Istri Pemuas Nafsu Sang Ceo

Istri Pemuas Nafsu Sang Ceo
bertengkar


__ADS_3

hancur lebur perasaan Praya, berakhir Sudah semua impian hidup bahagia dengan Bara, lebih sakitnya lagi respon yang pria itu tunjukan padanya, tidak ada sedikitpun penyesalan yang tergambar di sana.


Praya tergopoh-gopoh membawa tasnya ke jalan luar untuk mencari angkutan umum, Praya tidak akan pergi terlalu jauh, yang penting tidak kembali kemasa lalunya, pergi ke tempat yang tidak akan membuatnya mengingat kembali kenangannya bersama bara.


Praya hapus lelehan air mata di pipinya, Praya Tidak tau kemana angkutan umum ini akan membawanya, Praya tidak ada tujuan, Praya tidak ada keluarga yang bisa ja jadikan tempat untuk pulang, satu-satunya orang terdekat hanyalah Bara, itupun sekarang mereka hanya menjadi mantan saja, Praya sudah terputus hubungan dengan Bara, Praya bahkan sudah berjanji dengan dirinya sendiri tidak akan pernah mengenalkan Bara pada anaknya nanti.


Praya turun dari bus yang membawanya, sudah hampir malam, Praya belum bisa temukan tempat untuknya tinggal, Praya putuskan untuk beristirahat di masjid terdekat.


"ya Allah, aku harus kemana, aku nggak tau harus apa, aku nggak punya satupun keluarga, ya Allah permudahkan lah hamba untuk mencari tempat tinggal yang layak untuk hamba"


Praya tidak sadar lagi saat ia terlelep, sampai salah satu jama'ah membangunkannya.


"maaf ya Bu, saya ketiduran" Praya bergegas bangun, ia merasa tidak nyaman karena sudah tidur di masjid dan menganggu jamaah yang lain.


"nggak papa neng, Neng kayaknya bukan warga di sini ya, neng baru datang? Praya Mengangguk.


"iya Bu, saya baru aja sampai tadi siang, saya nggak tau mau kemana, saya masih bingung mencari tempat tinggal "


"di samping rumah saya, ada kosan kosong neng, baru satu bulan di tinggal sama penyewanya, rumahnya kecil sih neng, tapi cukuplah kalau untuk tempat neng tinggal sendiri, kalau neng mau, saya bisa antar neng ke sana " Praya mengangguk antusias.


"mau Bu, saya mau banget " terlihat sekali raut bahagia dari tatapan mata Praya yang indah.


"ya udah, kita sholat ashar dulu, baru neng ikut saya"

__ADS_1


....


"ya Allah Bu, maaf banget sudah merepotkan" ibu baik hati itu membantu Praya membersihkan kasur yang ia bawa dari rumahnya.


"nggak sama sekali ko neng, ibu mah seneng akhirnya punya tetangga lagi, anak ibu orang jauh, jarang datang nemenin ibu, ini kasur juga nggak kepake, dari pada di simpan di rumah kan mending neng pakai, lumayan neng nggak perlu beli lagi"


"makasih banyak ya Bu, saya nggak tau lagi harus berterimakasih seperti apa" keduanya berdiri, Praya antarkan ibu baik hati itu sampai depan rumahnya.


"neng, mau kerja?"


"mau banget Bu, saya niatnya mau cari kerja besok" ibu yang usianya sekitar 45 tahun itu menatap intens Praya.


"sebenarnya ibu kerja jadi pembantu rumah tangga di komplek perumahan depan neng, nah, satu teman ibu yang kerja di rumah majikan ibu berhenti,orang itu juga yang sebelumnya tinggal di rumah neng ini, kalau neng mau ibu bisa perkenalkan Neng ke majikan ibu, kerjanya nggak berat ko, kita kerjain berdua" Praya genggam tangan yang sedikit kasar itu, tangan wanita pekerja keras.


"ya udah, besok ikut ibu ke rumah majikan ibu, sekarang kamu masuk buat istirahat, pasti capek Banget kan" Praya Mengangguk dengan senyum mengembang, ia tidak tau lagi cara bagaimana berterima kasih kepada ibu baik hati itu, beliau sudah banyak menolongnya.


Praya bersyukur sekali, ternyata semua tidak sesulit yang ia bayangkan, Praya di pertemukan dengan wanita baik hati yang menunjukkannya tempat tinggal dan pekerjaan untuknya, semua itu pertolongan dari Allah yang di kirimkan untuk Praya melalui perantara ibu baik hati itu.


Praya bisa tidur nyenyak sekarang, rumah itu tidak terlalu kotor, karena baru kosong selama satu bulan, tadi juga ibu baik hati itu membantu Praya membersihkan rumahnya.


"Alhamdulillah ya nak, kita di pertemuan lagi sama orang baik, ini rezeki kamu sayang, rezeki anaknya mamah"


"besok jangan rewel ya nak di dalam sana, besok mama sudah kerja lagi, kamu harus kuat ya, kita berjuang sama-sama" Praya rebahkan tubuhnya, kali ini ia menyewa rumah yang sedikit besar, ada kamar tidur di dalamnya, tidak ada apa-apa di sana, tadi ibu baik hati itu memberikan beberapa piring, sendok, mangkuk, gelas, untuk Praya gunakan, mungkin besok setelah pulang kerja, Praya akan mampir sebentar membeli kompor dan tabung gas.

__ADS_1


....


"Mas, aku kan sudah bilang, bawa Praya ke sini" Bara tidak menghiraukan ucapan Dista, pria itu terlihat kusut sekali, dua kancing teratasnya sudah terbuka, lengan bajunya terangkat hingga ke siku, baju putihnya terlihat sekali kusutnya, Bara hanya mampir mencium kening Dista dan melewatinya begitu saja.


"Mas bara! di mana Praya?" Dista mengejar Praya hingga masuk ke dalam kamar, tapi pria itu masih tetap diam seribu bahasa, bara lempar jas juga tasnya ke atas kasur, setelah itu ia masuk ke dalam kamar mandi dengan membanting pintu.


"mas!" nihil, bara sudah tidak terlihat lagi di balik pintu kamar mandi.


di dalam sana, bara menatap wajah tegasnya yang terlihat datar, kedua bola Matanya menyerah, bara mengepalkan kedua tangannya hingga timbul urat-uratnya, bara menunduk dan tidak lama terlihat bahunya bergetar hebat, pria itu tersungkur dan menutup mulutnya menahan agar tidak terdengar Isakannya.


ingatan tadi pagi saat menceraikan wanita yang yang sudah memberi warna baru di hidupnya terputar lagi, seharian bara di kantor hanya Praya yang ada di dalam ingatannya. kejadian beberapa waktu yang lalu bersama Dista membuat bara memutuskan untuk menceraikan Praya, setelah berpikir panjang, Bara lepaskan Praya dari ikatan pernikahan yang menjeratnya.


jujur bara tidak rela kehilangan sosok Praya yang sudah menemaninya selama tujuh bulan terakhir, bara memang belum memiliki rasa cinta, tapi bara menyayangi Praya tulus dari lubuk hatinya, ada ketidak iklasan Bara melepas Praya dari hidupnya, tapi hanya itu yang dapat bara lakukan agar ia dan Dista bisa tetap hidup bahagia tanpa ada pengganggu.


"mas! di mana Praya, kenapa Praya nggak ikut sama kamu mas, aku kan sudah bilang akan merelakan kamu demi dia" teriak Dista dari luar, sesekali Dista juga mendobrak pintu kamar mandi dengan tangan lembutnya.


"mas! jawab!"


"mas sudah ceraikan Praya! mas sudah tidak ada hubungan dengannya lagi, mas memilih melepaskan dia dari pada kamu, mas cinta sama kamu, mas nggak bisa hidup tanpa kamu" jawab bara dari dalam kamar mandi.


"kamu gila mas! aku sudah siap di cerai, aku ini perempuan tidak berguna, kamu butuh Praya untuk mendampingi kamu, kenapa kamu menceraikannya" kini air mata Dista tumpah sudah, sakit hatinya mendengar bara ternyata menceraikan istri keduanya itu, padahal Dista sudah begitu bahagia saat Bara katakan akan melepaskannya dan membawa Dista tinggal menggantikannya di rumah mewah mereka.


"karena mas mencintai kamu, mas menikahi Dista hanya karena kebutuhan biologis saja, mas dengannya pun sudah sepakat" pintu kamar mandi terbuka, menampakkan bara yang sudah acak-acakan.

__ADS_1


__ADS_2