Istri Pemuas Nafsu Sang Ceo

Istri Pemuas Nafsu Sang Ceo
Masa lalu yang kembali


__ADS_3

"ini uang kamu" lagi dan lagi, Bara selalu saja seperti itu, melempar uang ke atas tubuh Praya, menganggap Praya Wanita murahan yang ia beli tubuh dan harga dirinya, padahal Praya menerima bara karena wanita itu sungguh mencintai bara, bukan karena harta dari pria itu, hati Praya teriris dengan sikap bara, air matanya selalu saja tumpah setelah berhubungan dengan suaminya, Praya tidur membelakangi Bara, pria itu sibuk memasang lagi bajunya, Praya meremas uang lembaran merah yang berhamburan di hadapannya, Bara hanya datang untuk memuaskan nafsu birahinya saja, jika sudah merasakan kepuasan, maka Bara akan langsung pulang menemui istri tercintanya.


"saya pulang" Tidak ada kecupan hangat di kening, tidak ada usapan di kepala, tidak ada ucapan lembut di telinga.


"sesulit itu kah mas, sesulit itukah menghargai aku sebagai istri kamu, setidaknya jangan beri harga untuk sesuatu yang memang sudah menjadi hak mu" monolog Praya.


setelah mendengar suara mobil Bara mulai meninggalkan halaman rumahnya, Praya bergegas bangun untuk membersihkan diri.


...


"pengen mi..." Praya lirik jam di layar ponselnya, belum terlalu malam untuk keluar membeli mi, sekalian jalan-jalan. Praya pasang hoddy kebesarannya juga ia pasang lagi celana tidur berwarna merah muda.


Praya telusur jalan raya yang Ramai akan pengguna jalan lain. sampailah ia di salah satu supermarket terdekat, Praya benar-benar harus pintar-pintar mengatur keuangannya, upah dua juta yang ia dapatkan, harus bisa memenuhi kebutuhannya selama satu bulan, dari membayar kosan, belanja bulanan dan menabung untuk membeli sepeda motor, jangan tanyakan seberat banyak uang yang sudah ia terima dari bara, hitungnya dari awal pernikahan mereka sampai sekarang, sudah hampir dua bulan, semua uang yang Bara lempar kan untuk Praya setiap berhubungan selalu di simpan Praya dengan baik, tidak serupiah pun Praya gunakan untuk kebutuhan sehari-harinya, karena bagi Praya, uang itu bukan lah nafkah dari seorang suami untuk istrinya, tapi uang bayaran atas kepuasan nafsu Bara semata, sedangkan Praya tidak pernah menjual dirinya.


Praya pilih masing-masing 5 bungkus dengan Varian rasa yang berbeda, Praya lebih suka mi berkuah ketimbang mi yang di goreng.


"emm, apa lagi ya yang enak?"


"Ternyata masih sama" tangan Praya mengambang, suara pamiliar itu menghentikan niatnya.


"Sudah berapa kali aku bilang, mi nggak sehat... raya" Praya meneguk salivanya kasar, Praya merapalkan doa di dalam hatinya, berharap ia salah. takut-takut Praya mendongak, langkahnya otomatis memundur saat wajah yang sudah bertahun-tahun ia lupakan kembali di hadapannya.


"apa kabar?"bibir pria itu bergetar haru, matanya berkaca-kaca tidak percaya, pria bertubuh tegap itu mencekal pergelangan tangan Praya saat wanita itu terlihat menjauh


"aku mohon, jangan pergi lagi" di tariknya Praya masuk ke dalam dekapannya, di peluknya dengan erat tubuh kecil Wanita yang begitu ia rindukan, air mata pria itu tumpah.


"jangan pergi lagi, aku mohon... jangan pergi" suaranya berubah lirih, Praya bisa rasakan pundaknya basah karena air mata pria itu.


"k--ka, le--pas, ki--kita sudah nggak punya hubungan apa-apa lagi" bukannya melepaskan Praya, pria yang Praya panggil dengan sebutan Kaka itu justru mengeratkan pelukannya, ia menggeleng


"nggak, aku nggak mau, aku nggak akan biarin kamu pergi lagi"


"Ka..." dengan sekuat tenaga Praya melepaskan pelukan pria itu.

__ADS_1


"kita sudah berakhir, nggak ada kata kita lagi"


"raya... kamu tau, aku sakit setelah kepergian mu, aku nggak bisa tanpa kamu raya,kita pulang ya, kita menikah dan hidup bahagia, hanya kita berdua" mohon nya dengan suara begitu lirih.


"maaf ka, aku nggak bisa" Praya berusaha agar tidak menatap pria bermata teduh di depannya, Praya takut rasa yang bertahun-tahun ia kubur kembali lagi, mau bagaimanapun, pria dia depannya itu pernah mengisi hatinya.


"kamu nggak usah takut sama mamah, kita pergi jauh dari mereka, kita menikah dan hidup bahagia berdua, ok" Praya menepis tangan yang ingin menyentuh pipinya.


"maaf ka, aku nggak bisa"


"kenapa Praya, Kenapa? apa karena mamah? kamu nggak perlu takut, kita bisa pergi jauh dari mereka, kamu nggak perlu ketemu mereka, ki---


"aku sudah menikah"


deg!!!


"me--menikah, jangan bercanda sayang, aku tau kamu bohong, aku tau hanya ada aku di hati kamu, kamu nggak akan menikah dengan orang lain"


"aku nggak bohong ka, aku sudah menikah, ka Dikta... lupain aku ya, mamah Kaka benar... wanita miskin melarat tidak berpendidikan kaya aku ni... nggak pantas buat Kaka, dan sekarang, aku juga sudah menjadi seorang istri, empat tahun sudah berlalu di antara kita, biarkan waktu enam tahun yang kita lalui bersama cukup menjadi kenangan saja, lupain aku, dan carilah seseorang yang bisa menjadi pasangan terbaik untuk Kaka " Praya terus menunduk, torly belanjaannya di dorong, Dikta tidak lagi menghentikan langkah Wanita itu, ia masih tidak percaya dengan kenyataan perubahan status wanitanya.


"maafin aku ka, maaf..." lirih Praya.


"Praya "


"prayaaaa " nihil, Praya sudah menghilang dari jangkauannya, Dikta mengusap wajahnya prustasi, sedangkan Praya berusaha menyembunyikan diri di balik Tembok.


"prayaa, kembali lah, aku mohon Praya, katakan jika kamu hanya bercanda, Praya..."


flashback on


"Ka Dikta" gadis dengan rambut tergerai, Baju sekolah putih biru masih melekat di tubuhnya, ia berlari menghampiri pria muda yang juga masih mengenakan baju sekolah putih abu-abunya.


Dikta melebarkan tangannya untuk menyambut Si gadis periang. Praya melompat ke pelukan Dikta, Dikta begitu mudah mengangkat tubuh kecil gadis itu untuk berputar-putar.

__ADS_1


"Udah ka udah, kepala Praya pusing" Dikta terkekeh dulu baru ia turunkan tubuh Praya.


"peringkat berapa?"


"coba Kaka tebak dulu" Dikta mengetuk-ngetuk dagunya dengan jari telunjuknya


"emm, satu" tebak Dikta


"benar! raya peringkat satu di kelas dan umum" Praya begitu riang, Praya menunjukan rapot juga piagam penghargaannya, Dikta mengacak-acak gemes pucuk kepala Praya.


"gadis pintar"


"iya dong, siapa dulu yang ngajarin, ka Dikta gitu loh"


"mau hadiah apa?"


"jalan-jalan ke pasar malam" Praya berloncat-loncat layaknya gadis 14 tahun pada umumnya.


"baiklah, tapi ganti baju dulu, Kaka nggak mau ngajak jalan anak sekolahan"


"siap" Praya bersikap patuh dan hormat.


...


Tatapannya kosong, Praya bahkan sudah tidak sadar lagi jika ia melewati jalan pulang ke rumahnya. Praya duduk di salah satu kursi yang ada di pinggiran jalan.


*"gadis kampung kaya kamu itu... nggak pantas untuk anak saya, enyahlah dari kehidupan anak saya*" Bahkan Praya masih ingat betul setiap caci maki juga hinaan yang orang tua Dikta berikan padanya.


*"jangan pernah bermimpi bisa menjadi ratu di rumah saya*"


Praya menghela nafas kasar.


"kenapa harus ketemu lagi sih, argghh" Praya mengacak-acak rambutnya.

__ADS_1


"nggak puas apa liat aku di hina mati-matian sama keluarganya"


__ADS_2