
Ting!!
Pintu lift pun terbuka kali ini dus yang ke enam yang sudah aku angkat. Kurasa semua karyawan di lift sudah keluar semua, barulah aku melangkahkan kakiku keluar menuju ruang rapat, sambil asik dengan membaca pikiranku sendiri.
"Dasar jomblo tuwir !!Cuman ngangkat segini doang mah kecil buat gw, "dumelku dalam hati.
"Brukkk!!!
"Aww!! Aduhhhh,,ssshhh, "ringisku saat satu dus isotonik yang ku pegang mendarat sempurna di kakiku. Naas karena asik kerja sambil menggerutu, aku tidak sadar ada air yang menggenang di lantai. Kini bukan hanya tanganku saja yang lecet, tapi juga kakiku ikut menjadi korban.
"Ya ampun lu gpp Peh!! "tanya Arif tiba-tiba saja muncul dari belakang membawa peralatan kebersihannya dan menghampiriku.
"Kaki gw sakit banget Rif, ssshhh!! "keluhku meringis.
"Makanya hati-hati Peh kalo kerja!! "saut Arif.
"Ngapa lu Peh? "tanya Gilang yang tiba-tiba juga muncul.
"Ketiban dus Lang, "saut Arif.
"Lagian ini dus kan berat!! Siapa sih yang nyuruh luh ngangkut barang segini beratnya!! "tukas Gilang sedikit kesal, aku pun tidak menjawab karena fokus merasakan kakiku.
"Ya udah sini biar gw yang angkut, "saut Gilang, aku pun mengangguk melirik Gilang sekilas.
"Thanks ya Lang, "tukasku meringis
"Coba sini gw liat kaki lu, "pinta Arif dan berjongkok memastikan luka di kakiku. Arif membuka sepatuku perlahan, aku semakin di buat meringis hingga refleks mencengkram bahu Arif tanpa sadar.
"Sakit ya!! "aku mengangguk sambil berdesis.
"Sakit lah, pake nanya lagi lu? "ketusku, Arif malah cengengesan manatapku.
"Wah memar nih!! Mudah-mudahan sih nggak sampe di amputasi, "saut Arif, bukannya Arif yang kutatap, melainkan Keenan yang baru saja keluar dari lift, menatapku dengan tajam dan kembali berlalu mengacuhkanku.
Aku menghela nafas, mendapat pengacuhan dari Keenan, "Kok gw berasa kaya orang kegep selingkuh sih!! Ah bodo amatlah, "batinku.
"Mending lu istirahat aja ke pantry, atau nggak lu mau gw anter pulang? "tanya Arif.
"Peh!!"
"Peh!! "panggil Arif sekali yang melihatku tidak fokus.
"Eh iya!! apa Rif!! "sautku terkejut
"Lu mau gue antar pulang nggak_"
"Nggak usah Rif!! Gw gpp kok !!Udah lu mending balik lagi ke atas, gw bisa kok ke pantry sendiri_''
"Afifah, kamu tuh kerja gimana sih!! "bentak mbak Eva tiba-tiba saja muncul, aku dan Arif pun di buat melongo dan heran menatap si mahkluk spanengan yang datang-datang langsung tarik urat.
"Maksud mbak apa ya? "tanyaku auto bingung.
Bentakan yang keluar dari mulut mbak Eva berhasil membuat perhatian para karyawan lain, dan beberapa dari mereka pun menghampiriku saling berbisik saking penasaran.
"Kamu beneran nggak tau malu Afifah, semua temen-temen kamu pada sibuk kerja, tapi kalian berdua malah asik-asikan pacaran di sini, "ketus mbak Eva menuduhku dan Arif tapi bukti.
"Siapa yang pacaran mbak!! Nggak usah fitnah deh mbak, "ketusku tidak mau kalah.
__ADS_1
"Iya mbak saya disini cuman_''
"Diam kamu Arif, bentak mbak Eva.''
Sejak tadi pagi udah usaha banget buat nahan emosi sama makhluk satu ini. Tapi nama juga jurig penasaran, kalo nggak ngusik ketenangan orang bukan jurig namanya.
Bener kata si Astrid orang sok kuasa kalo di diemin malah makin merajalela. Posisi lagi nahan sakit ngerasain kaki, malah ada yang ngajakin ngereog bareng mending jabanin, ribut-ribut deh sekalian.
"Mana orang Va, ku lihat bu Vivi datang menyela di antara kerumunan dengan raut wajah yang tidak ramah.
"Hadeuh jurig satu belum di sempurnakan, malah nambah lagi jurig penasaran lainnya, "keluhku sepaket dengan wajah malas.
"Kamu yang namanya Afifah? "tanya Bu Vivi menatapku tajam.
"Iya bu saya Afifah!! Ada apa ya!! "sautku percaya diri.
"Kenapa kamu bawa isotonik ke ruang rapat!! Kan saya udah koordinasi semuanya, seharusnya kamu fokus dong, "tunjuk bu Vivi menatapku tidak suka.
"Saya sudah menjalankan sesuai perintah mbak Eva tadi!! Emang ada yang salah ya bu!! "sautku, aku melirik sinis.
"Kamu jangan fitnah saya Afifah, jelas-jelas tadi pagi saya sudah beri perintah dengan jelas, bawa air mineral ke ruang rapat, kamunya aja yang nggak denger!! "tunjuk mbak Eva tidak mau kalah, aku mengerutkan dahi menatap mbak Eva sepaket dengan tatapan curiga.
"Siapa yang fitnah jelas-jelas mbak bilangnya gitu kok!! bahkan Tyas sama Nayla juga denger kok!! "tunjukku mulai sewot.
"Kamu nggak usah nyolot, udah salah nggak mau ngaku lagi, "omel bu Vivi menunjuk wajahku.
"Oke kalo ibu nggak percaya!! Mending kita liat cctv aja deh, biar jelas siapa yang bohong dan siapa yang bener disini!! "tukasku percaya diri, ku lihat mbak Eva pun gelagapan dan terdiam.
"Kamu kerja aja nggak becus, sok-sokan mau jadi penjilat deketin pimpinan!! Kamu tuh harusnya sadar diri, "tukas bu Vivi menunjuk wajahku.
"Maksud ibu apanya, kok ngatain saya penjilat!! Ibu kalo kalah saing bilang bu, nggak usah menghina saya deh!! "tukas menatap tajam jurig penasaran di depanku ini.
"Udahlah Vi, lu nggak malu apa di liatin orang, ''mbak Tari berusaha menahan bu Vivi.
"Iya kasian tuh, kakinya juga luka, "bela mbak Rini menunjuk kakiku.
"Ada apa ini ribut-ribut!! "kulihat pak Daniel tiba-tiba muncul menghampiriku.
"Ini pak ob kurang ajar, kerja nggak bener di tegor malah nggak terima, "saut bu Vivi.
"Jelaslah saya nggak terima, orang ibu ngehina saya!! "sautku membela diri.
"Ayo mbak ngomong kok saya tantangin malah diem!! Tadi pinter banget fitnah saya!! "aku melirik sinis mbak Eva yang sejak tadi diam seribu bahasa.
"Peh, udah Peh, "Arif menyikut lenganku.
"Udah kalian semua bubar dan pergi ke ruang rapat, "tukas pak Daniel memberi perintah, ku lihat bu Vivi dan mbak Eva pun pergi di ikuti karyawan yang lain.
"Tunggu bu? Saya belom selesai? "aku berdiri mencoba menahan bu Vivi dan mbak Eva.
"Awww!! "ringisku merasakan nyeri di kakiku, pak Daniel reflek menghampiriku.
"Loh kaki kamu kenapa Afifah, "tanya pak Daniel.
"Ini pak, ketiban dus tadi, "saut Arif.
"Mending kamu ke pantry aja dan obatin dulu kaki kamu, "tukas pak Daniel.
__ADS_1
"Iya bener Peh!! Mending lu obatin dulu kaki lu, "timpal Arif.
"Iya pak, makasih ya pak, "sautku tersenyum sambil meringis.
"Iya sama-sama, "saut pak Daniel berlalu.
"Siake tuh mbak Eva!! Kalo kaki gw nggak sakit udah gw kunyah tuh !! " tukasku berjalan ke ruang pantry di bantu Arif.
"Ckckckc!!''
"Lu kalo udah marah serem juga Peh!! mbak Eva yang segitu angkernya, ampe kena mental tadi lu tantangin, "tukas Arif cekikian.
"Haruslah, enak aja dia nyalahin gw!! Dia yang salah kok jelas-jelas, "sautku.
.
.
Thanks ya Rif_''
"Ipeh, "Tyas tiba-tiba muncul di pantry.
"Gw tadi denger lo katanya di damprat tadi sama bu Vivi!! "aku pun menatap Tyas dengan mataku yang mulai 5 watt.
"Bukan cuman sama bu Vivi tapi sama mbak Eva juga, "saut Arif.
"Lah kenapa emang, "tanya Tyas penasaran.
"Biasalah lagi pada belajar ngedrama tapi gatot!! Gw tantangin malah pada kabur!! "sautku.
"Bu Vivi protes harusnya yang di bawa ke ruang rapat tuh air mineral bukannya isotonik, "saut Arif menjelaskan.
"Dih sakit jiwa tuh mbak Eva !! jelas-jelas dia yang nyuruh tadi !! Gw sama Nayla juga dengar kok !!saut Tyas emosi.
"Terus itu kaki lu kenapa bengkak gitu? "tanya Tyas menatap iba kakiku.
"Gw abis akrobat tadi, "sautku cengengesan.
"Pe'a kaki udah kaya ayam geprek gitu masih bisa lu hahahihi, "toyor Tyas.
Hoamm!!!
Efek minum paracetamol aku terus dibuat menguap. Memang dari semalam badanku udah berasa nggak enak, di tambah rasa nyut-nyut pada kakiku, beneran kompleks banget hari ini tuh rasanya.
"Udah yuk kita cabut, si Ipeh biar istirahat di sini!! "tukas Arif.
"Ya udah deh, lu istirahat aja dulu di sini !!Entar kalo rapatnya kelar gw sama Nayla kesini lagi, "Tyas mengusap kepalaku
"Hmmmmm!! ''sautku merabahkan kepala ku di meja pantry.
"Ya udah!! Gw sama Tyas ke atas dulu ya!! Soalnya anak-anak di suruh pada standby semua di ruang rapat, "tukas Arif.
"Thanks ya Rif!! Gw juga ngantuk banget nih, mau meren bentar, "sautku melipat tanganku di atas meja lalu merebahkan kepalaku.
"Inget lu jangan kemana-mana tungguin gw, "tunjuk Tyas dengan nada mengancam.
"Iya bawel, "sautku memejamkan mata.
__ADS_1
...----------------...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...