Istri Pemuas Nafsu Sang Ceo

Istri Pemuas Nafsu Sang Ceo
majikan baik hati


__ADS_3

"Ini Praya Bu, yang saya ceritakan tadi malam, penggantinya Santi" Wanita berwibawa yang usianya sekitar hampir 50 tahun itu terlihat terkejut, perlahan ia mengikis jaraknya dengan Praya, Praya sedikit tidak nyaman karena wanita di depannya itu terus memandanginya dengan pandangan yang sulit di artikan.


"pr--praya" Terdengar sekali getaran dalam ucapannya, Praya mengangguk kikuk.


"umur kamu berapa, nak?"


"22 tahun buk" ucap praya yang semakin membuat wanita di depannya ini terlihat berkaca-kaca.


"buk" Wanita bernama BI Inah yang membawa Praya tadi, menahan lengan nyonya besar di rumah mewah itu.


"Bu, Praya ini yatim piatu, namanya juga hanya Praya saja, dia juga tidak memiliki tanda di bagian yang sama, saya sudah tanyakan sebelumnya tadi malam, namanya yang mirip, dia bukan Praya yang ibu cari" ucap BI Inah iba, tidak tega melihat majikannya yang sudah berharap penuh jika wanita muda yang ada di depannya ini adalah Praya anaknya, Praya Asteria yang hilang 20 tahun yang lalu. luluh sudah air mata di pipinya tangan yang tadi hendak menyentuh pipi Praya terkulai lemas, bi Inah membantu majikannya untuk mendudukkan diri, takut si majikan jatuh tumbang lagi karena harus kembali menahan rindu pada putri bungsunya yang hilang dua puluh tahun yang lalu.


Praya jadi merasa bersalah, ia tidak tega melihat wanita yang usianya tidak muda lagi itu bersedih.


"tenang, ya Bu. namanya kebetulan sama dengan non Asteria, tapi dia bukan orang yang sama, Bu"


"Bu Farah" panggil bi inah pelan karena Farah hanya diam dan terus menunduk saja.


"Praya, duduk sini nak" Praya yang tadi hanya diam tidak tau harus berbuat apa di buat terkejut saat Farah menepuk sisi sofa dan meminta Praya untuk duduk di sana, Praya alihkan atensinya pada bi Inah, minta kejelasan, bi Inah mengangguk, memberi isyarat agar Praya duduk di samping Farah"


Dengan langkah yang berat, Praya beranikan duduk di samping Farah, di gigit nya bibir bawah untuk mengurangi kegugupan yang sekarang ia rasakan. Praya tersentak saat jari-jari lembut Farah yang mulai terlihat berkerut menggenggam tangannya yang sedikit kasar.


"boleh saya lihat dada kamu, nak?" kerutan mungkin terlihat jelas di kening Praya, ia kaget sudah jelas, Praya benar-benar merasa kasihan juga dengan wanita di depannya, tatapan mata Farah begitu penuh harap, Praya lirik lagi bi Inah dan kembali mendapatkan anggukan dari BI Inah. Praya yakinkan dirinya jika tidak ada yang salah dengan permintaan Farah, beliau hanya ingin memastikan saja, BI Inah berubah menjadi memunggungi mereka berdua, takut Praya risih, cukup Farah saja yang pastikan.


Dengan perlahan Praya buka tautan kemejanya mulai dari atas, hingga bawah. Dengan tangan yang bergetar penuh harap, Farah membuka baju yang masih menutupi bagian dada Praya, bahu Farah merosot saat tidak ia temukan tanda yang sama di dada Putrinya.


Air mata Farah kembali mengalir turun, padahal ia sudah sangat berharap, tapi nyatanya Farah harus kembali menelan pil pahit jika ia belum di takdir kan untuk bertemu Praya Asteria putri bungsunya.


Praya bergegas berdiri setelah seluruh kancing bajunya sudah terpasang sempurna. Praya tautkan jari-jarinya di depan, BI Inah mengusap-usap punggung Farah yang kembali bergetar, bi Inah sudah bisa menebak respon inilah yang akan diberikan Farah, padahal bi Inah sudah berusaha untuk menjelaskan sebelumnya, tapi tetap saja Farah ingin memastikan dengan mata kepalanya sendiri.

__ADS_1


Praya terus berdirinya menunggu si pemilik rumah kembali tenang, kakinya sudah sangat pegal berdiri terus, sepertinya dua wanita yang tidak seumuran dengannya itu melupakan kehadirannya di sana.


"Praya" lagi-lagi suara lembut Farah membuat Praya sedikit terkejut.


"ii--iya Bu" gugu Praya


"maaf ya nak, saya sudah kurang ajar, maaf karena ketidaknyamanan yang pasti kamu rasakan"


"tidak masalah Bu, saya tidak merasa keberatan sama sekali, toh semunya kan agar jelas, tidak ada yang salah" mendengar ucapan Praya, Farah kembali melebarkan senyumannya, senyum yang penuh luka dan kerinduan pada si putri bungsu kesayangan.


"Kamu mulai kerja aja nak hari ini, bantu bi Inah kerjaan pekerjaan rumah, beres-beres, memasak" Praya Mengangguk antusias.


"makasih banyak ya Bu, makasih sudah ijinkan saya bekerja di sini"


"iya nak, jangan sungkan sama saya, BI Inah sudah saya anggap keluarga sendiri, kamu pun sama nak" Praya benar-benar tidak tau cara mengekspresikan kebahagiaannya, ia terlalu senang dengan rejeki yang kembali di dapat, Farah yang baik hati membuat Praya semakin merasa ia tidak lah sendirian di muka bumi ini, tidak semua orang dewasa yang ia temui jahat seperti mantan suaminya.


....


"taruh di tempat cucian, di belakang kamu ada pintu, masuk aja, nanti nyucinya sama ibu aja sekalian ibu ajarkan" Praya Mengangguk dan berlalu dari sana , membawa satu keranjang penuh berisikan cucian kotor majikannya.


"sekalian kamu angkat jemuran ya, Praya"


"iya Bu"


....


Praya telan salivanya kasar, makanan yang tersaji di depan matanya membuat air liurnya menetes, Praya hanya mampu menatap piring-piring yang penuh dengan segala macam jenis masakan, ia usap perutnya untuk membuat si anak di sana pun bersabar seperti dirinya.


"sabar ya nak, insyaallah mama akan belikan makanan enak kalau gajihan nanti" ucap Praya dengan menatap perutnya.

__ADS_1


"Praya "


"iya bi"


"tolong ambilkan sabun pel di dalam lemari, kamu bawa aja semua alatnya ke depan sekalian, nanti biar saya yang pel, saya mau ke atas panggil ibu dulu"


"iya bi" sesuai dengan apa yang di minta Bi Inah, Praya bawa keluar alat pel ke depan. mata Praya menyusuri ruangan yang begitu besar itu, banyak barang-barang yang pastinya mahal, ada beberapa foto yang terpajang di atas meja tidak jauh dari Praya berdiri, Praya tadi tidak sadar dengan foto itu saat bertemu Farah.


Praya raih bingkai foto yang lumayan besar itu, foto kakak beradik, Praya tersenyum hangat, ia hanya menebak, mungkin foto itu adalah anak-anak Farah, mereka masih kecil sekali.


"anak-anak yang beruntung" gumam Praya dan kembali meletakkan bingkai foto itu.


"Praya" mendengar namanya di panggil, Praya segera menoleh.


"iya bi"


"di panggil ibu, buat sarapan bareng" Praya sedikit terkejut mendengarnya, nyonya besar tempatnya bekerja memintanya untuk makan bersama, apa ia salah dengar.


"Praya, ayo, ibu sudah menunggu, nggak enak beliau menunggu lama"


"i--iya bi"


...


suasana begitu canggung bagi Praya, duduk di meja makan bersama majikan sangatlah hal yang baru ia rasakan, Praya sama sekali tidak berani menyentuh apapun di meja makan, padahal Farah sudahlah memintanya untuk makan.


"Praya, ayo makan, jangan diam aja, entar dingin nggak enak lagi, loh" Praya belo, ia benar-benar di buat tidak percaya.


"bi Inah, tolong ambilkan juga untuk Praya" akhirnya Farah meminta bi Inah yang sudah terbiasa dengan suasana untuk mengisi piring Praya yang kosong.

__ADS_1


"di makan Praya"


"i--iya Bu"


__ADS_2