Janda Kesayangan Tuan Mafia

Janda Kesayangan Tuan Mafia
8. Rencana yang gagal


__ADS_3

Di lain tempat, tepatnya di perusahan RZ, sedang di adakan rapat penting yang di pimpin oleh Albert selaku wakil CEO, pria itu secara terang-terangan ingin menyingkirkan Queen dari posisinya sebagai ahli waris. Pria itu begitu licik ingin menyingkirkan istrinya sendiri karena ambisi dan keserakahan nya yang ingin menguasai kekayaan Ayah mertuanya.


"Di sini saya sebagai wakil CEO sekaligus menantu dari Abraham Zorsky, ingin meminta dukungan kepada para direksi untuk mengangkat saya menjadi pimpinan perusahan menggantikan mertua saya yang sedang sakit parah. Jika di perkenankan saya berjanji akan memajukan perusahan ini. Sekian dan terima kasih." ucap nya dengan percaya diri.


Seketika ruang rapat itu menjadi ricuh setelah mendengar ucapan pria yang mereka ketahui sebagai suami dari CEO RZ. Para direksi pun mulai berbisik bisik kala pria yang memimpin rapat tersebut meminta dukungan kepada mereka.


Jeremy: Selamat siang Nyonya, bisakah Nyonya saat ini ke perusahan sekarang? Tuan Albert sedang melangsung kan rapat penting dengan para petinggi perusahan. Tuan Albert juga mencalonkan diri sebagai Ketua RZ menggantikan posisi Tuan besar Federico, dan masalah gentingnya juga Tuan Albert sendiri ingin mengantikan posisi anda dengan Nona Kinan.


Sebuah notifikasi pesan masuk, menginterupsi pembicaraan Queen bersama kelima sahabat nya. Melihat id pengirim pesan, Queen pun segera meraih benda pipi yang berada di atas meja, seketika Queen mengeram kesal sekaligus marah. Sorot mata nya berubah menjadi tajam, dan seketika private room itu menjadi hening dan mencekam.


"Brengsek kau, Albert! tunggu sedikit lagi, akan aku pastikan kau dan seluruh anggota keluarga mu menderita dan mendapatkan hukuman yang setimpal!" gumam nya dengan sorot mata tajam.


"Queen ada apa?" tanya Evelyn khawatir.


"Buat guncangan pada perusahan keluarga Albert, sekarang!" titahnya kepada kelima sahabatnya.


Evelyn beserta yang lainnya hanya menganggukkan kepala tanpa mau bertanya lagi, mereka sangat mengenal watak seorang Queen, oleh karena itu mereka memilih diam dan tidak ikut campur meski mereka sendiri ingin sekali ikut andil dalam masalah sang sahabat.


Setelah mengatakan titahnya, Queen segera berlalu dari sana meninggalkan para sahabat nya yang mulai berkutat di depan laptop masing-masing.


Mungkin ini maksud Asha yang meminta aku untuk kembali aktif di perusahan. Akan aku ikuti alur permainan mu, Albert Jovanca Romanov!


Seorang pria terlihat gusar di depan sebuah ruangan, pria itu berulang kali melihat ke arah layar ponselnya. Berulang kali ia mencoba tenang, tapi mendengar situasi di balik pintu membuat ia cemas bukan main.

__ADS_1


Astaga, Nyonya Queen kemana? kenapa beliau hanya membaca pesan ku tanpa mau membalasnya.


Berulang kali pria itu mendesah, jika saja ia tau mengenai rapat ini, mungkin ia bisa mencegah nya dengan meminta para dewan direksi untuk tidak ikut dalam rapat dadakan yang di minta Albert.


Me: Lima belas menit lagi saya tiba, pastikan tidak satu pun dari para dewan direksi menyetujuinya.


Pria itu akhirnya bernafas lega saat membaca pesan balasan atasannya itu. Dengan cepat pula pria itu mengirimi pesan pada salah seorang yang ikut andil dalam rapat tersebut, pria itu di larang keras memasuki ruang rapat tersebut dan semua itu atas perintah Albert yang tidak mengijinkan dirinya ikut dalam rapat itu.


Jeremy: Baik Nyonya.


Sebegitu inginkah kau Jerry dengan jabatan itu? sehingga kau ingin menggeser posisi Ayah ku! tak akan ku biarkan semua rencana kamu berjalan mulus, kita lihat saja siapa yang akan menjadi pemenang nya.


Tak membutuhkan waktu lama, kini mobil Queen telah terparkir dengan rapi di depan loby perusahan, melihat kedatangan sang pimpinan, mereka membungkuk sopan kepada wanita itu, Queen pun melemparkan senyum kepada mereka.


"Selamat siang, Pak, dan terima kasih." balas Queen dengan ramahnya, di ikuti dengan senyum manis yang membuat siapa saja merasa terhipnotis ketika melihat senyum itu.


Setelah membalas sapaan dari scurity, Queen dengan langkah yang begitu elegan berjalan masuk ke dalam perusahan, Kania yang juga kebetulan berada di depan resepsionis kaget mendapati kedatangan sang kakak ipar siang ini. Kania pun memasang wajah imut nya menghampiri Queen.


"Kakak, ada apa?" tanya Kania dengan manjanya.


Mendengar nama nya di panggil dan cukup mengenali suara itu Queen pun berbalik dan mendapati adik iparnya yang tersenyum lebar ke arahnya, namun Queen tidak bodoh, ia cukup tau jika senyum di wajah sang adik ipar adalah senyum palsu. Namun Queen yang tak ingin membuat Kania curiga pun, segera menjawab lontaran pertanyaan dari gadis belia di depannya.


"Apa aku tidak boleh datang ke perusahan aku sendiri!" balas Queen datar.

__ADS_1


Kania begitu terkejut mendengar ucapan Queen, pasal nya selama ini ia cukup tau jika Queen adalah wanita lemah lembut, melihat perubahan di raut wajah Kania, Queen pun segera menepuk pundak sang adik ipar nya itu.


"Haha.. Maaf Kakak hanya bercanda. Apa Albert ada di ruangan nya? Kakak begitu merindukan Kakakmu, maka dari itu Kakak kesini." jelas Queen di ikuti tawa renyah nya.


Di akhir kalimat nya, ia jelas ingin membuat sedikit drama di depan adik iparnya, yang ia ketahui jika gadis belia itu tidak pernah menyukai dirinya. Gadis itu selalu membanding bandingkan dirinya dengan Monica.


"Ya sudah, Kakak pergi menemui Kakakmu dulu, ya." pamit Queen dan segera berbalik, saat itu juga senyum di wajah nya perlahan memudar di gantikan dengan wajah datar tanpa ekspresi.


Queen tak ingin membuang-buang waktu nya bersama Kania, ia ingin segera menghentikan kegilaan Albert. Ia tidak akan membiarkan siapa pun menghancurkan kerja keras Ayah nya selama ini.


Di ruang rapat, tampak Albert menahan kekesalan nya, di karenakan para dewan direksi tidak ingin mengambil keputusan sebelum mereka mendengar langsung dari CEO RZ yang tak lain ialah Queen Sera Zorsky anak dari Federico Abraham Zorsky, yang di ketahui menjadi pewaris satu-satu nya kekayaan Zorsky setelah kematian Giantoro Zorsky.


"Apa kalian pikir saya berbicara omong kosong? Queen istri saya, dan semua ini di minta langsung oleh Queen, ia sedang sibuk mengurus Ayah mertua saya di rumah sakit, oleh karena itu saya berbicara mewakili istri saya!" tekan Albert yang mulai jengah dengan penolakan dari pada dewan direksi. Dengan penuh kemarahan, ia meruntuki sang istri yang menjadi satu-satunya penghalang dari segala rencana yang ia susun.


Sial! mungkin dengan kematian kamu, mereka para pria blangkotan ini pasti akan segera menyetujui aku sebagai pimpinan perusahan menggantikan Ayah mu yang sakit-sakitan itu.


Tiba-tiba terdengar sepatu high heels yang beradu dengan lantai berjalan mendekati ruangan mereka, seketika ruangan itu menjadi hening kala pintu ruangan itu di dorong dari luar, tampak sosok Queen berdiri dengan anggun nya.


"Ada apa? mengapa kalian melihat saya seperti itu? apa saya datang di waktu yang salah?" tanya Queen pura-pura tidak tau apa yang sedang terjadi di ruangan itu.


Semua menunduk malu sekaligus takut, mereka tak berani memandang ke arah sosok Queen, pasal nya tak satu pun dari mereka yang mengabari wanita cantik itu mengenai rapat dadakan ini. Seorang pria yang menjadi kepercayaan Queen dan Ayah nya berdiri tepat di belakang wanita itu.


Albert tercengang, ia berpikir keras siapa yang memberitahukan sang istri mengenai rapat internal ini, ia pun menatap tajam pria yang berada tepat di belakang istrinya itu, namun pria itu hanya mengangkat kedua bahu nya, sebagai tanda ia tidak tau dengan kedatangan sang Nyonya.

__ADS_1


__ADS_2