
"hari ini, anak sulung ibu Farah mau datang sama suaminya" bi inah memindahkan ikan santan yang sudah ia buat kedalam piring, sedangkan Praya sibuk menata meja Serapi mungkin. kandungan Praya sudah memasuki bulan ke delapan, jadi Praya agak mulai susah saat bekerja, Praya lebih mudah meras begah, sebenarnya Praya ingin beristirahat dan menunggu hari kelahirannya saja, tapi apalah daya, Praya tidak punya siapa-siapa, Praya harus tetap banting tulang untuk menghidupi hidupnya dan anaknya yang ada di dalam kandungan, mau tidak mau.
mungkin Praya akan beristirahat saat dekat hari ingin melahirkan saja, Praya butuh uang banyak untuk melahirkan, juga biaya hidup mereka setelah melahirkan.
Praya tegakkan lagi tubuhnya, ia usap-usap punggung yang terasa nyeri karena kelamaan membungkuk.
"pasti ibu Farah sayang Banget ya bi sama anaknya itu?" Praya mendekati bi Inah, ia bantu bi Inah membawa semangkuk sup ayam ke atas meja.
"sudah pasti itu, Praya"
"enak banget ya bi, bisa punya orang tua sebaik mereka, beruntung banget pasti anak-anak ibu Farah"
bi Inah menoleh menghadap Praya, wanita muda itu menekuk wajahnya. jika di bandingkan hidupnya dengan hidup anak Farah, pasti perbedaannya seperti langit dan bumi,jauh sekali perbedaannya. anak farah hidup dengan bergelimang kasih sayang dari orang tua sebaik Farah dan suaminya, sedangkan dia, anak yang tidak pernah di inginkan bahkan di buang tanpa perasaan, sungguh malang nasibnya, Praya masih terlalu muda untuk merasakan semuanya sendiri, tanpa ada sosok orang tua di sampingnya.
__ADS_1
"nggak usah sedih, kan kamu ada Bi Inah" Praya Menyunggingkan senyum dan memeluk ni Inah. semenjak bekerja di rumah mewah Farah dan kenal dengan BI Inah, Praya sudah menganggap bi inah seperti anaknya sendiri, begitu juga sebaliknya.
bi Inah selalu berbaik hati dengan berbagai apapun masakan yang ia buat untuk Praya. terkadang Praya merasa sungkan dengan BI Inah, Praya merasa belum bisa membalas kebaikan dan ketulusan hati BI Inah.
"makasih ya bi, bi Inah baik banget sama saya, saya sampai nggak tau mau balas kebaikan bi Inah yang mana dulu" perlahan Praya melepaskan pelukannya.
"kamu tu sudah bi inah anggap anak, kita di kampung orang sama-sama sebatang kara, jadi harus saling membantu" Praya mengangguk, ia kembali meletakkan teko air ke atas meja.
"satu jam lagi mungkin "
"Kenapa Praya?"
"nggak papa bi, Praya nyentrika baju dulu ya bi"
__ADS_1
"iya Praya, oh iya, baju kemarin minta tolong di setrika juga sekalian Praya, bibi mau masakan kue kesukaan mbk dis"
"iya bi"
....
Praya meringis dengan meremas kuat pinggangnya, berdiri lama-lama seperti inipun sudah sangat sulit ia lakukan semenjak hamil besar.
"ya Allah nak, sakit banget pinggang ibu sayang " Praya duduk sebentar di kursi, sebenernya di sana ada kursi, tapi Praya lebih nyaman menyetrika dengan posisi berdiri.
"kuat-kuat ya nak, temani ibu terus sayang, sebentar lagi kita akan ketemu, ibu nggak sabar banget mau Gendong kamu nak" Praya menyunggingkan senyum, tangannya terus berputar abstrak di atas permukaan perutnya.
"kamu nanti jangan cari papah kamu ya nak, kamu cuman punya ibu di dunia, ibu akan kasih kamu cinta papah sekaligus ibu sayang "
__ADS_1