
Praya bersiap pulang, semua pekerjaannya sudah selesai. saat menyusuri lorong jalan, Praya di kejutkan dengan Dikta yang berdiri di depannya
"k--ka Dikta"Praya remas kuat tali slime bag yang ia kenakan. Dikta berjalan maju, sedangkan Praya mematung, ia seperti kehilangan kemampuannya dalam bergerak. wajah pria itu datar Tanpa ekspresi
"Hay, apa kabar, Raya" satu alis Dikta terangkat.
"k--ka Dikta"
"iya, ini aku raya. Dikta melangkah lebih dekat lagi, Praya tidak menyangka jika Dikta akan memeluknya. Dikta benar-benar melepaskan kerinduannya, ia peluk erat tubuh kecil Praya, kekasih hatinya yang pergi empat tahun lalu.
"jangan tinggalin aku lagi, raya. aku nggak bisa tanpa kamu, aku sayang kamu, raya" Praya tersadar, di dorongnya kuat tubuh besar yang dulu begitu ia rindukan.
"maaf ka, aku harus pergi" tidak segampang itu Praya pergi, Dikta menahan pergelangan tangannya
"Ka, aku mohon lepas" lirih Praya, Dikta menggeleng.
"kita sudah nggak ada hubungan apapun lagi, raya dan Dikta sudah mati, nggak ada kata kita lagi"
"itu bagi kamu, untuk ku nggak ada kata berkahir" Dikta melirik tajam, sungguh Praya takut ada yang melihatnya.
"aku sempat tidak percaya Jika kamu bekerja di sini, tapi ternyata benar, kamu sungguh raya ku, raya si gadis kecil pering yang sudah mewarnai hari-hari ku" Praya menginjak kaki Dikta dan berhasil membuat tangannya terlepas, Dikta mengerang kesakitan sedangkan Praya sudah berlari kencang menjauh dari sana.
"Praya!" nihil, Praya sudah tidak terlihat lagi.
"tapi setidaknya aku bisa menemukan kamu, aya. aku tau kalau kamu Tumbu baik tanpa aku, dan kamu semakin cantik" Dikta tersenyum hangat, Cintanya begitu tulus untuk Praya, tapi karena orangtuanya lah yang akhirnya membuat Praya menyerah dan memilih pergi meninggalkan Dikta. Restu tidak bisa mereka dapatkan karena perbedaan status sosial yang jauh.
"aku nggak akan biarkan kamu pergi lagi, raya"
.....
Praya masih mencoba menenangkan detak jantungnya yang tidak karuan karena ulah Dikta.
"kenapa jadi sering ketemu ka Dikta di kantor mas bara sih, apa jangan-jangan ka Dikta kerja di sana" Praya berpikir keras, kenapa ia sering bertemu dengan Dikta. Praya menepis kemungkinan Jika Dikta berkerja di sana, orang tua Dikta juga memiliki perusahaannya sendiri, dan Dikta sudah di siapkan untuk menjadi penerus mereka.
"nggak mungkin ka Dikta kerja di kantor mas Bara, ka Dikta punya perusahaan sendiri, ah tau ah malas" dengan perasaan bingung Praya lanjutan perjalanannya.
__ADS_1
Praya berlari menghampiri mobil bara yang terparkir di tempat biasa mereka bertemu, sebenarnya tadi Bara memang memintanya menunggu di sana, tapi karena sempat tertahan oleh Dikta, al hasil Praya terlambat.
"maaf ya mas, nunggu lama" bara berpaling dengan tatapan dingin.
"habis ngapain kamu, saya dari tadi nunggu kamu di sini"
"maaf mas, tadi ada perlu sebentar"
"cepat masuk, jangan mengulur waktu lagi"
"iyaa"
"mas, kita makan di luar boleh?" prayaa pandangi wajah Bara dari samping, Praya benar-benar kagum dengan pahatan rahang bara yang terlihat tegas sempurna, bara yang sadar dengan kelakuan istri mudanya itu pun menoleh yang membuat Praya jadi salah tingkah, Praya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"kenapa liatin saya kaya gitu?"
"eng--engak papa ko" tidak tau juga Praya ingin menjawab apa.
"saya tau saya ganteng nggak usah di liatian terus juga dong "
"tadi kamu bilang apa?" bara baru ingat dengan ucapan istrinya tadi.
"mau makan di luar boleh " pandangan mereka bertemu, Praya memasang wajah menggemaskan berharap Bara luluh, tapi tidak sama sekali, Bara menggeleng yakin, bahu Praya merosot dan bibirnya yang tadi terangkat membentuk senyum berubah jadi melengkung kebawah.
"Maas please, boleh ya" Praya masih berusaha membujuk, tapi tetap saja Bara dengan pendiriannya untuk tidak makan di luar.
"nggak boleh, kita beli aja makanannya terus bawa pulang" Praya jadi malas berdebat, ia iyakan saja apa kata bara, Praya ingin makan berduaan sama Bara sekali saja, apa bara tidak mengerti juga.
"saya takut ada yang melihat kita, saya harap kamu bisa ngerti situasi hubungan kita"
"iya, aku ngerti" jawab Praya ketus "
sebentar lagi magrib, jadi bara mencari tempat yang sepi pelanggan agar cepat sampai rumah.
....
__ADS_1
bara menunggu di dalam mobil, sedangkan Praya turun membeli nasi Padang untuk mereka berdua, Praya tidak sadar saat menunggu, ada beberapa orang yang terus menatap kearahnya, ada tiga orang Pria yang sejak kedatangan Praya sudah berniat melakukan kejahatan padanya.
pria yang menggunakan baju merah menyenggol bahu temannya, mereka terus melirik Praya dari atas hingga bawah.
"cantik" ucap pria berbaju Hem biru
"santapan kita tuh, bisa jadi hiburan " mereka tertawa membuat Praya menoleh, Praya menatap risih pada mereka, pasalnya mereka menatap Praya dengan tatapan lapar, bergegas Praya mengambil plastik nasinya, begitu juga dengan ketiga Pria yang sejak tadi menunggu Praya selesai, mereka bergegas membayar pesanan dan menyusul Praya.
Praya celengak celenguk mencari keberadaan mobil Bara, Praya belum pikun, tadi Bara memarkirkan mobilnya tepat di samping warung nasi Padang itu tapi di mana bara sekarang, Praya menoleh yang tertanya ketiga pria tadi itu tepat berada di belakang nya, dengan tangan gemetar Praya meraih ponselnya dari dalam tas nya. jantung nya sudah berpacu tidak karuan di dalam sana.
tidak langsung di jawab bara, butuh berkali-kali barulah Bara mengangkat panggilannya
"mas, aku Mohon angkat" lirih Praya, matahari pun sudah tenggelam sempurna, semakin was-was lah Praya karena jalan mulai sepi.
"mas Bara"Praya mengigit bibirnya takut, tidak satupun ia temukan di angkutan umum yang lewat, karena mereka akan kembali ke jalan setelah sholat magrib atau isya. Praya melajukan jalannya dengan sesekali menoleh kebelakang berharap apa yang ada di dalam pikirannya itu salah, tapi nyatanya ketiga pria itu masih terus mengikutinya. air mata Praya mulai turun dengan deras, ia ketakutan, tidak tau harus meminta tolong pada siapa, Suami yang seharusnya ada untuk melindunginya justru pergi meninggalkannya.
"kamu ko tega banget ninggalin aku mas, ya Allah mas" lirih Praya Dengan suara bergetar.
Praya masih berusaha menelpon Bara dengan terus melangkah, dengan cepat Praya meletakkan ponselnya di telinga saat bara menghubunginya.
"mas---" ucapan Praya terpotong karena bara lebih dulu memberikan bentakan di sebrang sana.
*"BERHENTI MENGHUBUNGI SAYA, PRAYA. ISTRI SAYA JATUH PINGSAN, APA KAMU BISA BERHENTI MENGANGGU SAYA DENGAN TERUS MENELPON SAYA, KAMU BISA PULANG SENDIRI KAN, MASIH PUNYA KAKI JUGA KAN, MULIT SAMA TANGAN KAMU MASIH BERFUNGSI UNTUK MEMANGGIL ANGKUTAN UMUM KAN, PULANG LAH SENDIRI, ISTRI SAYA LEBIH PENTING DI BANDINGKAN KAMU, PRAYAAAA!" bara matikan ponselnya setelah itu. sesak sekali mendengar bentakan dari Bara, pria itu benar-benar kasar, apa ia tidak sadar atau lupa, Praya juga istrinya, dan Praya juga butuh ia sekarang.
"aku juga istri kamu mas, aku butuh kamu mas"
"cantik, sendiri aja nih, pulang sama Abang yu" pria berbaju merah memainkan lidahnya, benar-benar terlihat mengerikan
"cantik, sini pulang sama Abang, Nanti Abang sama teman-teman Anang buat cantik merasa hangat dan mendesaaah " mereka tertawa terbahak-bahak. Praya tidak tunggu lama lagi, ia berlari sekuat tenaganya, walaupun kakinya sekarang lemas.
"pergi, jangan ganggu saya" Teriak Praya di tengah ketakutannya.
"sayang Jangan lari, sini dong duduk di pangkuan Abang "
"Abang janji akan buat cantik merasa nyaman " karena kurang hati-hati membuat Praya tersandung batu.
__ADS_1