
Sepeninggalan Queen, tampak Luisa, Nayara dan Evelyn keluar dari butik dengan banyak paper bag di tangan mereka, ketiganya yang asik berbelanja belum juga menyadari jika Queen tak lagi bersama mereka. Melihat ketiga sahabat mereka yang keluar dari butik kedua nya hanya geleng-geleng kepala.
"Jec, ini buat kamu. Pakailah malam nanti, dan ini untukmu Del." seru Luisa sambil menyodorkan paper bag kepada kedua pria itu.
"Queen mana? bukannya tadi bersama kalian?" tanya Yara saat tak mendapati sosok Queen.
"Oh iya, tadi iya pamit duluan, katanya mau ke tempat Paman." jelas Jecky.
"Astaga, kebiasaan sekali sih, suka pergi tanpa pamit." gerutu Luisa.
"Udahlah, mungkin ada hal mendesak hingga ia pergi. Makan yuk, laper nih." ajak Evelyn dan di anggukin kepala oleh mereka.
*****
"Jer, tolong bacakan jadwalku hari ini." pinta seorang wanita dengan setelan blazer kantoran pada pria yang mengekor di belakangnya.
"Satu jam lagi Anda harus menghadiri rapat bulanan, setelah makan siang, Anda harus menemui Tuan Kuratshi untuk penandatanganan kontrak kerja sama. Sekitar jam tiga sore, Anda harus meninjau proyek pembangunan hotel di luar kota, Nyonya." jelas Jeremy sedetail mungkin.
Wanita itu tampak berpikir sejenak. Sepertinya ada sesuatu yang kurang atau mungkin salah, pikir sang pria yang merupakan asisten wanita itu.
"Apa bisa kau batalkan saja peninjauan proyek untuk hari ini? aku di undang ke pesta Tuan Millano, tak etis juga menolak undangan nya bukan?." pintanya dengan wajah memelas.
Jeremy menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia mencoba menahan tawa nya kala melihat Ekspresi Queen yang seperti memohon belas kasihnya.
"Tidak bisa, Bos. Anda harus ikut andil dalam peninjauan proyek itu, anda tau sendiri jika pemegang saham sedang gencar-gencarnya mencari celah untuk menjatuhkan anda terlebih setelah kegilaan suami anda bulan kemaren." tolak Jeremy sambil menahan tawanya.
Terdengar helaan napas berat dari wanita di depannya.
"Ya sudah, kirimkan karangan bunga serta beberapa buah tangan sebagai permohonan maaf atas ketidak hadiran ku malam nanti." ujar Queen cemberut, pasalnya wanita itu sangat berharap untuk pergi ke pesta itu sebagai pembuktian jika ia tidak lagi mengharapkan Albert. Agar kelak dirinya tidak di jadikan bahan olok-olok lagi para sahabat terlebih oleh Luisa.
"Berikan alasan yang masuk akal, jika anda ingin pergi kesana." dengan berani nya ia berucap.
__ADS_1
Kedekatan di antara mereka membuat Jeremy begitu berani dalam berucap. Kebersamaan mereka hampir 10 tahun lama nya membuat hubungan di antara keduanya layaknya kakak beradik. Queen sendiri menganggap Jeremy sosok sang kakak yang selalu ada di setiap suka maupun duka, oleh karena itu wanita cantik itu hanya bisa memberengut kesal mana kala ia selalu di kerjai oleh Jeremy.
Sepersekian detik Jeremy menghentikan tawanya. Wajah nya kembali datar hanya dalam hitungan detik.
"Aku tau, dan jadwal peninjauan proyek sudah aku undur di hari jum'at mendatang, tapi ingat setelah ini jangan ada lagi pembatalan karena aku tidak ingin melihat wajah-wajah penjilat itu menjadikan kamu bahan pergunjingan." ujar Jeremy mengingatkan atasannya itu.
"Terima kasih, Jer. Kau selalu bisa di andalkan." seulas senyum terbit di wajah cantik Queen. Ia begitu beruntung memiliki asisten sekaligus sekertaris seperti Jeremy yang begitu kompeten dan selalu bisa di andalkan dalam urusan pekerjaan.
"Sudahlah, aku bosan mendengar ucapan terimakasih dari mulut mu itu." ketus Jeremy.
"Lagipula, jasamu pun sangat besar untuk hidupku. Kau menyelamatkan ku dan mengangkat ku menjadi orang yang terpandang dan tidak di kucilkan lagi dalam keluarga. Dan apa yang aku lakukan selama ini belum sepenuh nya bisa membalas semua jasa mu dan Tuan besar."
Sama seperti Queen, Jeremy pun memiliki hutang budi yang begitu besar kepada wanita di depannya. Jika saja saat itu, ia tidak bertemu dengan Queen, mungkin sudah sejak lama ia tidak hidup di dunia ini karena ketamakan keluarga nya yang hampir melenyapkan dirinya belasan tahun yang lalu.
"Bagaimana mungkin aku tidak mengucapkan terima kasih setelah apa yang kau lakukan selama ini. Setelah ini ambillah cuti, dan carilah kebahagiaanmu." jelas Queen dengan jujur.
"Ck' jangan repot-repot mengurusi kebahagiaan ku, seharusnya kau cuti saja dan kejar pria impianmu itu sebelum terlambat." balas Jeremy telak, dan berhasil membuat Queen bungkam.
"Ah iya, aku baik-baik saja. Sebaiknya kita gegas ke ruang meeting, sebelum Thiany mengomel karena kita datang terlambat." ajak Queen.
Kedua nya gegas menuju ruang rapat. Melihat kedatangan Queen dan Jeremy, Thiany dengan sigap berdiri dan menghampiri kedua nya.
"Dari mana saja kalian? sejak tadi aku kewalahan menghadapi pertanyaan konyol dari mereka." bisik Thiany kesal.
"Maaf Thiany, ini semua gara-gara Jeremy yang terus mengajak ku ngobrol hingga lupa waktu." balas Queen setengah berbisik tapi masih bisa di dengar oleh kedua nya.
Jeremy melotot mendengar ucapan Queen yang menyalahkan dirinya.
Astaga, bukannya dia yang sejak tadi mengajakku bicara, awas saja kamu Queen, aku nggak bakalan bantuin kamu lagi.
"Sudahlah, ayo cepat." ajak Thiany kesal.
__ADS_1
Dua jam berlalu, Queen beserta kedua sekretarisnya segera melenggang keluar dari ruang rapat menuju ruangan Queen kembali. Di tengah pembicaraan ketiganya, tiba-tiba seorang gadis belia masuk dengan wajah masam.
Brakkk
Ketiga orang itu terperanjat kaget kala mendengar dentuman pintu yang di dobrak paksa.
"Dasar tidak tau sopan santun." gumam Thiany pelan tapi masih bisa di dengar oleh ketiganya.
"Diam kau penjilat!" sentak gadis belia itu dengan marah.
"Turunkan intonasi mu, Kiana!" geram Queen dengan sikap semena-mena Kiana.
Sungguh tak tau malu, andai kau bukan adik ipar Queen, sudah sejak lama kau ku tampar.
"Apa maksudmu mencabut jabatanku?" teriak Kaina dengan lantangnya.
"Turunkan intonasi mu, Nona. Dan jaga batasanmu!" marah Jeremy dengan aura mematikan.
Sorot mata pria itu berubah nyalang, ia tak akan terima jika ada yang berani berbicara tak sopan dengan Queen. Pria itu melangkah maju mendekati Kaina dan hendak mencengkram dagu wanita belia itu namun urung saat suara Queen menginterupsi.
"Jangan buang tenaga mu hanya untuk meladeni orang-orang tak tau malu seperti mereka, Jer." seru Queen, kali ini Queen mengalihkan tatapan nya ke arah Kaina.
"Ini perusahan ku, apapun yang aku putuskan tidak memerlukan persetujuan kamu maupun kakak mu! Jadi berhenti bersikap angkuh seakan akan perusahan ini milik keluarga kalian. Dan mulai saat ini, kau tidak lagi menjadi bagian perusahan ini, segera bereskan semua barang-barang mu dan angkat kaki segera dari perusahan ku." tegas Queen dengan wajah datar nya.
Kaina melotot kan mata nya, gadis belia itu tampak terkejut mendengar penuturan Queen yang biasa nya bersikap lembut kini menjadi angkuh. Tak terima dirinya di permalukan, Kania berjalan mendekat ke arah Queen, tangan gadis belia itu sudah mengudara hendak menampar wajah Queen, namun dengan cepatnya Queen menahan pergelangannya.
Plaakkk
"Selama ini aku diam bukan berarti aku takut dengan kalian! kau dan keluargamu hanya benalu yang hidup dalam belas kasihku, jadi jangan pernah berharap bisa menindas ku!" sentak Queen sambil mendorong tubuh Kania, hingga wanita itu terjerembab ke lantai karena kehilangan keseimbangan.
"Minta security menyeret benalu ini dari sini, dan katakan kepada seluruh staf untuk tidak lagi menghormati benalu ini." titah nya kepada Jeremy.
__ADS_1