
Sinar mentari memasuki celah gorden dan berhasil mengusik tidur lelap Asha, pria itu perlahan meregangkan otot-otot tubuhnya, sebuah senyum terlukis di sudut bibirnya kala melihat sesosok wanita yang semalam di jamaah nya masih tertidur dengan pulas. Satu kecupan ia daratkan di kening wanita itu, dengan perlahan ia menyibak selimut dan turun dari ranjang.
"Sera bangun, cepat bersihkan tubuhmu." seru Asha.
Berulang kali Asha membangunkan Queen, namun tak ada respon dari wanita nya, wajah wanita itu begitu pucat, seketika mata pria itu melotot tak percaya kala melihat genangan darah di bawah bokong wanitanya, secepat kilat pria itu segera mengenakan pakaian nya dan kembali ke sisi ranjang dan membopong tubuh Queen.
Raut khawatir jelas tercetak di wajah Asha, ada rasa bersalah menyelimuti hatinya, dengan kecepatan tinggi, pria itu mengemudikan mobilnya menuju rumah sakit, tak membutuhkan waktu lama, mobilnya berhenti tepat di depan lobby rumah sakit, tampak beberapa perawat dan dokter sudah berdiri menantikan kehadiran mereka. Dengan pelannya Asha membaringkan tubuh Queen di atas brankar.
"Lakukan yang terbaik untuk wanitaku!" intonasi yang di ucapkan oleh pria itu begitu pelan namun penuh penekanan.
Tubuh Queen di giring menuju ruang operasi, tepat saat pintu ruang operasi di tutup, pejaman mata Queen perlahan terbuka.
"Nyonya, berbaringlah saya dan perawat lain -" jelas sang dokter.
"Tak perlu melakukan operasi apapun, kalian cukup diam saja di sini hingga waktu operasi yang biasanya kalian lakukan selesai." potong Queen cepat.
"Tapi, kami tidak bisa diam saja melihat anda banyak mengeluarkan banyak darah." jawab sang dokter dengan hati-hati.
"Ck' seharusnya seorang dokter bisa membedakan mana darah segar dan mana darah palsu. Periksa janinku saja, apakah janin ku baik-baik saja setelah di gempur oleh pria arogan itu." decak Queen kesal.
Melihat tatapan tajam dari wanita itu membuat semuanya yang ada di ruang operasi hanya bisa pasrah. "Baik Nyonya." jawab sang dokter dengan pasrah.
"Katakan padanya jika aku keguguran, jangan pernah mengungkapkan kebenaran mengenai kehamilanku, apa kalian mengerti?" titah nya dengan dingin.
"B-baik Nyonya." balas sang dokter dengan perasaan campur aduk, ada ketakutan tersendiri saat menerima perintah wanita berpengaruh itu, namun tak ingin sesuatu terjadi terhadap keluarga mereka, sang dokter pun menyetujui permintaan tersebut.
__ADS_1
*****
"Apa yang sudah kau lakukan kepadanya, As?" tanya Satria berang.
"Entahlah, yang pasti dokter sedang menanganinya." balas Asha santai.
"Jika hal buruk terjadi padanya, aku tidak akan melepaskan kamu begitu saja, As!" ancam Satria dengan wajah berubah gelap dan sorot mata pria itu begitu dingin.
Setelah satu jam lebih mereka menunggu, Pintu ruangan itu akhirnya terbuka. Seorang dokter menemui Asha. Meminta pria itu mengikuti nya masuk ke ruangan dokter. Dua orang perawat mendorong brankar di mana Queen terbaring masih tak sadarkan diri.
Wajah Queen tampak pucat dengan selang infus di tangan kanannya. Asha menatap sendu gadis itu. Dia ingin mengikuti gadis itu saat akan di pindahkan ke ruang rawat inap.
Dokter kembali meminta Asha untuk masuk ke ruangannya, Asha pun kembali melangkahkan kaki nya mengikuti sang dokter. Dia meminta Satria untuk menemani Queen selama ia mengikuti dokter.
Asha keluar dari ruangan itu dengan langkah gontai. Dia bagaikan manusia tanpa jiwa yang melangkah tidak tentu arah. Perkataan dokter barusan berhasil membuat dunianya hancur tak berkeping. Seolah nyawanya bagai di tarik keluar dari raganya.
"Apa kata dokter, As?"
Pertanyaan Satria seolah tidak di dengarnya. Pria yang biasa nya terlihat berwibawa dan tegas itu menjadi begitu menyedihkan, entah apa yang tengah terjadi hingga terlihat perubahan signifikan seperti saat ini terhadap sosok tersebut. Pria itu terus melangkah tanpa arah. Langkah nya berhenti di sebuah taman yang ada di rumah sakit.
"Aarrghhh."
Teriaknya membahana ke seluruh penjuru rumah sakit. Dia mengabaikan tatapan aneh dari orang-orang yang ada di sana. Di tidak mempedulikan apapun saat ini.
Asha berlutut di tanah, kedua tangan mengepal erat di atas rerumputan taman, kepala nya tertunduk lemah dan akhirnya, getaran halus terlihat di bahu dan kepalanya. Tetesan-tetesan bening pun mulai berjatuhan di wajah tegas itu.
__ADS_1
Ini ialah kali keduanya pria itu meneteskan air mata setelah dua puluh dua tahun lalu ia menangisi kepergian sang Mommy yang pergi meninggalkan diri nya bersama sang Ayah demi sosok pria lain.
Melihat itu, Satria yang hendak mencecar sahabatnya itu mengurungkan niatnya, pria itu pun perlahan meninggalkan sosok Asha dan memilih kembali ke ruang rawat Queen. Ada rasa iba kala melihat sosok itu yang begitu rapuh dan kacau.
Setiba nya di sana, tampak sosok Queen yang sudah duduk bersandar dengan pandangan kosong. Perlahan pria itu pun berjalan mendekati ranjang.
Dengan penuh kelembutan Satria mengajak Queen untuk berbicara, alangkah terkejutnya pria itu kala mendengar kebenaran dari sosok tersebut.
"Mengapa kau lakukan ini? tak seharusnya kau menutupi ini semua darinya, tidak semudah itu lepas darinya, terlebih pria itu saat ini begitu kacau kala tau kau mengalami keguguran." tegur Satria tak habis pikir dengan jalan pikiran Adik sepupunya itu.
"Hanya ini satu-satunya cara agar aku benar-benar terlepas dari pria angkuh itu. Berjanjilah untuk tidak mengatakan kebenarannya." mohon Queen dengan lirihnya.
"Apa yang akan kau lakukan setelah ini?" tanya Satria ingin tau.
"Aku akan pergi ke suatu tempat yang tak akan bisa di temukan oleh siapapun, aku ingin menata kehidupan ku bersamanya." jelas Queen sembari mengusap lembut perutnya yang masih rata.
"Semoga keputusanmu kali ini tepat, mintalah Eve untuk menemanimu, Kakak akan tenang jika Eve juga ikut bersama mu. Jangan menolaknya, Kakak hanya ingin memastikan keselamatan kalian berdua." pinta Satria.
"Baiklah, tapi berjanjilah jika Kakak tak akan pernah mengungkap kebenaran ini kepada nya." mohon Queen dengan bulir bening yang kembali menetes.
"Semoga kebahagian selalu menyertaimu, rawatlah ia dengan penuh kasih sayang, jangan sedikitpun kau membencinya sekalipun kau membenci Ayahnya. Dan kau bisa memegang janji Kak untuk tidak membuka semua nya tanpa persetujuan darimu." janji Satria.
"Bagaiman dengan perusahan mu?" tanya Satria.
"Aku memberikan hak penuh kepada Jecky, saat ini hanya Jecky lah orang yang tepat untuk memegang kendali perusahan ku, dengan bantuan Nara dan Fadel yang akan ikut menduduki beberapa kursi petinggi di perusahan." jelas Queen.
__ADS_1