
Praya benar-benar kesepian selama di rawat di rumah sakit, Praya tidak punya satupun keluarga di kota besar itu, Praya hanya memiliki bara, tapi bara menolak menemaninya, dan ayu, tapi Praya tidak mungkin mengajak ayu ke ruang rawatnya, Praya di rawat di ruangan VIP, apa tidak jadi pertanyaan jika ayu melihatnya ada ruangan mahal itu, cukup ia persiapkan jawaban tentang alasan Kenapa ka berada di ruangan bara dan berakhir di gendong bara ke rumah sakit saja.
Praya perlahan turun dari tempat tidurnya, ia ingin buang air kecil, mungkin karena tekanan saat Praya menumpukan tangannya, selang infus nya jadi kemasukan darah.
Praya berdecak kesal
"bodoh amat lah, sudah nggak tahan"
selesai buang air kecil, Praya lanjutkan dengan makan siang, Praya jadi trauma melihat makanan didepannya, ia hampir merenggang nyawa saat tanpa sengaja memakan kacang.
karena tangan kanannya yang di infus, terpaksa Praya menggunakan tangan kirinya untuk makan.
"Bismillah " rasa makanan yang masuk ke mulutnya benar-benar hambar.
"nggak enak" nafsu makannya hilang sudah, ia letakkan lagi kotak makanannya ke atas meja, Praya mencoba menghubungi bara, ia ingin bara sebentar saja datang menjenguknya, tapi nihil, berkali-kali Praya telpon tapi bara tidak mengangkat panggilanya, bahkan dengan teganya bara memutuskan secara sepihak panggilannya.
Praya menyeka sudut matanya yang berair, ia wanita sebatang kara, Praya sangat benci jatuh sakit seperti ini, ia tidak memiliki keluarga, tidak ada tempatnya untuk mengeluhkan keadaannya.
"gimana ya rasanya di pangku mama" Praya tersenyum getir.
"jangan pernah bermimpi Praya, kamu tu wanita sebatang kara"
"lagian, salah sendiri sih, siapa suruh nggak liat liat dulu, kan jadi makan kacang"
"kalo sakit gini jadi keinget dia, cuman dia yang dengan tulus menyayangi ku " Praya menggeleng
"Praya, ingat... kamu sudah nikah, lupain dia, lupain, kamu mau sakit hati lagi, hah" Omel Praya pada dirinya sendiri.
Praya kembali tidur dengan perut kosong.
...
"mbak, saya boleh pulang?, nggak betah saya di sini" perawat wanita yang baru saja menyelesaikan pekerjaannya mengukir senyum.
"belom bole mbak, kondisi mbak Praya Belum pulih, kalau dalam dua hari kondisi mbak membaik, mungkin Minggu depan sudah di ijinkan untuk pulang" Praya menghela nafas.
"mbak, nggak ada yang datang jenguk saya, ya?" perawat tersebut menggeleng.
"tega banget kamu mas, aku sakit gini kamu benar-benar nggak peduli" Praya membatin, ia menoleh ke arah samping, perasaan hatinya benar-benar kacau, air matanya kembali menetes lagi.
....
"Mau makan diluar, atau makan di rumah?"
"Mau makan di luar" jawab Dista dengan antusias
__ADS_1
"baiklah tuan putri, kita siap-siap dulu, Malam ini kita akan makan di luar"
"tapi aku yang pilih tempatnya, ya?"
"iya sayang ku" bara sedikit menunduk dan mendaratkan ciuman di pipi kiri istrinya, pria itu terlihat biasa saja, tidak ada raut khawatir sama Sekali, ia benar-benar melupakan Praya jika sudah berada di dekat Dista.
Dista berasal dari keluarga yang berada juga, tapi ia begitu rendah hati, mungkin itu salah satu alasan bara begitu mencintainya dari banyaknya alasan mencintai istrinya. Dista tidak ragu untuk meminta bara makan di tempat makan pinggir ranjang.
"sayang... kamu yakin mau makan di sini?" Praya mengangguk antusias.
"ayo mas, aku sudah nggak sabar pengen makan mi ayam" rengek Dista.
"iya sayang, iyaa"
bara mendorong kursi roda Praya masuk ke warung makan kecil itu.
"mas, mi ayam spesial dua porsi"
bara berdecak kesal saat Praya tak henti-hentinya menelpon dan mengirim pesan yang ia anggap Sangat mengganggu.
"siapa mas?
"orang nggak penting" sarkas bara dengan kesal
"mas, angkat aja, siapa tau dia lagi butuh bantuan kamu mas, kesian, dari tadi Lo telponnya" bara hembuskan nafas.
di luar, bara langsung menghubungi Praya, panggilannya pung langsung di angkat
"assalamualaikum, mas a---" belum selesai ucapannya,bara langsung mengomelinya
"Bisa berhenti menelpon saya, hah, saya sedang menikmati waktu dengan istri saya, jadi saya mohon berhentilah menelpon " ucap Praya penuh penekanan, kemudian ia matikan panggilan secara sepihak.
tiit!!
"mas!" paraya menatap nanar ponselnya.
"aku juga istri kamu mas, aku cuman mau denger sebentar suara kamu, nggak lebih "Praya mengenadah menatap langit-langit kamarnya, ia teguk salivanya susah payah.
....
dua hari sudah Praya di rawat di rumah sakit, kondisinya belum pulih juga, dari kemarin wanita muda itu belum ada makan apapun.
"mbak, di makan yaa... biar ada tenaganya"
"nggak selera dok, pahit"
__ADS_1
"orang sakit emang gitu mbak, padahal mah rasa makanannya enak, sudah sesuai juga sama gizi yang di perlukan tubuh" dokter perempuan itu melepas stetoskopnya.
"mbak sendiri, orangtua, keluarga atau sudah bersuami"
"saya nggak punya orang tua dok, saya juga nggak tau keluarga saya siapa, saya sudah menikah" dokter wanita itu menatap dengan serius wanita bermata sayu itu. sebenarnya ia ingin bertanya lebih lanjut, tapi sepertinya wanita itu menyimpan kesedihan yang begitu dalam, dokter itu memilih pergi.
"keluarga, orang tua, suami" Praya Menyunggingkan senyum penuh luka.
"aku kira setelah menikah, Aku bisa dapat keluarga yang bahagia, tapi nyatanya nggak , aku tetap sendiri, dan terus akan tetap sendiri, selamanya "
....
Praya dengan sekuat tenaga turun dari ranjangnya, ia sungguh tidak tahan lagi, Praya ingin pulang, biasanya saat sakit, Praya cukup minum obat pereda aja, insyaallah besoknya sudah nggak papa.
"sakit banget kepala ku"
"permisi "
"eh mbak Praya, ada apa, infusannya habis" Praya menggeleng.
"saya ingin pulang, saya akan menandatangani surat ketentuannya, tapi saya mohon ijinkan saya pulang " ini sudah yang ke 3 kalo semenjak Praya di rawat di rumah sakit, wanita itu tak henti-hentinya minta pulang di saat kondisinya belum pulih benar. sepertinya mereka tidak bisa memaksa, itu juga hak pasien. mereka akhirnya meminta Praya mendatang beberapa surat persetujuan.
infus Praya sudah di lepas, tidak ada pakaian ganti, Praya gunakan baju kerjanya saja, tidak ada yang datang membawakan baju ganti, atau sekedar menjenguk, tidak masalah, yang penting ia bisa pulang.
"ini obatnya ya Mbak, di minum teratur"
"iya dok, makasih "
Praya datang kerumah sakit tanpa membawa uang sepeserpun, tasnya juga tertinggal di kantor, terpaksa Praya berjalan kaki menuju kantor bara, semoga saja kantor nya masih buka.
....
"Praya"
"Prayaaaa" bara berdecak kesal saat tidak ia temukan Praya di kamarnya, bara juga sudah mengecek kabar mandi, tapi tak kunjung menemukan Praya, akhirnya bara putuskan untuk bertanya ke ruangan perawat.
"mbak, maaf , pasien atas nama Praya kemana ya, saya ke kamarnya tapi nggak ada siapapun di sana"
"mbak Praya sudah pulang pak"
"pulang?"
"iya pak"
"sudah sembuh?"
__ADS_1
"belum pak, tapi pasien bersih keras untuk pulang"
"astagaaa, Praya, nyusahin aja" bara berdecak kesal, ia keluar dari ruangan tersebut, tujuannya sekarang adalah rumah Praya, bara ingin meluapkan emosinya pada wanita itu.