
"Tuan, jangan dengar kan ucapan pria barusan, saya yakin Queen tidak akan melakukan semua itu." bujuk Satria dengan penuh keyakinan.
"Cari keberadaannya dan seret wanita itu kesini!" titah nya dengan sorot mata memerah menahan amarah nya.
"Ba-baik Tuan." balas Satria dan berlalu keluar dari ruangan tersebut.
Satria tau jika ini semua pasti akal-akalan Queen, wanita itu pasti sedang mencari celah untuk tidak terlibat lebih jauh dari Tuan nya, tempat yang saat ini ingin Satria kunjungi adalah restoran milik Luisa , ia yakin jika saat ini mereka pasti berada di sana.
Quenn kenapa kau bodoh sekali! andaikan kau tau apa yang bisa di lakukan Asha, kau pasti akan meruntuki dirimu sendiri!
Dua jam menempuh perjalanan, mobil Satria berhenti tepat di sebuah restoran mewah yang berada di pusat kota, tanpa rasa sungkan Satria melangkah masuk ke dalam restoran, kedatangan nya di sambut dengan sorot mata tajam dari seseorang pria yang baru saja keluar dari lift.
Mendapatkan tatapan seperti itu, Satria hanya berlalu tanpa mau repot-repot membalas tatapan tajam pria tersebut.
Setibanya di lantai tiga Satria mendorong sebuah pintu, tanpa permisi ia segera mendekati sosok Queen yang sedang fokus di depan layar laptop. Kedatangan nya membuat ke tiga sahabat wanita Quern memberenggut kesal.
"Hey, tidak bisakah kau bersopan santun sedikit saat berkunjung ke tempat orang?" teriak Luisa ketus.
Mendapat pertanyaan seperti itu Satria hanya memutar bola mata nya malas. Ia terus melangkahkan kaki nya mendekati Queen.
"Kak, duduklah." ujar Queen mempersilahkan Satria untuk duduk.
"Kenapa kau menjauhi Asha?" tanya Satria saat sudah duduk di samping Queen.
__ADS_1
"Aku hanya tidak ingin terlibat lagi dengan nya kakak. Aku tau seperti apa sosok Asha, aku sungguh tidak ingin terlibat dengan pria yang masih terus saja mengharapkan wanita di masa lalunya. Bayang-bayang masa lalunya akan menjadi bom waktu di kala kami bersama. Aku hanya ingin menjalin bubungan yang sehat dengan pria yang kelak nanti akan menjadi pendampingku." jelas Queen dengan wajah murung nya.
Ya, sejak malam itu, diam-diam Queen mengagumi sosok Asha, ada suatu perasaan yang membuat nya ingin mencari tau siapa sosok pria itu, namun sebuah fakta membuat hatinya tidak ingin melanjutkan hubungan apapun dengan pria itu. Terlebih saat tau jika pria itu belum juga bangkit dari kisah cinta masa lalunya, ada perasaan kecewa yang melingkup hatinya yang paling dalam.
"Percayalah, Asha sudah mulai menutup lembaran masa lalunya sejak ia mengenal kamu, Queen. Temui ia jika kamu memang menginginkan sebuah jawaban pasti darinya, setelah nya keputusan ada di tangan kamu." pinta Satria, pria itu yakin jika sahabat sekaligus bosnya itu benar-benar sudah melabuhkan hatinya pada sang sepupu
"Baiklah, aku akan menemuinya sebentar nanti."
"Ya sudah, kakak pamit dulu. Jangan membuatnya menunggu terlalu lama, karena kau sendiri tau jika pria itu ialah pria yang sangat tidak sabaran."
Satria pun bangkit dan melenggang pergi dari ruangan itu, namun sebelum benar-benar meninggalkan tempat itu ia mengedarkan pandangan nya kepada sesosok gadis yang sangat ia cintai. Sang gadis yang merasa sedang di perhatikan pun perlahan mendongak kan kepala nya menatap manik mata yang begitu ia rindukan namun Satria dapat melihat jelas jika sorot mata gadis itu memancarkan suatu kesedihan dan kekecewaan kepada dirinya.
Dan dengan cepat pula gadis itu memutuskan kontak mata di antara mereka. Satria pun menghembuskan nafasnya dengan pelan dan segera keluar dari ruangan itu.
*****
"Sampai kapan kau akan terus memikirkan wanita yang sudah mencampakkan kamu, Sha? jika ia hanya akan kau jadikan sebagai pelampiasan kamu, aku tidak akan pernah membiarkan semua itu terjadi." ucap Satria tegas.
"Tutup mulutmu! jangan pernah menjelekkan Alicia, sampai kapan pun tidak akan ada yang bisa menggantikan posisinya di hati ku!" desisnya marah dan menatap tajam sahabat sekaligus asisten nya itu.
"Kenapa? Ini sudah bertahun-tahun lamanya, dan kau masih belum bisa move on darinya. Jika ia wanita baik-baik ia tidak akan mungkin pergi meninggalkan kamu, Sha! mungkin saja ia sudah berbahagia dengan pria pilihannya, sedangkan kau? kau masih saja terperangkap dalam bayang-bayang masa lalu kalian."
Buagh!
__ADS_1
Pukulan keras langsung melayang ke arah pipi Satria.
"Jangan pernah menjelekkan Alicia dengan mulut kotormu! Alicia bukanlah wanita seperti itu! dan jangan pernah mengatakan kepadaku untuk menggantikan ia dengan wanita lain!" tekan Asha dengan suara yang naik beberapa oktaf.
"Tidak ada yang salah dengan perkataan ku! kau saja yang bodoh! sudah bertahun-tahun kau masih saja mengharapkan wanita yang sudah mencampakkan kamu!"
Buugh!
Buugh!
Buugh!
Asha melayangkan pukulan nya bertubi-tubi ke arah wajah Satria. Mendapat perlakuan seperti itu, Satria tak tinggal diam, dengan cepat pula ia membalas pukulan sahabatnya itu. Satria dengan ilmu bela dirinya pun menendang perut Asha hingga pria tampan itu terjungkal ke tanah, dan dengan cepat pula, Asha bangkit dan membalas pukulan Satria. Perkelahian di antara keduanya tak terelakkan lagi, wajah mereka sama-sama babak belur.
Kekuatan mereka dalam ilmu bela diri begitu setara, tak ada yang mau mengalah di antara mereka, seakan kekesalan dan kekecewaan di lampiaskan mereka dengan saling menyerang satu sama lain.
Satria memilih mengakhiri perkelahian itu dengan menjatuhkan tubuhnya ke atas rerumputan dengan tangan terlentang, dan di ikuti oleh Asha melakukan hal yang sama seperti Satria.
"Kau sahabatku, tapi Queen juga adik yang harus aku jaga setelah kepergian Gian, oleh karena itu, jika kau masih tidak bisa bangkit jangan pernah dekati Queen, apalagi menjadikan ia sebagai pelampiasan atas kesendirian kamu dan akan kau campakkan saat wanita itu kembali, dan jika semua itu benar-benar terjadi, maka persahabatan di antara kita juga akan berakhir saat itu juga."
"Tutup mulutmu!" desis Asha, pria itu pun bangkit dari posisi berbaringnya, dan melangkah pergi meninggalkan sahabatnya.
Di dalam mobil Asha memukul-mukul stir mobilnya, ia marah dan kesal dengan Satria yang kembali mengungkit masa lalu yang belum bisa ia lupakan. Pandangannya lurus kedepan, bayangan akan sesosok gadis cantik yang dulu pernah mengisi hati nya dan membuat ia tersenyum kala kenangan itu kembali hadir dalam ingatannya.
__ADS_1
Semakin lama waktu berlalu, rasa cintanya kepada gadis itu tak memudar sedikitpun, mala sebaliknya, rasa cinta itu semakin besar bersemayam di hatinya, dia begitu merindukan kekasih hatinya itu.
Cukup lama ia berdiam diri di dalam mobil dengan kepingan masa lalunya, ia pun perlahan menjalankan mobilnya, tujuannya saat ini ialah kantor.