Janda Kesayangan Tuan Mafia

Janda Kesayangan Tuan Mafia
10. Kegilaan Queen


__ADS_3

"Queen!" geram Albert saat Queen tak menganggap nya ada, dengan kasar Albert menarik lengan Queen hingga wanita itu meringis kesakitan.


"Ikut dengan ku, kau harus mendapatkan hukuman karena kau sudah lancang dengan suami mu sendiri!" ucap Albert dengan menarik paksa Queen yang duduk di kursi nya, Queen hanya membiarkan apa yang di lakukan Albert, ia ingin lihat apa yang akan di lakukan Albert, dan ia berjanji tidak akan membiarkan sedikit pun tubuh nya di sentuh oleh Albert. Sudah cukup kesabaran nya selama ini.


Albert membawa Queen ke kamar pribadi Queen yang berada di balik lemari buku. Queen tampak mengerutkan alis nya, pasal nya selama ini tidak seorang pun yang tau mengenai kamar pribadi nya termasuk Albert sendiri namun ini, Queen mencoba mengingat segala nya, ia tidak pernah menceritakan ruang pribadi nya atau pun mengajak Albert masuk kesana. Kali ini kecurigaan Queen lebih kuat, jika Albert bukan datang bekerja di perusahan nya saja, namun pria itu diam-diam mengeledah ruangan nya.


Baik, akan ku ikuti alur mu, Albert!


Tepat saat kombinasi angka di masuk kan pintu itu pun terbuka, Queen tercengang melihat kondisi kamar itu yang cukup berantakan, bantal dan guling berceceran di lantai, Queen tersenyum sinis. Ternyata ruang pribadi nya di jadikan tempat pelampiasan nafsu oleh Albert dan Monica.


Albert mendorong tubuh Queen ke arah ranjang, Queen yang tidak siap pun terperosok dengan kuat di atas ranjang. Melihat Queen yang diam tanpa ada rasa takut membuat darah Albert mendidih, dengan satu tarikan ia menarik paksa ikat pinggang nya, setelah terlepas ia pun hendak mencambuk Queen namun dengan sigap Queen menahan ikat pinggang itu dengan satu tangan nya.


"Apa kau pikir aku akan diam saja saat kau menindas ku?" tanya Queen dengan tatapan tajam dan begitu mengintimidasi. "Berhentilah bersikap seolah olah kau suami yang baik, jangan kau pikir aku tidak tau apa yang kau lakukan selama ini di belakang ku, Albert. Aku tau semua nya, aku hanya mencoba mempertahan kan rumah tangga kita, namun apa yang kau lakukan, kau makin membuat aku tau mengenai siapa diri kamu sebenarnya." keluar sudah unek-unek di hati nya, sakit itu yang saat ini di rasakan Queen, ia berjanji untuk tidak menangis mengingat pengkhianatan suami dan keluarga nya sendiri.


"Bagus jika kau tau segala nya, jadi aku tidak perlu berpura pura lagi." balas Albert dengan tersenyum puas.


Albert pun melangkah lebih dekat ke arah Queen, ia pun menunduk kan sedikit tubuh nya lalu berbisik di telinga istrinya itu.


"Monica hamil, karena rasa bahagia ku, aku akan melamar Monica tepat saat ulang tahun nya lusa nanti." bisik Albert dengan tersenyum miring. Setelah membisik kan beberapa kata Albert pun berlalu pergi dengan tawa khas seorang psikopat.


Queen mematung, dada nya terasa begitu sesak, lidah nya terasa keluh dan jantung nya berdebar tak beraturan. Bukan karena sakit hati atas apa yang di katakan Albert mengenai diri nya akan melamar Monica, namun kata hamil membuat Queen tak percaya, seketika raut wajah nya menjadi dingin di ikuti dengan tawa mengerikan.

__ADS_1


"Dasar pria bodoh, ternyata Monica cerdik juga. Tunggu pembalasan ku." gumam Kharenina dengan mengepalkan tangan nya.


Setelah pertengkaran hebat di antara mereka dua hari yang lalu, kini hubungan pernikahan mereka pun kian retak tak tentu arah, namun Queen dengan seribu kepintaran nya diam-diam menyuruh salah satu anggota tim nya untuk mengumpul kan bukti perselingkuhan Albert dan Monica agar kelak perceraian di antara mereka berjalan lancar tanpa hambatan.


****


Suara ketukan bolpoin yang menghantam meja marmer terdengar cepat. Entah apa yang sedang di pikirkan pria bermanik mata kecoklatan itu, pandangan nya lurus ke depan tanpa mengedip.


Tangan kanan nya sibuk memainkan pulpen dengan cara mengetuk nya di atas meja kerja nya, suara derit pintu yang terbuka bahkan ia abaikan.


"Tuan, apakah anda sakit?" tanya Satria dengan dahi yang mengerut, tak biasa nya ia melihat sang bos yang tidak bersemangat.


"Apa aku terlihat seperti orang sakit?" bukan nya menjawab, Asha mala balik bertanya di ikuti dengan sorot mata tajam nya.


"Anda terlihat tidak bersemangat Tuan." ucap Satria dengan hati-hati sembari menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal.


Jangan bilang jika bos sedang memikirkan Queen. Tapi enak juga saat melihat wajah bos seperti ini.


"Apa anda ingin saya menghubungi Queen dan meminta nya datang kesini?" tawar Satria dengan nada pancingan.


"Sudahlah, wanita itu pasti tidak akan menjawab panggilan mu juga!" kesal Asha saat seharian penuh kemarin ia menghubungi Queen namun tak kunjung mendapatkan balasan hingga pagi ini.

__ADS_1


"Kan belum di coba, Tuan. Queen pasti mau menerima panggilan dari saya." ucap Satria dengan percaya diri.


Asha tak langsung membalas ucapan Satria, ia menegak kan tubuh nya dan kembali bersandar di punggung kursi sembari menghembuskan nafas frustasi.


Tak berselang lama, sambungan telpon itu pun tersambung.


"Datanglah ke Emirate group jika kau tidak sibuk." pinta Satri dengan suara lembut namun penuh penekanan.


"Maaf, jika boleh tau ini siapa yah?" tanya seseorang yang menerima panggilan tersebut.


"Anda yang siapa? mengapa ponsel Queen ada padamu?" tanya Satria dengan nada gusar, pasal nya saat ini sambungan telpon itu tersambung namun bariton yang menerima panggilan itu seorang pria. Ia menatap wajah memerah Tuan nya saat tau panggilan itu di terima oleh seorang pria.


"Apa itu penting bagi anda untuk tau siapa saya? saya kekasih Queen! ada urusan apa anda menghubungi kekasih saya?" tanya Fadel dengan suara menantang namun menahan tawa nya, ia pasti tau jika wajah kedua pria di seberang sana pasti begitu kesal dan sangat marah.


"Berikan ponsel nya kepada Queen sekarang! katakan jika Satria menelpon nya saat ini!" tekan Satria sekali lagi.


"Oh maaf, kekasih ku sedang berada di kamar mandi, nanti saya akan beritahu dia mengenai telpon anda. Ya sudah saya tutup dulu, bye!" balas Fadel dan tanpa rasa takut, pria berwajah oriental itu pun memutuskan sambungan telpon tersebut tanpa mendengar balasan Satria.


"Hahahaha" seorang itu pun pecah, Queen yakin dan tau jika saat ini pasti sang kakak sedang di marahi pria arogan yang berhasil meniduri nya.


"Queen, kau sungguh gila! kau tau bukan siapa pria itu?" tanya Fadel dengan kesal nya.

__ADS_1


"Tenang saja, aku yakin setelah ini pria arogan itu tidak akan mengusik kehidupan ku lagi, terlebih ia benci dengan wanita yang suka menjajakan tubuh nya kepada pria lain, dan aku yakin setelah ini ia pasti tidak mengusik ku lagi." balas Queen dan keempat sahabat nya hanya geleng-geleng kepala melihat keusilannya. Namun jauh di lubuk hati keempatnya, mereka bahagia melihat Queen kembali tersenyum bahagia setelah apa yang di lalui nya beberapa hari ini.


Satria tampak meruntuki diri nya, jika saja ia tak menawarkan sebuah panggilan untuk Queen mungkin ia tidak akan terjebak dalam situasi menakutkan seperti saat ini. Melihat wajah memerah dan kepalan tangan sang Tuan, ia yakin jika pria itu pasti sedang dalam suasana hati yang begitu buruk.


__ADS_2