
"Queen capek Tan, mau istirahat, dan mengenai dokumen itu, nanti Queen tanda tangani setelah mempelajari nya." ucap Queen datar, setelah mengatakan itu ia pun berbalik dan berjalan menuju lift, namun lagi-lagi langkah nya terhenti saat suara Rika menggelegar di ruangan itu.
"Apa kau ingin mempermainkan Tante, Queen Sera? Tante kesini hanya untuk meminta tanda tangan kamu, mengapa kau mempersulit Tante." teriak Rika marah.
Queen yang geram dengan sifat Rika yang sudah sangat keterlaluan pun, berbalik dan berjalan kembali ke arah nya. Dengan gerakan cepat, Queen pun mencengkram leher Rika.
"Berhentilah menjadi kan aku sapi peras kalian, kali ini aku nggak bakalan tinggal diam!" desis Queen tajam, senyum nya kali ini sangat lah menakutkan, membuat nyali Rika menciut.
"Q-Queen Lepaskan tangan ka-mu." ucap Rika dengan terbata, cengkraman tangan anak sambung nya begitu kuat di leher, jika saja Queen tak melepaskan cengkraman itu, mungkin Rika sudah mati.
"Apa kau sudah gila? berani nya kau ingin membunuh ku, dasar wanita mandul.." teriak Rika dengan marah, ia pun hendak melayang kan tamparan namun sayang lagi-lagi Queen menahan pergelangan tangan nya.
Kali ini Queen tak dapat membendung emosi nya, tangan nya berulang kali terulur ke pipi Rika, dengan amarahnya ia menampar Rika berulang kali. Rika yang di perlakukan seperti itu gemetar ketakutan, pasal nya baru kali ini ia melihat Queen dengan kemarahan nya.
Setelah mengetahui segala rencana yang di susun sedemikian rupa oleh Erika dan lainnya membuat sosok Kharenina yang biasa bersikap lemah lembut menjadi sosok yang begitu menakutkan, wanita cantik itu terlihat seperti seorang malaikat pencabut nyawa, ia bagaikan binatang buas yang siap memangsa buruannya, sorot mata nya yang teduh tidak lagi terpancar di manik biru miliknya.
"Ayah mungkin bisa kau kelabui Erika! tapi tidak dengan ku! selama ini aku diam bukan berarti aku takut dengan anda, Nyonya Mahalini!" desis Queen dengan senyum menakutkan yang tidak pernah di lihat oleh siapapun.
Deg
Mendengar penuturan sang anak sambung, membuat tubuh Erika menegang, ia begitu terkejut mendengar Queen menyebutkan identitasnya yang sebenarnya.
"Apa kau kaget Erika? mungkin kau bertanya-tanya dari mana aku mengetahui identitas asli mu, bukan? satu yang perlu kau ketahui IBU. Aku lah yang selama ini kalian cari, akulah wanita misterius di balik topeng saat penyerangan yang merenggut nyawa suami tercintamu!" jelas Queen dengan smirk jahat nya.
__ADS_1
Deg
Tubuh Erika melemas seketika, mata wanita paru baya itu memerah seketika saat memori 3 tahun yang lalu kembali berputar di kepala nya, di mana suami yang sangat dicintainya merenggang nyawa saat dua peluru menembus kepala sang suami, Brian Mahalini.
"Biadab! dasar wanita iblis! jangan berbahagia dulu Queen, karena mungkin saat ini semua pembicaraan kita sedang di pantau langsung oleh Ayahmu sendiri dan satu lagi, mungkin setelah ini kau akan di buang oleh Ayah mu karena ia tidak mungkin menerima wanita pembunuh seperti dirimu!" seru Erika berapi-api dan begitu percaya diri.
Ha...ha..ha
Tawa renyah Erika menusuk gendang telinga Queen hingga membuat wanita cantik itu menyunggingkan seutas senyum mengejek.
"Kau salah Ibu, karena aku tidak sebodoh dirimu, yang akan meninggalkan jejak apapun. Ayah tak mungkin tau, karena aku sudah meretas seluruh CCTV yang kau pasang di sini maupun rumah utama!" seru Queen dengan tersenyum puas kala melihat wajah memerah Erika.
"Jecky, seret wanita gila ini dari sini! beri ia hukuman yang tidak bisa di lupakan oleh nya seumur hidup!" teriak Erika lantang dan penuh percaya diri.
"Apa yang kalian lakukan? bantu aku menyeret wanita psikopat ini!" teriak Erika marah.
Pria yang di panggil dengan sebutan Jecky itu tampak tak bergeming dari posisinya, begitu pun dengan teman-temannya.
"Ck! kau terlalu percaya diri Erika! para pengawal kamu ialah orang-orang yang aku kirimkan untuk mengawasi setiap pergerakan kamu! dan ya, Jecky juga salah satu orang kepercayaan ku. Kau sudah TAMAT Erika!" ucap Queen dengan menekan kata tamat di akhir kalimatnya.
"Jeck, bawa wanita ini ke markas, Eve dan lainnya sudah menunggu kalian di sana!" titahnya dengan raut wajah datar.
"Baik, Queen. Apa aku boleh mencicipi Ibu sambung mu ini?" tanya Jecky si predator ************ dengan wajah mesumnya.
__ADS_1
"Terserah! tapi ingat pastikan ia masih hidup hingga waktunya tiba!" balas Queen sambil mendorong tubuh Erika ke arah Jecky.
"Mari kita bersenang-senang Nyonya!" seringai licik tercetak jelas di wajah Jecky.
Queen segera berlalu meninggalkan Jecky dan lainnya, wanita cantik itu terus saja bersenandung di selah-selah langkahnya menuju lift yang akan mengantarkan dirinya ke kamar.
Para pekerja yang bekerja di rumah itu ialah orang-orang kepercayaan mendiang Ibunya. Mereka mendedikasikan diri mereka sepenuhnya hanya tunduk pada pada perintah Nona muda mereka. Mereka yang menyaksikan kekejaman sang Nona muda tersenyum bahagia, melihat Erika mendapatkan perlakuan mengerikan dari sang Nona muda membuat hati para pelayan senang bukan main.
Ya, mereka senang bukan tanpa alasan, sebagian pekerja di rumah itu, mereka ialah para pekerja di rumah utama yang di pecat oleh Erika tanpa belas kasihan.
"Syukurlah Nona muda sudah mau bangkit lagi setelah kepergian Nyonya besar. Semoga juga Nona muda segera mengetahui kebusukan suaminya yang bermain serong dengan si Nenek lampir Monica." seru Ira salah satu art di rumah itu.
"Sudah-sudah, ayo kembali kerja. Jika tidak ingin kena marah Nyonya Lidya." ajak Nancy kepada teman seprofesinya.
Di dalam kamar, tampak Queen sedang berselancar di sosial media. Berulang kali sebuah senyum tersemat di sudut bibirnya. Sebuah potret seorang pria terpampang jelas di layar ponsel wanita itu.
Ingatan akan adegan panas yang terjadi malam kemarin membuat Queen malu, meski dalam pengaruh alkohol tapi tak dapat di pungkiri oleh nya jika permainan panas pria itu begitu nikmat dan membuat dirinya melayang.
Sepersekian detik ia menggeleng kepala, ia segera menepis pikiran gilanya yang begitu mendambakan sentuhan pria itu lagi dan lagi.
Astaga Queen, kenapa kau mesum sekali.
Ia meruntuki dirinya, ia tidak seharusnya mendambakan pria itu terlebih ia tidak mengenal pria itu, meski ia yakin jika Satria tidak mungkin menjerumuskan ia kedalam dekapan seorang pria yang salah.
__ADS_1
Setelah bergelut dengan pikirannya, Queen pun menyibukkan dirinya dengan memeriksa beberapa file penting yang di antar Bara sang asisten kemarin saat siang hari.