan Praya, ia tetap berusaha melepaskan diri dari bara.


"lepas! saya bisa berangkat sendiri" pekik Praya, bara memutar matanya jengah, di angkatnya tubuh Praya ala bridal style, Praya yang berada di Gendongan bara terus memberontak, ia memukul-mukul dada pria itu minta di turunkan


"turunkan Saya, turunin saya , turunin saya"


"Diam Praya!" bentak bara yang sudah kehabisan kesabaran, bentakan itu berhasil membuat Praya diam, pandangan mereka berdua tatap, ada rasa bersalah di hati bara karena kembali meninggikan suaranya pada sang istri, padahal ia tau sikap kurang ajar Praya itu karena perlakuan yang tidak adil.


cup


bara mencium singkat bibir ranum Praya, ia segera palingkan wajahnya karena merasa salah tingkah begitu juga dengan Praya, bara masukkan Praya kedalam mobil tanpa ada perlawanan lagi dari sang istri.


"pasang sabuknya" mau tidak mau Praya lakukan apa yang bara perintahkan, ingin kembali turun pun sudah tidak ada gunanya lagi.


selama di jalan, Praya terus menatap ke arah jendela, tidak sekalipun ia mengajak bara untuk bicara, biasnya bara yang muak sendiri karena Praya yang terlalu banyak mengoceh, tapi sekarang istrinya itu benar-benar mendiamkannya, bara merindukan kecerewetan Praya.


"Praya, mau beli sesuatu sebelum ke kantor?" bara lirik Praya yang hanya diam tidak menanggapi Ucapannya.


"Praya" panggilan bara dengan suara lembut.


"apa sih pak, berisik tau nggak!" bara menghela nafas berat, tidak ia sangka justru respon seperti itu yang Praya berikan.


"mobil rasanya Hampa tanpa kecerewetan kamu, Praya"


"bukannya bapak nggak Suka saya yang banyak ngomong, sekarang malah justru nyuruh saya ngomong, dasar bapak-bapak aneh" Praya mendumel tanpa mau mengalihkan pandangannya dari arah jendela,


"kamu ngambek gitu jelek tau Praya "


"yang bilang saya cantik siapa, saya kan emang jelek, jelek banget malahan " bara meraih tangan kanan Praya untuk di genggam, meskipun tadi awalnya Praya sempat menolak, tapi akhirnya Praya pasrah.

__ADS_1


"sudah ya ngambeknya, saya kan sudah minta maaf sama kamu, saya juga sudah ngaku salah" bara berucap setulus mungkin, ia melirik Praya yang Hanya Diam dengan wajah datar.


"kesalahan kamu patal mas, aku nggak bisa memaafkan kamu gitu aja, aku hampir dilecehkan, andai waktu itu mereka sungguh berhasil melecehkan aku, mungkin aku sudah nggak akan ada duduk di samping kamu, mungkin sekarang kamu sedang menatap gundukan tanah bertuliskan nama ku di atasnya" Praya sungguh belum bisa melupakan begitu saja kejadian Menakutkan yang terjadi karena ulah Bara, Praya kembali menangis jika membahas atau mengingat kembali kejadiannya. bara melirik Praya yang sekarang menutup wajahnya, bara tepikan mobil dan meraih Praya kedalam pelukannya. Bara mengusap dengan lembut punggung Praya yang mulai bergetar, hati bara pun ikut sakit melihat tangisan sang istri kecil.


"Aku takut mas, aku takut, kamu ko tega ninggalin aku sendiri, setidaknya kamu ngomong dulu, mereka jahat mas, mereka bertiga sedangkan aku hanya wanita lemah" isakan memilukan menyayat hati.


" maafkan saya, Maaf"


"saya janji nggak akan pernah meninggalkan kamu lagi, saya janji Praya" Praya remas dengan kuat jas bara, mungkin sudah terdapat bekas tangan Praya di sana.


perlahan bara lepaskan pelukannya, di tatapnya penuh dalam wajah Praya yang kembali sembab, bara mengusap air mata di wajah Praya.


"udah ya, jangan nangis lagi"bara hanya bisa pasrah saat Praya menarik jas yang ia kenakan untuk mengeluarkan ingusnya.


"jas bapak jadi kotor gini "


"nggak papa, saya masih punya jas cadangan di kantor " Praya Mengangguk tanpa dosa, kembali ia tarik jas bara untuk ia gunakan mengeluarkan ingusnya.


"iya nggak papa"


"saya susah nafas, hidungnya penuh ingus"


"iya nggak papa" Bara mengusap kepala Praya sebelum kembali melajukan mobilnya.


....


"Praya" Praya kembali menoleh, ia melangkah lagi mendekati mobil Bara.


"iya kenapa mas?"


"kamu cantik, cantik banget, Jangan pernah bilang kamu jelek, istri ku yang kecil ini cantik Banget" Praya mendengus kesal, ia kira tadi bara ingin mengatakan hal yang penting, taunya Hanya gombalan basi.

__ADS_1


"iya saya tau saya cantik, tuan bara yang terhormat" ejek Praya berhasil membuat bara kembali kesal.


"Praya" tegur Bara, saat bara ingin meraih tangan Praya, tapi wanita itu lebih dulu melangkah mundur, ia menjulurkan lidahnya mengolok-olok Bara.


"nggak kena, weey" Praya berjalan mundur.


"awas Kamu ya Praya, awas kamu nanti malam saya buat nggak bisa jalan kamu" ancam bara, tapi tidak berhasil membuat Praya takut.


"nggak peduli, aku nginep di rumah ayu, daaah tuan bara yang terhormat " Praya berlari kecil memasuki area kantor, tanpa ia ketahui bara tersenyum puas akhirnya bisa kembali melihat kekonyolan dari Praya.


"Kamu tau Praya, kamu itu pelengkap di hidup saya, kamu memberikan warna di hidup saya" Monolog Bara


"saya nggak aka pernah sanggup kehilangan Kamu, saya akui saya bodoh Praya, saya tidak bisa jujur dengan kamu kalau saya sungguh merasa nyaman ada di dekat kamu" pria itu menyunggingkan senyum, bayangan Praya yang pering melintas di benaknya, di awal bara memang sedikit risih dengan tingkah Praya yang jauh berbeda dengan Dista, tapi lambat laun barang sadar dengan rasa bahagia yang hanya bisa ia dapatkan Jika bersama Praya, wanita muda itu selalu bisa membuatnya kesal dengan tawa secara bersamaan, mungkin usia mereka yang terpaut jauh yang menyebabkan Praya seperti anak kecil Jika di dekatnya.


....


senyum yang tadi mengembang seketika luntur saat Dikta sudah berdiri di depannya, Praya berniat berputar arah tapi kalah cepat dengan pergerakan Dikta, dikta menahan pergelangan tangan Praya


"tunggu Raya" Praya terus menunduk, tidak berani ia mengangkat kepalanya.


"maaf pak, saya harus kerja" Praya menepis tangan Dikta.


"Raya, please " mendengar permohonan itu membuat Praya berhenti memberontak.


"lepasin dulu tangan ku, ka. nggak enak kalau sampai ada yang lihat" Dikta menurut


"kita bicara di ruangan ku aja, biar lebih leluasa " Praya setuju, ia tidak ingin ada yang melihat mereka mengobrol, takut ada yang berpikir yang macam-macam. Praya berjalan di belakang Dikta, mereka menuju ruangan Dikta yang posisinya berdekatan dengan ruangan Bara.


Dikta duduk, sedangkan Praya diam di depan pintu.


"Raya kemari" Praya menggeleng, tidak pantas sebenarnya ia berada di ruangan yang sama dengan pria yang bukan siapa-siapanya lagi, apa lagi sekarang Praya sudah menikah, Praya bukan lagi gadis yang dulu pernah dekat dengan Dikta.

__ADS_1


__ADS_2