
Setelah kembali masuk ke dalam rumah,aku memerintahkan para pelayan untuk membereskan meja makan setelah itu aku berjalan masuk kedalam lift di sudut ruangan,aku menuju lantai tiga kamar zein.
Di sinilah aku berada sekarang tepat di depan pintu kamar zein,ada keraguan saat aku hendak masuk.aku khawatir zein akan marah saat menyampaikan hal ini padanya.Dengan menghembuskan nafas pelan,aku memberanikan diriku mengetuk pintu kamar zein dan membukanya pelan.aku masuk ke dalam kamar zein.zein sedang duduk di atas tempat tidur dan terlihat serius membaca buku di tangannya,dengan pelan ku tutup pintu kamar zein dan berjalan mendekatinya,ku tolehkan pandanganku sebentar melihat ke atas meja.piring sarapan zein sudah kosong begitu juga dengan gelas susu yang ku berikan tadi pagi juga sudah kosong.aku mengucap syukur dalam hatiku.
Aku duduk di sudut tempat tidur,agak berjauhan dari zein,karena zein tidak suka berdekatan dengan siapapun termasuk aku ibunya.peristiwa itu benar-benar membuat zein jauh dari kami.
"zein...." panggilku pelan.
Zein mengalihkan pandangannya melihat ke arahku,cuma sebentar lalu kembali membaca bukunya.
"boleh mommy bicara" kataku lagi gelisah.
Zein kembali menatapku lekat,cukup lama.matanya menyiratkan kekesalan.dan aku sebagai ibunya bisa memahami ketidak sukaannya.
"sebentar saja...boleh ya?" ucapku pelan menatap matanya.
Zein pun mengangguk kecil,menutup bukunya dan meletakkannya di atas pangkuannya.aku yang terkejut mendapat persetujuaannya merasa bahagia bukan main,aku merasa zein sudah berubah menjadi lebih baik.tanpa berlama-lama lagi aku pun memulai berkata...
"kemarin..paman bernard datang menemui daddy mu setelah lima tahun..".aku melihat ketidaksukaan pada mata zein saat menyebutkan nama bernard di hadapannya.
"dia menawarkan diri nya untuk membantu daddy mu mengurus perusahaan.kau tahu kan selama ini daddy yang mengurus seluruh perusahaan,mommy kasihan melihat daddy mu kewalahan mengurus perusahaan,,mommy dan daddy bingung harus berbuat apa nak..haruskah kami menerima tawaran pamanmu?" tanyaku sambil menatap zein.
Aku menggeser dudukku mendekati zein,menyentuh tangan zein.
__ADS_1
"cuma kamu satu-satunya harapan kami..mommy tidak ingin perusahaan daddy mu jatuh ke tangan orang lain.." ucapku lagi.
Tak ada jawaban dari mulut zein,sejujurnya aku ragu mengatakan maksudku ini pada zein karena aku tahu zein akan membisu seperti ini,tidak ada jawaban sama sekali.tapi aku tetap berpositif thinking,apapun bisa terjadi jika Allah berkehendak dan aku selalu berpegang kuat pada keyakinan ku itu.
"mommy cuma mau ngomongin itu aja..mommy tidak akan memaksamu jika kau tidak mau" ucapku melepaskan peganganku pada tangannya.
"istirahatlah..mommy akan keluar" ucapku lalu berdiri dan melangkah keluar kamar zein.
Saat aku sudah keluar dari kamar zein,aku mendengar suara kunci di balik pintu kamar zein.zein mengunci pintu kamarnya.aku mengelus dadaku pelan,zein marah padaku terbukti dia mengunci pintu kamarnya yang berarti dia tidak ingin bertemu denganku.
Air mataku mengalir di sudut mataku,aku berpegangan pada dinding di depanku menumpahkan isak tangisku.hatiku benar-benar sedih melihat keadaan zein sekarang.aku merutuk dalam hatiku mengapa harus michael dan zein yang mengalami peristiwa mencekam itu kenapa bukan aku saja.
Aku menggeleng kan kepalaku lalu beristighfar mengucap asma-Nya,aku tidak boleh menentang takdir yang sudah di gariskan Allah untuk keluargaku.
Sore itu brian pulang tepat waktu,saat aku menyambutnya di depan,dia memijit pelipisnya.
"apa kau baik-baik saja?" ucapku panik saat melihat wajah pucat brian.
"entahlah..aku merasa kurang enak badan,kepalaku pusing" jawab brian menyerahkan jas dan tas kerjanya padaku.
"ayo ke kamar..aku akan ambilkan obat untukmu" jawabku membawanya menuju kamar kami.
Setelah mengurus brian dan membiarkannya istirahat sebentar aku kembali menuju dapur membantu pelayan menyiapkan makan malam.teriakan nadine dari luar mengejutkan ku dan beberapa pelayan yang berada di dapur.
__ADS_1
"astaga...anak ini bikin ulah apa lagi dia" rutukku dalam hati.aku tetap melanjutkan pekerjaanku tanpa memperdulikan teriakannya yang di sertai tawa renyahnya itu.paling dia sedang di jahili beberapa bodygoard penjaga rumah.
Nadine berlari ke arahku dan berteriak memanggil namaku,aku hanya bisa berdecak kesal melihat tingkah nya saat ini.katanya sudah besar tapi tingkahnya masih seperti anak kecil batinku kesal.
"sore mom..i miss u" ucapnya manja memeluk dan mencium pipiku.
"apa kau tidak bisa menjaga sikapmu nadine..kau itu seorang perempuan" ucapku kesal melepas pelukannya.
nadin mengerucutkan bibirnya,saat aku mengomel padanya.
"lihat mom..mereka menertawakanku" ucap nadin menunjuk para pelayan yang berdiri di belakangku.aku menoleh ke belakang melihat arah telunjuk nadine.aku melihat beberapa pelayan yang menahan senyum mereka.
"makanya jadi perempuan itu yang benar...jangan celamitan kayak gitu,,gak malu apa sama umur teriak-teriak gak jelas" omelku lagi sambil menoyor keningnya.
"ihhh...mommy...malu tahu di ketawain mereka" ucap nadine merengek.
"sudah sana masuk kamar,bersih-bersih abis itu turun untuk makan malam..dan jangan lupa hari ini jadwal kamu anterin makan buat kak zein" usir ku menggunakan tanganku.
Nadin menghentakkan kakinya ke lantai lalu berjalan menuju kamarnya di lantai dua,aku terkekeh geli melihat tingkah nadine yang masih seperti bocah smp.tanpa sadar aku tertawa di ikuti pelayan di belakangku yang juga ikut tertawa.
"nona muda lucu ya nyonya..." ucap salah satu pelayan di sela tawanya.
aku mengangguk kan kepalaku menyetujui ucapannya.
__ADS_1
TBC