
Aku dan bang Radit membawa semua barang-barang ke dalam mobil, sekalian berpamitan dengan kedua orang tua bang Radit.
"Bang.., kalo abang pergi, siapa yang bantuin tugas sekolah Fitri!! Kenapa abang mesti pindah sih "isak tangis Fitri pun pecah memeluk abang kesayangannya.
"Fitri harus belajar mandiri ya!! Jangan tergantung mulu sama abang!! Nurut apa kata enyak sama babeh!! "ujar bang Radit mengusap punggung Fitri.
"Udah ya abang mau berangkat!! "ujar bang Radit melepas pelukan Fitri.
"Beh..Nyak!! Ipeh sama bang Radit jalan dulu ya!! "aku dan bang Radit bersalim takjim.
"Hati-hati yeh, di jalan!! Pelan-pelan bawa mobilnya Dit!! "ujar nyak Aminah menangis melepas kepergianku dan bang Radit.
Aku dan bang Radit pun ke dalam mobil sejuta umat milik bang Radit. Mesin mobil sudah menyala, aku menatap nyak dan teh Ai masih setia menatap ke arahku, di depan gapura gang senggol, aku pun melambaikan tanganku ke arah enyak dan teh Ai.
"Nyak beh, Ipeh jalan ya! " batinku kembali menitikan air mataku kembali.
"Pake sit bellnya Peh, " ujar bang Radit.
"Yuk beh..nyak, Radit sama Ipeh berangkat dulu!! Assalamu'alaikum!! "bang Radit pun menginjak pedal gasnya.
********
.
.
"Raditya..!!Berenti lu!!"
Aku terkejut saat ada seorang wanita tiba-tiba menghadang merentangkan kedua tangannya mencoba menghentikan laju mobil yang aku tumpangin bersama bang Radit.
"Brakkk..!!!
"Keluar lu, brengsek!! "umpat wanita tersebut menggebrak kap mobil bang Radit sambil menunjuk-nunjuk bang Radit.
Tidak ada angin atau pun hujan tiba-tiba saja, seorang wanita menghadang kami sambil berteriak dan memaki bang Radit. Aku di buat bingung sekaligus terkejut, mimpi apa aku semalam. Ku lihat dari tampilan wanita tersebut terlihat sangat berantakan, matanya juga terlihat sembab, "Apa bang Radit kenal sama tuh cewek ya? "batinku bertanya-tanya.
"Siapa bang!! Abang kenal sama tuh cewek!! " tanyaku penasaran menatap bang Radit. Wajah bang Radit terlihat pucat pasi, ia pun tak berani menatapku apalagi menjawab pertanyaanku barusan, membuatku semakin penasaran.
"Turun nggak luh!! "teriak wanita tersebut pun dengan kasarnya mencoba membuka paksa pintu mobi sambil memukul-mukul pintu mobil bang Radit.
"Eh lu pelakor turun lu!! Gw mau ngomong sama si brengsek itu!! Suruh dia turun cepetan!! "suara teriakannya begitu memekik
"What pelakor!! " aku langsung menatap tajam ke arah bang Radit. Apa maksud ucapan wanita tersebut, menyebutku pelakor? Aku pun mencoba membuka pintu, namun bang Radit mencekal tanganku menggelengkan kepalanya.
Brukkk..brukkk!!!
"Buka!! Keluar nggak lu!! Jangan jadi chiken lu, Dit!! " teriak wanita tersebut pun semakin kalap.
Setelah ku paksa, akhirnya bang Radit pun ikut keluar bersamaku. Suara teriakan dan kegaduhan membuat para tetangga yang berada di sekitar pun berdatangan karena rasa penasaran, begitu pun enyak, teh Ai dan kedua orang tua bang Radit mereka pun datang menatap bingung wanita tersebut.
Plak..!!
__ADS_1
"Dasar brengsek!! Lu emang bajingan, Dit !! Lu tega bohongin gw ,Dit!! "satu tamparan bersarang di pipi bang Radit aku hanya di buat melongo bak sapi ompong melihat wanita tersebut menampar lalu memukul dada bidang bang Radit bertubi-tubi, sambil menangis.
"Maaf ya sebenernya ada apa ini? Mbak ini siapa? "aku mulai berani membuka mulut sepaket dengan wajah bingung.
"Lu nggak usah ikut campur!! gua cuma perlu sama Radit, gw nggak ada urusan sama lu!! "bentak wanita tersebut mendorong bahuku. Untung teh Ai dengan sigap menahanku, hampir saja aku terjatuh.
"Peh..abang bisa jelasin!! Ini cuman salah paham doang kok? "ujar bang Radit menghampiriku.
"Apa salah paham Dit, 2 tahun lu bilang salah paham!! Inget Dit, sekarang di rahim gue ada darah daging lu!!"
"Jedarrrrrr!!"
Hati dan perasaan ku bagai terkena serangan rudal Rusia, langsung hancur lebur berkeping-keping tak bersisa. Apa ini alasan bang Radit mengajaku pindah ke Bandung, karena ia ingin lepas tanggung jawab dari wanita ini.
"Sarah cukup!! Lu jangan asal fitnah Sar!! Gw nggak pernah ngakuin kalo itu anak gue!! "bentak bang Radit menunjuk wajah Sarah dengan wajah bengis. Aku sampai merinding, tidak pernah aku melihat bang Radit seperti itu.
"Jadi namanya Sarah? "batinku.
"Peh dengerin abang dulu Peh!! Itu bukan anak abang, Sarah cuman mau jebak abang!!Ini nggak seperti apa yang Ipeh pikirkan!! "aku langsung menghempaskan tangan bang Radit menatap bang Radit bingung.
"Apa lu bilang Dit !! Tega lu sama gue, kita udah pacaran hampir 2 tahun dan lu bilang ini bukan anak lu!! Lu bener-bener manusia nggak punya hati, Dit!! maki Sarah semakin histeris.
"Tiga hari yang lalu lu janji, mau bawa gue ke orang tua lu, tapi apa lu mah kaga ada kabar, dan ngilang gitu aja! "tungkasnya.
"Cih..jadi ini yang abang bilang dinas di luar kota!! "aku tertawa lucu, menertawai kebodohanku sendiri.
Plak..Plak..!!
Seluruh mata menatapku iba, perasaan apa ini? Mereka saling memandang sambil berbisik. Rasanya seperti dilempar kotoran, malu, kecewa dan sakit hati pastinya. Enyak pun menangis memelukku dengan iba melihat nasib anak bontotnya yang begitu malang, sedangkan aku masih terdiam dengan wajah melongo menatap bang Radit tidak percaya. Aku berharap ini hanyalah mimpi buruk sesaat, tapi kenapa ini terasa begitu nyata.
"Nyak..Teh Ipeh pengen pulang!! "aku berjalan bagai raga tak bertulang, pikiranku pun bercabang. Aku benci bang Radit, aku benci keadaan sekarang, aku benci diriku yang naif dan bodoh.
Babeh, bang Miftah dan bang Diky ku lihat datang menghampiriku, mungkin mereka mendengar gaduh yang Sarah ciptakan.
"Ada ape ini!! Lu nggak jadi pergi Peh? "tanya babeh aku hanya melengos mengacuhkan babeh dan kedua abangku.
"Peh tunggu dulu Peh dengerin penjelasan abang!! "bang Radit mencekal tangan ku.
"Lepas bang Ipeh jijik di sentuh abang!! "aku menghempaskan tangan bang Radit dengan kasar.
"Tolong dengerin abang dulu Peh, "bang Radit berusaha menahan pergerakanku.
"Ipeh yang nanya sekarang!! Apa bener, anak yang di kandung itu anak abang!! "tanyaku berusaha tenang.
"Dengerin dulu Peh" !!
"APA ITU ANAK ABANG!! "bentakku penuh penekanan menatap tajam bang Radit, dan pun bang Radit tidak bisa menjawab matanya terus saja menghindar dari tatapanku.
"Udah abang nggak perlu jawab Ipeh udah tau jawabannya!! Ipeh minta abang cerein Ipeh sekarang!! "tungkasku penuh keyakinan menatap bang Radit.
"Tapi Peh_"
__ADS_1
Bug..!
Tanpa basa-basi bang Miftah menarik baju bang Radit sejurus kemudian ia pun memberi bang Radit satu bogeman mentah, di susul dengan bang Diky, dan babeh pun menampar wajah bang Radit meluapkan kekesalnnya. Suasana semakin heboh, bak tontonan yang sayang jika di lewatkan, menjadi bahan ghibahan warga sekampung bukan suatu kebanggaan bagiku. Aku sudah tidak peduli jika babeh dan kedua abangku ingin menjadikan bang Radit perkedel saat ini, yang aku ingin kan hanyalah menghilang ke tempat dimana tidak ada seorang pun yang bisa mengenaliku.
.
.
*******
Sudah hampir tiga pekan sejak kejadian tersebut aku masih setia mengurung diriku di kamar. Air mata sudah tidak bisa terhitung lagi berapa banyak aku menumpahkannya, karena hampir setiap malam aku menangis meratapi nasib pernikahanku yang begitu tragis.
Berkali-kali bang Radit menghubungi ku sampai memberanikan diri datang ke rumahku, aku terus menolak menemui Bang Radit. Aku sudah mantap dengan keputusan ku untuk berpisah dengan bang Radit, sebelum nantinya aku lebih jauh terjebak dalam pernikahan yang yang ujung-ujungnya cuman makan hati doang dan bikin badanku kurus kering.
Aku berbesar hati melepas bang Radit demi anak yang dikandung Sarah, karena aku juga seorang perempuan, pasti sakit rasanya bila harus mengandung dan melahirkan tanpa kehadiran seorang suami.
"Uhuk...Uhukk!!
"Bang...makan yuk bang!! " ujar enyak menghampiri babeh.
"Iya beh, kalo babeh nggak mau makan gimana babeh mau sembuh!! " ujar bang Miftah.
"Peh...Peh..!! "panggil babeh dengan suara yang begitu lemah.
"Peh..sini babeh mau ngomong sama lu!!"
Semenjak kejadian tersebut kondisi kesehatan babeh semakin memburuk, selain kesal dengan segala perbuatan bang Radit, seperti babeh juga merasa bersalah kepadaku.
"Apa beh!! "sautku keluar dari kamar menghampiri babehku.
"Peh...maafin babeh yeh!! Babeh udah larang lu kuliah!! Sekarang babeh nggak akan lagi larang lu kuliah lagi, babeh juga bakal dukung keputusan lu selama itu bae buat masa depan lu, uhukkk...uhukkk!! " ujar babeh sejurus kemudian babeh batuk-batuk sambil memegangi dadanya seketika suasana menjadi panik, kulihat babeh pun seperti sesak nafas.
"Behhhh..!! "aku enyak teh Ai dan kedua abangku terlihat panik saat melihat Babeh begitu kesakitan memegangi dadanya.
"Ya Allah beh istighfar beh!! "ujar bang Diky panik.
"Nyak kayanya babeh udah waktunya nyak!! " ujar bang Miftah dengan bulir air matanya yang mulai menetes.
"Lu ngomong apa sih Mif, "ujar enyak panik ketakutan.
"Ayo beh ikut yang Miftah baca "Asyhadu Alla Ilaaha Illallah Wa Asyhadu Anna Muhammadar Rasulullah" walau dengan suara tertatih namun babeh sanggup melafazkan kalimat syahadat tersebut sampai akhir, dan sejurus kemudian babeh pun menutup mata untuk selama-lamanya. Kami sekeluarga pun menangis menatap kepergian babeh.
"Bang, jangan tinggalin Leha bang, "tangis enyak semakin pecah menggerung-gerung menggoyangkan tubuh babeh.
"Babeh bangun beh!! Jangan tinggalin Ipeh!!Maafin Ipeh beh!! "aku menangis pilu benar-benar ujian yang sanggup membuat hatiku hancur sedalam-dalamnya melihat kepergian babeh untuk selama-lamanya. Aku memeluk jasad babeh sambil menangis tersedu-sedu berharap agar babeh membuka matanya kembali.
"Lu yang sabar Peh!! Ikhlasin kepergian babeh Peh!! "ujar bang Miftah mengusap punggungku.
...----------------...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1