
Pov Megha Aslan
Perkenalkan nama ku adalah Megha Aslan,usiaku kini memasuki lima puluh tujuh tahun meski sudah hampir setengah abad tapi sebagai seorang wanita aku masih merawat diriku sehingg di usiaku saat ini aku masih cukup menarik di mata orang-orang sekelilingku termasuk dalam lingkungan sosialit yang masih aku geluti sampai sekarang ini.
Aku adalah seorang sosilita,wanita yang hidup dalam kelimpah ruahan harta yang berlimpah.Suamiku yang bernama Brian senor aslan adalah seorang miliarder di sebuah negara adi kuasa.Dia memiliki lebih dari satu perusahaan,di mulai dari industri tekstil,sandang pangan,transportasi,real estate hingga perhiasan mewah yang saat ini berada di bawah pengawasanku.
__ADS_1
Aku memiliki tiga orang anak,satu putri dan dua putra.mereka adalah michael senor aslan,zain senor aslan dan nadine fe aslan.mereka adalah anak-anak yang sangat kami sayangi,tidak hanya dengan harta kami melimpahi mereka dengan kasih sayang dan pendidikan yang baik.sebagai orang tua kami tidak ingin menghancurkan masa depan anak-anak kami hanya karena melimpahi mereka dengan materi.Meski aku dan suamiku sangat sibuk dengan urusan perusahaan tapi kami selalu berusaha meluangkan waktu untuk mengawasi dan melihat perkembangan anak-anak kami.
Harta tidak menjamin kebahagiaan..kata-kata itu yang pernah terdengar di telingaku.mungkin sebagian orang menganggap materi adalah hal yang terpenting,sebagian juga mungkin berbalik menolak ungkapan ini.tapi buatku itu adalah benar adanya.
harta tidak sepenuhnya menjamin kebahagiaan seseorang.
__ADS_1
Sekuat dan setegar mungkin aku dan suamiku menjalani cobaan yang bertubi-tubi ini,meski memiliki harta yang berlimpah namun kami tidak bisa berbuat apa-apa hanya bisa pasrah pada keputusan dan takdir Allah.setiap malam aku dan suamiku selalu menyempatkan untuk bersujud memohon kekuatan dari-NYA.aku dan suamiku adalah muslim yang taat.
Lima tahun pun berlalu sejak peristiwa mengenaskan itu,kini hanya ada zain dan nadine di tengah kami.aku dan suamiku sudah bisa merelakan kepergian michael begitu juga nadine,kami sudah mengikhlaskannya tapi tidak untuk zein.semenjak peristiwa itu zein menutup diri dari kami,juga dari dunia luar.Dia seolah tidak peduli pada hidupnya,selama lima tahun hanya menghabiskan waktunya di rumah tanpa ingin melihat dunia luar sekalipun.kami sudah berusaha untuk membujuk zein agar mau menjalani pengobatan kakinya,karena dokter yang menangani zein waktu itu berkata bahwa zein bisa sembuh dengan mengikuti beberapa proses penyembuhan di rumah sakit,tapi zein menolak hanya dengan menggelengkan kepalanya tanpa mau berbicara pada kami dan mengunci pintu kamar nya rapat-rapat..sejak saat itu kami berhenti memaksanya dan berharap suatu saat zein berubah...
Bukan hal yang mudah bagi seorang ibu seperti ku melewati hal seperti ini,semenjak zein dan kehidupannya berubah secara otomatis kehidupan kami jauh berubah.Suamiku menghabiskan waktunya sepanjang hari hingga malam hanya di kantor,sesekali dia menemaniku di rumah memantau perkembangan zein sedangkan nadine sibuk dengan kuliah dan bakti sosial yang di adakan di kampusnya.
__ADS_1
sementara aku lebih memilih berdiam diri di rumah,menemani zein yang sudah seperti mayat hidup di depanku...
Terkadang aku berpikir,sampai kapan Allah menguji keluarga kami..kapan senyuman keceriaan itu hadir lagi di tengah keluarga kami...namun aku yakin keajaiban itu ada,dan Allah akan menghadirkannya sesaat lagi buat kami..Aamiin