Istri Pemuas Nafsu Sang Ceo

Istri Pemuas Nafsu Sang Ceo
pertemuan setelah sekian lama


__ADS_3

"Praya, minta tolong buatkan teh untuk mbak Dis sama suaminya, ibu mau beli coklat dulu di warung depan" bi Inah berbicara tanpa berbalik menghadap Praya, ia di sibukkan dengan pekerjaannya membuat kue kesukaan anak majikannya itu.


"mereka sudah datang Bi?"


"iya, baru aja, minta tolong ya Praya"


"iya bi, nanti saya lanjutkan menyetrikanya" Praya lepas kabel penghubung setrikaan, ia rapikan dulu pakaiannya yang sedikit berantakan. Praya berjalan pun kesusahan, ia terus pegangi pinggangnya yang nyeri karena kelamaan berdiri.


Tiga gelas teh sudah tersaji di atas nampan,. Praya bawa nampan itu menuju ruang tamu, Praya tidak perhatikan wajah dari dua orang yang duduk bersama Farah di sana. Praya mendekat dengan kepala yang terus menunduk.


"terimakasih Praya" ucap Farah setelah Praya selesai menata teh itu di depan masing-masing dari mereka. mendengar ucapan Farah, secara spontan kedua suami istri itu saling pandang, mereka Pradista dan Bara, dua orang yang Praya kenal. Praya sama sekali belum menyadari kehadiran mereka berdua, Praya tersenyum hangat pada Farah, kemudian ia ingin menunduk sopan kepada anak majikan dan suaminya, terkejutnya Praya setelah tatapannya beradu dengan pria berbadan tegap yang duduk tepat di hadapannya. Nampan di tangannya sampai jatuh yang membuat Praya kalang kabut, Farah membantu Praya yang kesulitan mengambil nampannya karena di halangi dengan perutnya yang besar.


"Praya, kamu kenapa nak? perutnya keram?" Farah mengusap perut Praya, tatapan kedua orang di sana pun ikut tertuju pada perut besar Praya. wajah Praya sudah pucat pasih, nampan di tangan hampir saja jatuh lagi, untungnya Praya masih bisa menahannya.


"Praya" Farah menyentuh punggung tangan Praya yang membeku di tempatnya.


"nak, hey, sadar Praya" Farah jadi kawatir karena wanita muda itu terlihat sangat pucat, wajahnya ketakutan, bibirnya bergetar juga tangannya tak henti bergerak.


"Praya!" Farah sedikit meninggikan suara, syukurnya Praya langsung sadar, Praya menatap Farah.

__ADS_1


"kamu kenapa?" Praya menggeleng.


"sa--saya masuk dulu Bu" Farah dan kedua suami istri itu menatap kepergian Praya yang mulai hilang di balik pintu dapur.


"mungkin perutnya keram lagi, biasalah, hamil tua, kalau banyak kerjaan punggung, perut jadi sasaran ngilu" ucap Farah dan kembali duduk di gelaran.


"di minum nak" Bara dan Dista saling tatap, keduanya pun sama terkejutnya, apalagi melihat kondisi Praya yang sedang hamil besar.


"mah" panggil Praya dengan Sinaga lirih, bara nampak khawatir dan mencoba menggenggam tangan Dista, tapi wanita itu menolak.


"iya, kenapa?" Farah letakan lagi gelas setelah ia seruput tehnya.


"lumayan sih nak, sekitar delapan bulanan, seusia kandungannya" jawab Farah dengan polosnya, tanpa tau jika Praya pernah memiliki hubungan erat di antara mereka.


"su--suaminya mana mah, kok dia masih kerja padahal Suad dekat lahiran" Farah memutar sedikit kepalanya ke arah dapur di mana Praya masuk tadi.


"anak itu kesian banget nak, pasti kamu terkejut ya karena namanya sama dengan nama adik kamu..." Farah hembuskan nafas sebentar melanjutkan ceritanya.


"Praya datang dengan BI Inah, delapan bulan lalu, mamah baru tau kalau dia hamil pada bulan ke lima kalau nggak salah" Dista dan Bara mendengarkan dengan serius.

__ADS_1


Farah melanjutkan lagi ceritanya "mamah tanya kedia, kenapa anak itu nggak jujur dari awal, ternyata kehidupan sulit sekali nak, Praya cerita semuanya, Praya sudah bercerai dengan suaminya, ia di talak saat ia hamil muda.. Praya Juag cerita kalau pernikahan mereka salah, suaminya menikahi dia untuk memuaskan nafsu saja" ucapan Farah terpotong karena Bara tiba-tiba tersedak air liurnya sendiri, Dista yang duduk di sampingnya membantu Bara untuk minum dan mengusap punggungnya.


"kamu nggak papa nak?" tanya Farah.


"saya nggak papa mah" ucap Bara setelah lebih tenang.


"memuaskan nafsu?" ucap Dista pura-pura tidak tau.


"iya, Praya itu kan masih sangat muda, dia masih polos juga. katanya Praya itu kerja sebagai cleaning service di kantor suaminya, Praya menaruh hati pada suaminya itu karena katanya suaminya tampan dan dewasa. tiba-tiba aja suaminya itu menawarkan satu penawaran gila yang tidak Praya pikirkan resiko kedepannya. Suaminya itu ingin menikahinya untuk di jadikan teman di atas ranjang saja" Bara seakan terceli kerah bajunya sendiri, Bara palingan wajah kesembarang arah.


"maksutnya gimana mah?" tanya Dista lagi.


"iyaa, Praya di jadikan kaya istri untuk memasukan bawa nafsunya saja, suaminya itu data menemui Praya hanya minta di puaskan, Praya tidak pernah mendapatkan nafkah dari suaminya. sebenarnya Praya di Masih uang yang banyak, tapi Praya tidak mau ambil, soalnya yang itu di berikan suaminya dengan cara di lempar tepat setelah mere selesai berhubungan suami istri" Dista tidak sanggup menahan tangisannya, ia baru tau mengenai satu fakta gila ini, apa suaminya sungguh Setega itu dengan Praya, Dista menatap nyalang Bara yang duduk di sampingnya. Dista dengan cepat menghapus air matanya saat Farah melanjutkan lagi ceritanya.


"Praya di paksa minum pil KB agar tidak hamil, suaminya bilang nggak sudih punya anak dari Praya yang satunya tidak sebanding sama dia nak"


"terus kenapa sekarang dia hamil mah?" tanya Dista bingung, Bara yang tadi enggan menatapnya wajah Farah, kini memberanikan diri menatap wajah mertuanya.ia juga ingin tau, apa anak itu adalah anak yang pernah ia minta pada Praya untuk di gugurkan. jika benar, berarti itu anaknya.


"pernah mereka bertengkar hebat dan Praya minta ceria karena sudah nggak tahan nak, tapi suaminya nggak mau mere bercerai, si suami mulai berubah, nah Praya pikir suaminya tulus dan mulai bisa menerimanya, Praya nggak minum lagi obat pencegah kehamilannya, dan akhirnya hamil. itupun suamin dengan tega meminta Praya membunuh anaknya, Praya nggak mau dan memilih berpisah"

__ADS_1


__ADS_2