
Hari sudah menjelang sore, setibanya Asha di ruangannya, pria itu segera masuk ke kamar mandi dan membersihkan dirinya. Perasaannya yang menggebu-gebu ingin bertemu dengan Queen seakan sirna begitu saja, untuk saat ini ia tidak ingin bertemu dengan wanita yang beberapa hari ini membuat pikirannya tak fokus. Namun sayang, baru saja ia hendak memerintahkan Satria untuk membatalkan pertemuan di antara mereka, tiba-tiba pintu ruangan nya di ketuk dari luar.
Tok..tok..tok
"Masuklah!" sahutnya dari dalam.
Seorang wanita cantik dan begitu elegan berjalan masuk saat mendapatkan persetujuan, wanita itu mengerutkan alisnya saat melihat wajah lebam penuh luka di wajah pria itu. Namun dengan cepat pula ia menepis pemikirannya.
"Ada apa kau memintaku untuk bertemu?" tanya Queen to the point.
Pria itu menatap nyalang wanita tersebut. Ada rasa kesal yang tiba-tiba melingkup perasaannya kala mengingat suara pria yang menjawab telpon Satria pagi tadi.
"Kemana saja kamu? kenapa telpon dan pesanku kau abaikan sejak kemarin, hah?" cecar pria itu penuh kekesalan.
"Sibuk!" ketus Queen.
"Sibuk? sibuk ngapain? apa sibuk menjajakkan tubuhmu pada pria lain, hah?" seru Asha dengan sorot mata tajam.
"Jika asumsimu seperti itu, aku bisa apa?" balas Queen santai, namun jauh di lubuk hati nya ia begitu kecewa dengan Asha yang tega menuduhnya seperti itu.
"Aku sedang tidak ingin berdebat. Jika tidak ada yang ingin kau bicarakan lagi, aku pergi." pamit Queen yang mulai jengah dengan sikap dingin Asha.
Tanpa menunggu jawaban Asha,
Queen segera melangkah kan kaki nya menjauhi pria itu, namun belum sempat ia meraih gagang pintu tangan nya terlebih dahulu di cekal oleh Asha.
__ADS_1
Dengan gerakan cepat Asha membalikkan tubuh Queen, pria itu segera menempelkan bibirnya ke bibir Queen. Mendapat serangan yang tiba-tiba dari pria itu, Queen membelalak kaget. Ciuman pria itu terkesan kasar, beberapa kali ia menggigit bibir bawah Queen, wanita itu memekik sakit kala merasakan perih pada bibir bawahnya. Dengan kuat Quern mendorong tubuh Asha.
Plakk
"Kita memang sudah pernah menghabiskan satu malam, tapi aku bukan seorang pelacur yang dengan seenak jidat kamu bisa menguasai tubuhku. Satu lagi, mulai detik ini jangan pernah menyuruh Satria untuk mencari ku, karena aku tidak sudi berhubungan lagi dengan pria bejat seperti mu!" desis Queen dengan rasa sesak yang menyeruak kala perlakuan pria itu.
Queen pun segera keluar dari ruangan pria itu, tepat saat pintu ruangan itu di buka olehnya tampak sesosok gadis cantik dengan pakaian super minim berdiri di depannya, tatapan wanita itu begitu sinis menatapnya, namun Queen tak ambil pusing, wanita itu segera melangkah kakinya melewati wanita di depannya.
"Siapa wanita itu, Honey?" tanya sang wanita dengan suara manja.
"Mengapa kau kesini? pergilah Sandrina!" usir Asha sambil menepis kasar tangan wanita itu dari lengannya.
"Aku merindukan kamu, Honey. Sentuhanmu membuatku tidak bisa berpaling kepada pria lain. Sentuh aku, beri aku kepuasan setelahnya aku akan pergi." jelas wanita itu dengan tak tau malunya.
"Aku sedang tidak berminat! dan hubungan di antara kita sudah berakhir sejak tiga tahun yang lalu! jangan kau kira aku tidak tau apa yang selama ini kau lakukan dengan rivalku, Sandrina!"
Wanita itu terbelalak kaget, ia tidak menyangka jika Asha tau apa yang ia lakukan selama ini di belakang pria itu, dengan penuh kekesalan wanita itu beberapa kali menghentakkan kakinya dan berlalu keluar dari ruangan pria itu.
Saat ini aku memilih pergi bukan karena takut dengan ancaman mu, aku akan kembali untukmu Asha, karena kamu milikku, hanya milikku!
Tanpa sepengetahuan Queen, Asha sudah menyuruh beberapa anak buahnya untuk membuntuti dirinya. Kali ini tujuan Queen ialah apartemen rahasia miliknya. Wanita cantik itu memilih menenangkan pikirannya dengan menyendiri di apartemen.
Tepat pukul tujuh malam, Queen tiba di apartemen, setibanya di apartemen, wanita itu segera membersihkan dirinya. Setelah selesai ia pun menuju dapur, sejak siang tadi ia melupakan makan siang nya, alhasil saat ini ia merasakan lapar.
Dengan cekatan ia membuat makan malam untuk nya sendiri, di selah-selah memasak tak lupa wanita cantik itu bersenandung ringan. Setelah hampir lima belas menit berkutat di dapur, Queen segera menata makan malam nya di meja makan. Wanita cantik itu pun segera duduk dan menyantap makan malamnya.
__ADS_1
Wanita cantik itu makan dengan begitu lahapnya, kejadian beberapa jam yang lalu coba ia lupakan. Setelah makan malam usai, ia pun segera merapihkan peralatan makan nya. Setelah memastikan dapur kembali rapi, ia pun melenggang keluar dari dapur menuju ruang tamu.
*****
"Eve, tunggu!" panggil sang pria.
"Menjauh lah dariku! di antara kita tidak ada lagi yang perlu di bicarakan!" desis sang wanita dengan kilatan marah.
"Sudah empat tahun berlalu, tidak bisakah kau memberiku waktu untuk menjelaskan segalanya? jangan menghindari aku lagi." ucap sang pria dengan frustasi.
Wanita yang di panggil Eve itu hanya memutar bola matanya malas, ia pun menepis kasar tangan pria itu yang dengan lancangnya menggenggam tangannya.
"Cukup Sat, aku tidak ingin mendengar apapun! tidak bisakah kau menjauh dariku selama nya? aku sudah bahagia menjalani kehidupanku saat ini, jadi please jangan pernah menunjukkan wajah mu lagi di depanku!" pinta Eve dengan wajah yang sudah basah dengan air mata.
Satria mengepalkan tangannya, ada rasa bersalah yang begitu besar kala melihat wanita yang sangat ia cintai menangis seperti itu. Ingin rasanya ia mendekap tubuh wanita itu, namun ia takut jika wanita itu akan lebih membenci dirinya.
"Beri aku waktu lima menit saja, setelah nya aku tidak akan mengganggu kamu lagi." mohon Satria dengan suara bergetar menahan tangisnya.
Eve hanya diam, wanita itu terus saja menangis dengan diam. Melihat keterdiaman Eve, Satria pun mulai berbicara.
"Aku tidak pernah berselingkuh di belakang kamu. Malam itu aku hanya menghadiri acara cocktail yang di adakan Fido di ballroom hotel, aku mabuk berat hingga aku tidak sadar jika saat itu Sely juga ikut hadir di acara itu. Aku tidak pernah melakukan hubungan badan dengan Sely malam itu, dan mengenai foto-foto yang di kirimkan Sely semuanya di ambil oleh nya saat aku tidur." jelas Satria jujur.
Dengan perlahan, Satria melangkah maju, pria itu mengikis jarak di antara mereka, tangannya perlahan terulur ke pipi Evelyn dan mengusap bulir air mata di pipi wanita cantik itu. Wanita itu hanya diam, tak ada penolakan dari Evelyn sendiri saat tangan Satria menyentuh pipinya.
"Percayalah, aku hanya mencintai kamu, Eve. Empat tahun aku sudah memendam rasa rinduku akan dirimu, aku mohon kembalilah." pinta Satria dengan suara bergetar.
__ADS_1
Evelyn yang semula menunduk perlahan menengadah menatap manik hijau pria yang sangat ia cintai. Wanita cantik itu mencari sebuah kebohongan di manik mata pria nya namun hanya ketulusan dan kejujuran yang ia dapat. Tak dapat di pungkiri ia sendiri begitu merindukan perhatian dan kasih sayang pria di depannya. Hanya anggukan kepala yang menjadi jawaban nya saat ini.
Satria pun menarik wanita itu dan mendekapnya dengan erat, sebuah kecupan ia daratkan berulang kali di puncak kepala wanitanya.