Janda Kembang Kampoeng Pete

Janda Kembang Kampoeng Pete
Fakta Yang Menyesakan.


__ADS_3

Sore-sore gini memang paling enak ngumpul bareng Ghani squad sambil nyemillin es krim, menonton kartun si kotak kuning dan si bintang laut serta si tentakel yang sibuk menarik si kerang ajaibnya.


"Ckckc!! Circle terpe'a emang, "tukasku cekikikan menatap fokus ke layar tv.


"Wuih makan es krim bertigaan aja!! Om ganteng nggak di bagi nih, "tukas bang Diky tiba-tiba datang menyambar ek krim Zahra.


"Ihhh om Diky, itu es krim Zahra!!"


"Bagi dikit, "bang Diky menjilati es krim Zahra.


"Kasih ah!! Entar nangis!! "mbak Abel menepuk bahu bang Diky.


"Om Diky beli dong, jangan kaya orang miskin deh!! "rengek Zahra memukul bang Diky.


"Ckcckc!! Sukurr!! "tukasku cekikikan.


"Sue emang nih bocah!! Pasti ajarannya si Paul tuh, "sinis bang Diky menatapku.


"Toel dikit ah korengnya!!"


"Awww sakit bege!! "ringisku menepuk lengan bang Diky.


"Biar cepet sembuh, "saut bang Diky cekikikan.


"Cepet sembuh pala lu!! "sautku menatap sinis bang Diky.


"Kamu iseng banget sih jadi orang!! "omel mbak Abel.


"Ihhh sini es krim Zahra, "rengek Zahra, bukannya dikasih tapi bang Diky malah semakin menggoda Zahra, mengangkat tinggi es krim Zahra ke atas.


"Kasih bang!! Lu tua bangka juga, seneng banget godain bocah, "omelku.


"Passwordnya dulu gitu!! Bilang bang Diky yang ganteng, yang keren kayak Justin Bierber kembaliin es krim Zahra dong, "tukas bang Diky.


"Nggak mau, "saut Zahra auto manyun.


"Dih segitu maksanya orang minta dipuji !!Laki lu tuh mbak !! "tunjukku geleng-geleng kepala, dan mbak Abel pun mengangkat kedua bahunya menatap layar tv dengan serius.


"Assalamualaikum.''


"Waalaikumsalam, "saut kami serempak.


Kulihat ncing Aminah datang sambil menggendong anaknya bang Radit.


"Peh anak tiri tuh maen!! Gendong lah ajakin maen, "goda bang Diky sambil berbisik.


"Sialan lu bang!! "tukasku menyikut bang Diky.


"Eh elu Peh, enyak lu ada, "tanya ncing Aminah.


"Ada ncing, "sautku bersalim takjim.


"Ya udah ncing tunggu di luar ya, " saut ncing Aminah berlalu.


"Ra, panggilin Maria Mersedes gih di dapur!! Bilangin gitu di cariin sama Marimar, "bisikku tanpa beban dikekehi bang Diky dan mbak Abel.


Kulihat enyak muncul dari arah dapur, "Marimar siapa Peh?"


"Wkakaka!! "bang Diky auto ngakak begitupun dengan mbak Abel.


"Kenapa gw punya ade kelakuannya mines banget coba!! "saut bang Diky cekikikan.


"Eh elu Aminah!! "sapa enyak tersenyum, sekilas enyak melirik ke arah Ghani squad dengan tatapan horor.


Dari dalam aku menatap anak bang Radit yang berada di teras depan, sedang fokus menatapku dan Zahra yang sedang khusyuk menjilati es krim. Aku menjulurkan lidahku ke arah bocah 4 tahun tersebut, sengaja menggodanya.


"Hmmm enaknya es krim, "godaku menjilat es krim menatap sang bocah malang tersebut.


"Iya enak banget ya teh!! "saut Zahra tersenyum menatapku.


"Pe'a lu!! Diamuk emaknya baru tahu rasa lu, "bang Diky pun menoyor kepalaku sejurus kemudian.


Aku mengacuhkan ucapan bang Diky dan menjulurkan lidahku kembali, hingga tak lama bocah itu pun menangis setelah habis-habisan aku goda.

__ADS_1


"Nangis pe'a "tukas mbak Abel memukul pahaku.


"Kaburrrrr, "gumamku cekikikan sambil berjalan menuju kamar.


"Pe'a emang tuh anak!! Dendam sama biangnya anaknya yang di bully, "tukas bang Diky ku dengar.


.


.


**


Drttt..Drrtt!!


Aku melirik ponselku yang bergetar, terlihat Keenan menelponku. Aku hanya menopang daguku menatap ponselku yang terus saja berdering sampai akhirnya padam sendiri.


"Gimana kakinya udah mendingan belum"


"Besok gw anter ke kampus ya,"


Aku melihat layar notifikasi pada ponselku sepenggal chat dari Keenan sanggup memporak-porandakan isi otak, materi yang sudahku pelajari auto buyar entah kemana. Mungkin ini yang disebut definisi menyukai dalam diam, merindu tapi nggak punya hak untuk di utarakan tapi lumayan bikin galau.


Aku sadar ternyata pertahanan hatiku hanya setipis selembar tissue pemirsah. Aku merebahkan kepalaku di meja saking frustasinya, posisi pikiran pengen banget fokus sama satu tujuan, tapi ada aja masalah yang bikin pikiran malah jadi bercabang kemana-mana, belum juga paket kuterima tadi pagi.


"Ck, belajar nggak konsen banget hari ini!! Padahal besok udah tinggal eksekusi, "gumanku frustasi.


Aku mengambil tasku dan mengobrak-abrik isi di dalamnya, "Yah flashdisk gw di tempatnya si Astrid lagi!! Ck, kalo udah balik kesono, mana boleh gw balik kerumah enyak, "aku menggaruk kepalaku frustasi.


"Nyak Ipeh ke tempat temen Ipeh dulu nyak sebentar, "pamit ku.


"Itu kaki lu masih begitu juga!! Mau ngapain sih emang? "omel enyak.


"Ada yang ketinggalan nyak buat persiapan besok!! Penting soalnya!! "tukasku sedikit memohon.


"Minta anter bang Diky sono, mumpung abang lu ada di rumah.''


"Bang.''


"Bang Diky!!"


"Arrrghhhh!! Mata eneng ternodai ''teriaku saat melihat adegan live sosor-menyosor antara bang Diky dan mbak Abel.


Ku lihat bang Diky keluar dengan wajah sewot, "Apaan sih ganggu aja!! Untung gw baru pemanasan !! "tukas bang Diky.


"Masih sore juga !!Anterin ade lu sono !!Kasian kan kakinya masih sakit, "aku hanya cekikikan menatap bang Diky yang terlihat frustasi.


"Arrrgghh rese lu!! Ya udah tungguin bentar, "ketus bang Diky. Semangat lagi on firenya di paksa jeda sejenak gara-gara kelakuan si bontot, puyeng-puyeng deh lu bang!!!


***


Hampir sejam perjalanan, aku dan bang Diky mendarat sempurna tempat di depan halaman rumah mewah bernuasa eropa klasik. Sejauh mataku memandang kadang aku masih di buat takjub melihat rumah di depanku ini, terkadang terlintas dalam pikiranku, berapa banyak karung uang yang di gunakan untuk membangun rumah semewah ini.


"Wuih ini rumah apa stadion Peh!! Gede amat!! "tanya bang Diky.


"Ya rumah lah masa mall!! Tungguin gw di sini!!"


"Dih, manusia modelan apa lu, udah gw anter terus ganggu malam romantis gw!! Sampe sini malah gw di suruh nunggu, " sewot bang Diky.


"Bentar doang, "sautku.


"Bensin harus full tapi, "sautnya.


"Iya, ketusku."


Dengan langkah yang masih sedikit pincang aku berjalan melewati ke halaman, dahiku dibuat mengerut menatap mobil mewah yang terparkir di depan halaman, "Ini bukan mobilnya Astrid deh!! Apa ada tamu ya !! "tukasku bermonolog.


"Ckckck!! Lu yang rese, dateng nggak bilang-bilang.''


"Kapan tante ke Indo?''


"Seminggu lagi lah kira-kira?"


"Cie-cie mau langsung ngelamar nih ceritanya?"

__ADS_1


Suara canda tawa terdengar jelas saat aku berjalan di depan teras, ''Pantes gw telpon nggak di angkat-angkat!!''


''Masuk apa enggak ya "tukasku menggaruk kepalaku bingung sendiri antara mau masuk tapi takut nganggu, tapi juga butuh.


Assalamualaikum!!


Deg!!


Aku tercengang melihat pandangan di depanku, seseorang yang begitu ku kenal terlihat mengapit kepala Astrid dengan ketiaknya, tertawa lepas terlihat begitu akrab.


''Keenan..!! Mereka..? "aku sampai dibuat melongo dan tidak sanggup berkata-kata lagi saking terkejutnya. Refleks aku pun auto balik kanan meremas dadaku yang terasa sesak, hati bagaikan si balon hijau yang meletus bikin perasaan kacau.


"Ipeh!''


"Tunggu, lu kok balik lagi sih? "panggil Astrid kudengar.


Sudah terlambat untukku menghindar, mau lari juga nggak bisa. Aku menarik nafasku mencoba menahan air mata yang hampir terjatuh lalu membalikkan tubuhku tersenyum kaku.


"Sini aku kenalin temen aku!! kulihat Astrid mengapit tangan Keenan yang sejak tadi menatapku tanpa berkedip.


"Ih kok kamu bengong sih!! Ayo !! Astrid menarik tangan Keenan.


"Kenalin nih Peh, tunangan gw Keenan!! "Astrid menyikut tangan Keenan sejurus kemudian.


"Hello!! Ipeh!! "Astrid melambaikan tangannya tepat di depan wajahku menyadarkan lamunanku.


"Kok malah pada bengong sih!!''


"Eh iya Trid, "sautku terbata-bata kikuk sendiri, tapi satu kata yang muncul di dalam otakku melihat Astrid dan Keenan, mereka cocok dan serasi.


"Jadi Keenan tunangan Astrid!! "aku menundukan wajahku tersenyum lirih seperti orang paling bodoh sendiri mengingat sikap dan perbuatan Keenan padaku sebelumnya.


Aku ingin tahu lebih jauh, apa ini kebetulan yang terlalu sayang untukku curigai. Aku melirik Keenan sekilas pria yang beberapa jam lalu mengechat ku sok perhatian hanya diam seolah tidak ada yang pernah terjadi apapun selama ini, aku pun sedikit mengangkat sudut bibirku tersenyum sinis padanya.


''Gw udah kenal kok!! Dia salah satu karyawan di Birnumara!! "saut Keenan tanpa beban kulihat.


"Hah, masa sih!! "Keenan tersenyum menganggukkan kepalanya menatap Astrid.


"Lu kerja di tempatnya Keenan ternyata, "tanya Astrid tersenyum mengapit tangan Keenan bergelayutan manja.


Aku memaksa tersenyum menatap Astrid, "Iya Trid, "sautku senetral mungkin.


"Siang pak Adzkhan, saya merasa tersanjung anda bisa mengingat pegawai rendahan seperti saya!! Saya juga berterima kasih, karena anda sudah mengijinkan saya tinggal di istana anda, "tukasku menatap Keenan tegas sengaja menarik perbedaan antara aku dan dirinya.


Kulihat Keenan seperti menahan emosinya, rahangnya pun terlihat mengeras, matanya pun menatapku dengan tajam seolah terganggu setelah mendengar ucapanku barusan.


"Ya elah formal banget bahasa lu, udah kaya ngomong sama presiden lu!! ''Astrid memukul lenganku cekikikan.


"Santai aja kali Peh, dia nggak gila hormat kok, cuman gila otak!! Ckckc."


Aku tersenyum menatap Astrid, "Sory Trid gw ke atas dulu !! Gw cuman mau ngambil flashdiks gw yang ketinggalan!!''


"Havefun ya!! Sorry kalo gw ganggu!! "tukasku melirik Keenan sinis.


"Permisi pak Adzkhan, "tukasku berlalu.


"Kaki lu kenapa itu? "tanya Astrid.


"Gpp kok? Tadi cuman ketiban dus di tempat kerja, "sautku.


"Ck, kamu gimana sih, kenapa temen aku sampe kaya gitu, "omel Astrid menatap Keenan sengit.


"Gpp kok Trid!! Ini juga udah di obatin kemaren, "sautku


"Sama siapa? "tanya Astrid.


"Gak penting kok orangnya!! Ya udah gw ke atas dulu ya, "sautku melirik Keenan sekilas.


"Sini gw pegangin!! Entar lu ngelinding lagi, "Astrid cekikikan.


"Berasa kaya orang jompo gw, "sautku tersenyum singkat menatap Astrid.


...----------------...

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2