Janda Kembang Kampoeng Pete

Janda Kembang Kampoeng Pete
Gossip Bikin Nyesek


__ADS_3

I don't like monday.


Gara-gara makhluk rese bin nyebelin kemarin jatah liburku beneran berkurang. Sejujurnya aku tipikal manusia labil yang ingin punya kegiatan ekonomi seperti bekerja, tapi terkadang aku juga males ngapa-ngapain termasuk juga males masuk kerja, pengen libur aja gitu ngedrakor sehari. Tapi balik lagi dari pada hidup di pakai buat mengeluh terus yang ujungnya cuman bikin toxic buat diri sendiri, mending aku fokus terhadap tujuan hidup deh.


Aku memarkirkan si soulmate kesayanganku tempat di parkiran karyawan, "Pakde nitip helm yak!! Nih saya bawain kue pukis buat temen ngopi!! Cocok kan!!" tukasku pada pak Bayu seorang petugas security di tempatku bekerja.


"Waduh..,makasih ya de Afifah,"sautnya tersenyum ramah.


"Ya, sama-sama pakde!! Yuk saya duluan, "pamitku berlalu


____


Kau masih gadis atau sudah janda....


Baik katakan saja jangan malu...


Memangnya mengapa aku harus malu...


Abang tentu dapat tuk membedakannya...


Kau katakan saja yang sesungguhnya...


Sesungguhnya diriku oh memang sudah janda...


___


"Njirr berasa ke sindir gw !!Nggak tahu aja dia gw janda senior di sini, ppfff!! "batinku cekikian berasa denger kontestan dangdut yang lagi audisi kompetisi tarkam.


Mungkin jika Nassar dan mbak Depe menjadi jurinya, mereka sudah menyumpal kuping mereka saking pengengnya dengar suara kontestan di depannya yang mirip seperti suara auman kucing lagi kawin. Aku melihat pintu ruang mbak Eva sedikit terbuka, entah mengapa berasa pengen ngitip aja gitu.


"Pppfff!!! Weh nggak nahan goyangannya coy!! Itu ngebor apa buang ta!k mbak..!! "gumanku menahan tawa. Beneran totalitas dalam berexpresi yang patut di acungi batu kali.


Berasa plot twist banget hari ini tuh, semalaman ku habiskan dengan bergalau ria paginya kembali cekikikan, hidup ternyata serandom itu pemirsah.


"Morningg, "sapaku pada warga pantry bottom dengan formasi lengkap.


"Wudihhh, mari kita sambit artis pendatang baru kita "Sabrina Afifah, "tukas bang Trisna menepuk-nepuk meja.


"Sue lu bang!! Noh mending lu gendangin artis pantura tuh, yang lagi nembang di ruangannya sambil ngebor, ckckc !! "tukasku sambil bergoyang mengikuti gaya mbak Eva tadi.


"Ckckc!! Pasti mbak Eva ya? "tanya Nayla terkekeh, aku mengangguk.


"Biarkanlah dia mengasah bakat terpendamnya, biar kita di sini yang mengasah kampaknya_"


"Bhahaha, sadis lu bang, "sautku ngakak.


"Jangan lu di aru-aru bang!! Do'i orangnya pundungan lu, "saut Nayla


"Gw asal denger mbak Eva nyanyi inget si Giant kalo lagi konser di lapangan, suaranya ganggu banget asli kaya batu nyelip di bawah pintu, ckckc!! "saut Tyas cekikikan


"Njiirr batu nyelip, "saut Nayla tertawa, ikutin denganku dan bang Trisna.


Tok..tok..tok!!


"Hey kerja kerja!!"


"Kalian bukannya kerja, malah asik ngobrol!! Kamu juga Tris bukannya jadi contoh yang baik malah ikut-ikutan ngegossip!! "omel mbak Eva tiba-tiba sama nongol di pintu pantry.


Kami berempat pun bagaikan maling jemuran yang sedang tertangkap basah, menatap mbak Eva sepaket dengan wajah panik. Ternyata membicarakan senior di ruang kerja namun tiba-tiba saja sang target perghibahan nongol sungguh memicu andrenalin.


"Do'i denger nggak ya!! Kita omongin, "Nayla cekikikan.


"Lu sih bang, gede-gede juga nggak ideng lu, "tukasku cekikikan.


"Sue, lu yang pada nafsu, nyalahin gw!! Gw tuh cuman pemanis doang kali_"


"Dih pemanis, muka lu aja kaya gedoh kopi bang!! Kaga ada manis-manisnya pisan kaya Le mineral "timpal Tyas, aku dan Nayla pun ikutan ngakak, beneran circle yang membagongkan kalo udah pada ngumpul. Kami berempat pun auto balik kanan, mengerjakan tugas masing-masing.


**


.

__ADS_1


.


Kring..Kring!!


"Hallo, "sautku.


"Ini Tyas bukan."


"Bukan bu, Tyasnya lagi keluar bu sama bang Trisna baru aja!! Ada yang bisa saya bantu? "sautku seramah mungkin.


"Oh ya sudah!! Tolong kamu ambilin pesanan onfood saya, depan ya!! Pesanan atas nama Tari, nanti kamu bawa ke lantai 2 ya!!


"Baik bu, sautku."


"Makasih."


Kedua tanganku penuh dengan pesanan sarapan pagi dari tim humas. Bak si tukang kopi keliling kiri kanan auto nenteng.


"Pagi pak."


"Pagi pak."


"Siapa sih di belakang!! "tengokku penasaran sambil berjalan.


"Hah Onta, "gumanku, aku buru-buru berjalan menuju arah lift demi menghindari Keenan.


"Yah gimana mencet tombol liftnya ini!! Tangan gw penuh semua lagi, "gerutuku repot sendiri dengan barang bawaanku.


"Mau gw bantuin nggak!! "bisik Keenan tepat di belakang telingaku.


"Kodok lu!!"


Aku terkejut gelagapan, beruntung tidak ada orang selain aku dan Keenan saat ini.


"Lu ngapain sih, bikin kaget gw aja!! Geser dikit napa!! Ntar ada yang liat bege, "bisikku sepaket dengan wajah panik celingak celinguk.


''Biarin!! "saut Keenan tidak menggubrisku permintaanku sama sekali, justru ia malah makin menggodaku sepaket dengan wajah menyebalkan.


"Pagi pak Adzkhan, "sapa mbak Eva mesem-mesem kecut, sekecut ranjaunya bang Gondrong.


"Ya elah, situ oke Katemi!! "batinku jengah. Aku melirik bu Vivi yang berdiri di depanku, aku sedikit heran tumben bu Vivi nggak menyapa bosnya ini, beda banget sama kemaren yang semangat 45 auto tebar pesona saat masuk keruangannya Keenan.


Ting!!


"Ayo silahkan masuk pak Adzkhan, "tukas mbak Eva dengan gaya so imut versi maksa.


Aku masuk ke dalam lift paling akhir nyempil di pojokan bak kecoa nyelip. Saat aku masuk tiba-tiba alarm lift berbunyi karna lift melampaui kapasitas penumpang.


"Afifah, keluar kamu!!


"Kamu nggak dengar alarmnya bunyi, "ketus mbak Eva.


"Ya elah biasa aja kali, nggak usah ngegas gitu!! "gerutuku dalam hati.


"Iya mbak, "sautku malas.


"Tunggu dulu."Keenan menahan pergerakanku.


"Mbak Eva, "panggil Keenan.


"Iya pak, "saut mbak Eva.


"Siapa tadi yang datang terakhir di sini? "tanya Keenan dengan wajah tegas.


"Saya pak!! "saut mbak Eva gugup mengangkat tangannya.


"Silahkan antri, "tukas Keenan tersenyum dengan tangannya mempersilahkan mbak Eva keluar.


"Tidak perlu pak, biar saya naik tangga aja, "sautku inisiatif keluar.


Aku menapaki anak tangga, sepaket dengan gerutuan dengan sikap mbak Eva tadi. Jujur aku sedikit cemas karena Keenan membelaku tadi, makanya aku buru-buru menghindar daripada urusannya tambah ruwet mending ngalah ajalah yang waras.

__ADS_1


Permisi, "sapaku tersenyum saat melewati ruangan tim marketing yang sibuk memulai aktivitasnya perghibahannya.


"Kamu Afifah kan!! "panggil seseorang, aku pun reflek menengok ke arah sumber suara.


"Eh pak Reza toh!! Saya kira tadi Jungkook pak!! "sautku tersenyum.


"Kamu bisa aja!! Kamu mau kemana? "tanya pak Reza ramah.


"Mau nganter pesanannya mbak Tari pak. "sautku.


"Itu banyak banget pesananya, kamu nggak berat? "tunjuknya.


"Nggak kok pak!! Kayaknya masih beratan beban hidup saya deh, "sautku cekikikan. Dan pak Reza dan beberapa tim marketing yang melihat ke arahku pun tertawa, setelah mendengar celotehanku barusan.


"Ya udah pak saya permisi, "pamitku berlalu.


"Eh, itu anak ob yang waktu itu ngatain pak Adzkhan ya? Yang di video sempet heboh ketauan ngegosipnya di toilet itu ?"


"Iya dia itu kayanya. Liat deh songong nggak sih gayanya."


"Ah biasa ajal!!"


"Anaknya kayanya kocak, tadi lu denger sendirikan obrolannya sama si Reza."


"Lumayan cakep juga mukanya!! Nggak malu-maluinlah buat digandeng disamping, tapi tetep dipoles dikitlah mukanya."


"Disamping dibelakang kali sambil bawa nampan. ckckc"


Segelintir obrolan para netijen budiman yang harusnya aku skip malah ku biarkan bersarang di telingaku. Aku sadar hidup gak punya privilege itu mengharuskan aku harus memasang mode cuek dan bermental baja dimana pun berada. Hidup makin hari makin keras lur, minimal harus punya skill atau nggak good looking agar diterima di peradaban hidup yang kejam ini.


"Cuekin aja Peh anggep bantuan Tuhan sebagai penggugur dosa lu yang setebal dompetnya Nagita, "batinku acuh, tapi tetap aja kepikiran. Aku pun melenggang santai masuk menuju ke ruangan tim humas, biasanya sih si Tyas langganganya para tim humas, tapi berhubungan Tyas lagi otw sama bang Trisna, aku yang menggantikan pekerjaannya saat ini.


"Permisi mbak, "sapaku seramah mungkin.


"Eh, sini masuk, "tukas mbak Tari namun wajahnya sih serius menatap rekannya yang lain. Sepertinya sedang membuka forum perghibahan, memang cocok banget sarapan sambil ngeghibah, aku pun auto berasa pengen nimbrung walau lain circle.


"Iya gw dengar sih, katanya si Vivi di tolak mentah-mentah sama pak Adzkhan!! Gila nggak tuh si Vivi."


"Hah bu Vivi nembak Keenan, "tukasku dalam hati terkejut. Aku pun sengaja berlama-lama berada di dalam ruangan tim humas, karena penasaran pastinya!!


"Pantes aja dia getol banget ke ruangannya pak Adzkhan, rupanya ada udang di balik sushi toh."


"Pede abis tuh yah si Vivi!!Kenal aja baru kemaren, udah maen nyodok aja dia!!"


"Iya, dia nggak nyadar statusnya apa ya?"


"Iya bener, pak Adzkhan mana mau sama janda, udah janda tua pulak!! Buy one get three cuy!!


"Ckckc!! Tekor bandar."


"Si Vivi anugrah dapetin pak Adzkhan, lah pak Adzkhan dapetin bu Vivi bencana, iya nggak?"


"Ckckc lawak!!"


"Namanya usaha Rin, nyari yang bibit unggul!! Mungkin aja buat di banggain di circlenya kali.''


"Tapi terus gimana lagi tuh kelanjutannya."


"Kata si Daniel Pak Adzkhan sih nolaknya secara halus gitu dan bilang kalo dia udah punya calon pendamping hidup, di jodohin gitu sama orang tuanya sih yang gw denger."


Jleb!!!


Ada yang sakit tapi tak berdarah, tapi berasa memar di dalam sini. Aku tersenyum lirih auto balik kanan. Kok rasanya beda ya, biar sekalipun di sindir senior habis-habis ataupun dimaki-maki Sarah sekalipun, aku tidak pernah merasakan sesesak ini.


"Eh tunggu mbak!! " mbak Tari menahanku.


"Nih sarapannya sekalian buat mbaknya, biar kuat hadapi kenyataan hari ini, "tukas mbak Tari tersenyum menggodaku. Tapi ucapanya benar-benar auto bikin gw tambah ngenes sih!! Apa mungkin mbak Tari itu adalah cenayang yang bisa melihat kesedihanku saat ini.


"Iya mbak, makasih "sautku tersenyum lirih dan berlalu.


...----------------...

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2