
Satu pesan masuk membuat Praya berhenti mengaduk susu di dalam gelas, air matanya tumpah, pesan masuk dari Bara.
*"Kita sudah bukan lagi Suami istri di mata hukum dan agama, kita selesai"
"makasih ya mas, untuk semuanya, untuk waktu tujuh bulan yang berharga, aku harap kamu selalu bahagia dengan mbak Dista" pesan itu hanya di baca bara saja.
Praya tidak ingin larut dalam kesedihan, Praya lepaskan SIM card dari ponselnya untuk di ganti dengan yang baru, Praya memang sengaja menunggu bara menghubunginya setelah perceraian mereka selesai di urus, baru setelahnya ia membuang nomor ponsel yang biasa bara hubungi.
"kita berakhir mas, hubungan kita berakhir" tumpah sudah air mata itu, Praya duduk bersimpuh di lantai kontrakannya, menutup wajahnya dengan kedua tangan, bahunya bergetar.
"makasih untuk semua rasa sakit yang kamu berikan untuk ku mas, makasih untuk semuanya"
"aku akan belajar untuk melupaka kamu mas"
...
Praya tidak ingin berlarut-larut dalam kesedihan, Praya harus tetap hidup demi anak yang ada di dalam kandungannya.
hari demi hari berlalu, Minggu berganti bulan, kondisi perut Praya semakin membesar, Praya dengan tubuh kurusnya mampu menutupi kehamilan yang sekarang menginjak usia lima bulan, sampai sekarang, tidak ada satupun orang di rumah majikannya yang tau mengenai statusnya sebagai seorang janda, dan sekarang sedang hamil besar, begitu juga dengan BI Inah.
__ADS_1
"Praya, saya mau ngomong" tiba-tiba suasana menjadi tegang, intonasi bicara dari si majikan terdengar dingin, bahkan Farah tidak menatap lawan bicaranya seperti biasa. Praya sudah gugup setengah mati, tangannya saling menggenggam di bagian depan.
"duduk, Praya" Praya patuh, duduk agak jauh dari Farah, Praya pun tak berani untuk mengangkat kepalanya, ia tidak merasa melakukan kejahatan juga, tapi dari nada bicara Farah, pasti ada yang salah dengan cara kerjanya selama kurang lebih lima bulan ini.
"kamu mau jujur sekarang, atau saya yang buat kamu mengaku" debaran jantung Praya kini berdetak tidak karuan, Praya gigit bibirnya dalam-dalam, ia sungguh tidak mengerti, ia tidak tau kesalahan apa yang sudah ia perbuat sampai membuat si majikan marah.
"ma--maaf Bu, sa--saya benar-benar nggak ngerti maksud ibu, sa--saya nggak tau sudah buat salah a--apa" akhirnya Praya beranikan untuk buka suara, ia berkata jujur, Praya tidak pernah melakukan kejahatan, walaupun ada kecerobohan kerja yang Praya lakukan, pasti Praya langsung meminta maaf.
Farah yang tadi pandangannya kosong ke depan, kini menghadap Praya, menatap dengan pandangan yang sulit untuk di artikan Praya, apa maksud dari tatapan itu.
"kamu hamil" ucap Farah tegas, secara langsung, dan tidak ada basa basi lagi. sekarang Praya paham, mungkin sudah saatnya ia jujur, toh ia hamil juga bukan sebuah kesalahan, anak itu hadir di antara pernikahan sah ia dan mantan suaminya. Praya mengangguk dengan kepala menunduk, sekarang Praya pasrah, jika ia harus di pecat dari pekerjaannya, Praya tidak pernah berniat untuk bohong, ia tidak menemukan waktu yang tepat saja untuk berkata jujur.
"lima bulan buk" helaan nafas terdengar berat dari Farah, ia tidak habis pikir, kenapa Praya harus menyembunyikan kehamilannya, Jika terjadi sesuatu dengan bayinya saat bekerja di rumahnya , bukan kah Farah juga yang harus bertanggung jawab.
"kenapa kamu tidak jujur Praya, kenapa kamu tutupi kehamilan kamu, Kenapa kamu tidak katakan dari awal, Jika kamu jujur saya akan tetap memperkerjakan kamu di rumah saya, dan saya bisa lebih hati-hati jika ingin meminta kamu melakukan sesuatu. bahaya Praya, kamu hamil kaya gini, tapi saya nggak tau" nada suara Farah berubah lirih penuh rasa bersalah, kini Praya merasa bersalah telah menutupi kehamilannya, Praya sungguh tidak bermaksud bohong sama sekali.
"maaf Buk, saya salah" pada akhirnya, hanya kalimat itu yang dapat keluar dari mulut Praya.
"sudah-sudah, tidak ada yang perlu di sesali juga , syukurnya saya tau sekarang, dari pada tidak sama sekali, bi Inah yang sebenarnya mulai curiga dengan perubahan perut kamu itu, andai saya tau lebih lama lagi, pasti kamu akan kerjakan pekerjaan berat lagi"
__ADS_1
"maaf Buk" Praya masih terus menunduk, tidak berani mengangkat kepalanya, Farah kini berubah mimik wajahnya, berubah teduh lagi, ia mendekat dan duduk di samping Praya. tangan lembut wanita yang tidak lagi muda itu terulur untuk mengusap perut Praya, satu bibirnya terangkat membentuk senyum.
"dia nggak salah Praya, mau bagaimanapun dia hadir ke dunia ini, jangan pernah salah kan dia dan menyembunyikan kehadirannya" sontak Praya kaget mendengar ucapan Farah, ia sentuh tangan Praya, dan berani mengangkat wajahnya, Farah Kun ikut kaget dengan respon itu.
"Praya, kenapa?"
"saya tidak pernah ada niat untuk menyembunyikan buk, saya hanya menunggu waktu yang tepat saja..." Praya menjeda Kalimatnya.
"buk, anak saya ini bukan hasil zinah, saya sudah menikah" Farah jelas kaget, ia ternyata salah sangka saja, ia kira Praya melakukan kesalahan hingga bayi di dalam kandungannya hadir di dalam perutnya.
"tapi sekarang, saya sudah bercerai dengan beliau Bu" Farah tidak bisa mengatakan apa-apa lagi, wanita semuda Praya sudah harus menyanda status janda, dan harus melewati masa kehamilan seorang diri juga.
Praya menunduk dalam.
"usia pernikahan saya dengan beliau begitu singkat Bu, setelah tujuh bulan menikah, saya bercerai, dan saya hamil waktu itu, saya sadar, kenapa pernikahan saya dengan mantan suami saya tidak berjalan baik, itu karena pernikahan saya yang tidak benar" tiba-tiba saja tenggorokannya tercekat, ada rasa sesak kembali memenuhi hatinya. tidak ingin Farah berpikir yan tidak-tidak lagi, Praya lanjutkan saja ceritanya, toh dia sadar, Wanita di depannya ini bukan orang jahat, beliau baik, beliau tidak akan menghakimi Praya atas keputusan salah yang pernah ia ambil.
"Saya mencintai mantan suami saya bu, saya tulus Dengannya, tidak ada sedikitpun keraguan saya Padanya. saya anak yatim-piatu, saya tidak pernah rasakan sosok orang tua selama saya hidup" Farah mendengarkan dengan iba.
"saya bekerja di tempat beliau, di kantor suami saya. lama-lama timbul rasa cinta di hati saya Bu, saya tau ini salah, beliau orang yang terpandang, sedangkan saya... perempuan sebatang kara" Praya dengan cepat menghapus air matanya yang tiba-tiba turun, Farah mengusap punggung wanita itu.
__ADS_1
"tiba-tiba beliau datang dan bilang ingin menikahi saya, beliau jelaskan semunya, kenapa beliau ingin menikahi saya, beliau hanya ingin di puaskan di atas ranjang, buk " Farah menutup mulutnya, cerita gila apa yang ia dengar dari pekerjanya ini.