Istri Pemuas Nafsu Sang Ceo

Istri Pemuas Nafsu Sang Ceo
ceraikan aku


__ADS_3

flashback on


Praya pikir Dikta sudah tidak mengikutinya lagi, tapi sayangannya ia salah, Dikta masih terus mengejarnya, Dikta mengerutkan keningnya bingung saat Praya memasuki mobil yang Dikta tau betul itu mobil siapa.


"bang Bara, Praya?" Dikta bergegas berputar arah untuk mengambil mobilnya, sayangnya mobil bara sudah tidak ada di sana, Dikta Hanya mengikuti firasatnya saja, ia telusuri jalan yang mungkin di lewati bara. Sampai akhirnya Dikta berhasil menemukan mobil Bara terparkir di depan salah satu warteg, Dikta memerhatikan dari jauh, mobil Bara yan tadi terparkir kini mulai meninggalkan area warteg, perlahan Dikta mengikuti mobil Bara tapi Tanpa sengaja ia lihat Praya yang kebingungan di depan warteg yang tadi di tempati bara, Dikta perhatikan Praya dari jauh sampai tiga orang pria terlihat mendekat.


"Praya" teriak Dikta setelah ia rasakan ketiga orang itu berniat jahat pada Praya, Dikta terpaksa memarkirkan mobilnya dan turun mengejar Praya.


"Sialan" umpat Dikta saat ia kehilangan jejak Praya. Suara tawa dari ketiga pria jahat itu berhasil membuat Dikta menemukan ke beradaan mereka.


darah Dikta mendidih melihat Praya yang sudah di kelilingi tiga pria bejat.


flashback off


Di dalam apartemen miliknya, Dikta duduk merenung di pinggiran ranjang, ia masih belum menemukan tanda tanya dari pertanyaan mengenai hubungan Praya dengan Bara, mereka terlihat dekat, Praya yang dengan bebas keluar masuk mobil Bara. sempat terbesit di pikiran Dikta jika Praya adalah wanita simpanan Bara, tapi Dikta tepis semua kemungkinan gila itu, Dikta mengenai betul sosok Praya, tidak mungkin Praya menjadi wanita simpanan bosnya sendiri, dan Dikta yakin dengan ketulusan cinta Bara pada Dista.


"nggak mungkin Praya..., nggak nggak, nggak mungkin" Dikta menempelkan jidatnya ke atas meja, pikirannya terlalu berkecamuk mengenai Praya dan bara.


"Praya kecil ku tidak akan tega merusak hubungan wanita lain" seketika Dikta tersenyum, bayangan kenangannya bersama Praya beberapa tahun lalu tiba-tiba melintas di kepalanya


tujuan tahun yang lalu.


"kak Dikta kayanya baju raya kebesaran deh" Praya berputar memperlihatkan baju seragam sekolah yang baru saja mereka beli bersama, Dikta meletakan jari telunjuknya di depan dagu.


"em, cocok buat kamu anak kecil nakal" Dikta memberikan jitakan di kening Praya kecil, Praya mengerucutkan bibirnya.


"Ka Dikta sakit tau" Praya melipat tangannya di depan dada, ia berputar arah membelakangi Dikta.


"ngambek nih ceritanya" goda Dikta dan memilih duduk tepat di samping Praya, ia nikmati udara sejuk angin pantai yang menerpa wajah.


"bukannya di bujuk malah di tinggal duduk, iiyh sebel" Praya mengehentak-hentakan kakinya, tidak terima karena Dikta justa mengabaikannya. Dikta menyibak rambutnya kebelakang.


"anak kecil nakal jangan coba-coba berulah, ya" Dikta menarik-narik ujung baju yang di kenakan Praya. Praya menyentak tangan Dikta dan ikut bergabung duduk di samping Dikta.

__ADS_1


"kaa, coba deh ini bajunya kegedean tauu" keluh Praya masih berusaha protes.


"itu sudah pas untuk anak nakal kecil kaya kamu, sayang" Dikta suka sekali menoel hidung kecil mancung Praya.


"issas, besar Kaka Dikta ku sayang"


"sudah pas, adik kecil ku sayang"


"besar Kaka ku sayang"


"sudah pas adik ku sayang"


Dikta tertawa sendiri di dalam kamarnya, perdebatan dengan Praya kecil selalu ia usahakan terjadi setiap hari jika mereka bertemu, Dikta suka sekali menjahili Praya, ia Suka melihat wajah Praya yang mutih jadi merah karena marah, menggemaskan sekali untuknya.


"anak kecil nakal, kamu sudah jadi wanita dewasa yang cantik, kenapa kamu pergi empat tahun yang Lalu Hem" dikta mengusap wajah polos Praya di balik bingkai usang milikinya.


"adik ku, apa kamu hidup dengan layak, sekarang badan mu lebih kurus, apa kamu makan mie setiap hari, hm"


"awas aja ya ketahuan makan mie" Dikta rebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, bingkai Poto Praya ia peluk dengan erat


"selamat malam gadis kecil ku yang nakal"


....


di rumahnya, Praya sedang menyeduh teh hijau kesukaannya, tatapan matanya kosong, sejak tadi ponselnya berdering, panggilan dari Bara ia abaikan, Praya tidak tau saja jika Bara di rumahnya sudah terbakar emosi karena Praya mengabaikan panggilannya berkali-kali.


"Kenapa mas?" Suara Dista membuat Bara menoleh.


"nggak sayang, ini nelpon karyawan ngga becus sama kerjaannya" bara mendekati Dista dan duduk di sampingnya. Bara usap dengan lembut kepala istri tercinta.


"kepalanya masih pusing" Dista menggeleng


"maaf ya mas sudah buat kawatir"

__ADS_1


"mas takut Banget waktu bi Inah bilang kamu pingsan"


"mas minta tolong, aku mau duduk" bara posisikan tubuh Dista bersandar di dasbor ranjang, bara rapikan rambut Dista yang menutupi sebagian wajahnya.


"nggak papa, yang penting kamu nggak papa sayang, mas takut terjadi sesuatu lagi sama kamu" Dista merentangkan tangan nya Minta di peluk, bara mengusap-usap punggung Praya


"mas, boleh aku minta sesuatu"


"iya sayang, apapun yang kamu Minta, mas akan berusaha untuk menurutinya, selagi mas mampu" Dista tutup dulu matanya sebelum berucap, sebenernya terlalu sakit mengutarakan keinginan gilanya itu.


"ceraikan aku mas"


deg


bara melepaskan pelukannya, di tatapanya dengan serius wajah Dista dengan menyentuh kedua bahu Dista.


"Kamu ngomong apa sih, sayang. aku nggak suka kamu ngomong gitu"


"mas, aku mau kamu bahagia, ceraikan aku dan menikahlah dengan wanita yang bisa memberi kamu kebahagiaan, kamu berhak bahagia mas, kamu berhak melanjutkan hidup dengan wanita yang jauh lebih baik dari aku, si perempuan cacat yang hanya bisa menyusahkan kamu saja, mas" ucap Dista pelan, berharap suaminya itu mengerti maksud baiknya. Bara kembali memeluk Dista.


"jangan ngomong gitu lagi, sayang. aku nggak akan bisa hidup tanpa kamu "


"mas, Aku tau kamu itu manusia biasa, kamu pria normal yang juga butuh pendamping yang sempurna, sedangkan aku nggak akan bisa kasih kamu semua itu, aku cacat mas, aku hanya menyusahkan kamu, aku pun takut kamu khilaf dan bermain dengan wanita di luar sana" hati Bara tersentil mendengar ucapan sang istri.


"aku rela pergi dan melepaskan mu mas, aku sungguh rela dan ridho, itu lebih baik untuk kita berdua, mas" Bara melepaskan pelukannya lagi, ia tersenyum dan membuat tubuh Dista berbaring kembali ke tempat tidurnya.


"tidur ya sayang, sudah malam " di kecupannya singkat kening istri tercinta, Bara juga membenarkan posisi selimut Dista.


"mas perlu waktu sendiri dulu, kamu istirahat ya" bara memilih pergi meninggalkan kamar, ia matikan lampu utama dan tersisa lampu tidur remang di atas Nakas.


Bara terdiam sejenak di depan kamarnya, sedangkan Dista menangis dalam kerapuhannya.


"aku tau mas, aku tau bukan hanya aku saja yang sekarang ada di hidup kamu, tapi wanita muda itu juga sudah menjadi bagian hidup kamu", Dista tersenyum hangat.

__ADS_1


"kalian pantas bahagia mas, aku nggak mau merusak kebahagiaan itu, hadirnya aku di tengah-tengah Kalian hanya akan menyakiti perasaan wanita muda itu"


"Praya" gumam Dista dengan sudut bibir terangkat.


__ADS_2