
"Besok aku sudah mulai kerja di kantor papa. Mungkin mulai besok keseharianku akan sibuk. Dari matahari terbit sampai matahari kembali terbenam. Jika kau ingin pergi ke rumah orang tuamu, aku bisa antar sekarang," Dimas memberi sebuah tawaran saat ia menghampiri Sora yang tengah berdiri di balkon kamar.
Sora menoleh pria yang saat ini berdiri di sampingnya.
"Aku bukan hanya ingin ke sana saja, tapi juga ingin tinggal sana," jawab Sora.
"Kenapa? Kau masih keberatan dengan peraturan yang ada di rumah ini?"
Sora tidak menjawab iya ataupun tidak. Tidak menggeleng ataupun mengangguk. Meski demikian, Dimas bisa membaca apa yang ada di pikiran wanita itu.
"Nanti, jika aku sudah pegang uang sendiri. Aku janji akan mrmbawamu keluar dari rumah ini dan kita bisa tinggal di rumah yang nanti aku beli. Tapi sekarang kau bertahan dulu saja. Satu sampai tiga bulan sampai aku memiliki tabungan. Gimana?"
Sora memikirkan penawaran Dimas.
"Tapi tiga bulan itu lama, Dimas. Belum satu minggu saja, jujur aku itu tidak nyaman tinggal di sini. Mamamu baik, pelayan di sini juga ramah-ramah. Tapi aku sedikit keberatan saja dengan peraturan aneh yang papamu buat."
Dimas mengulas senyum kecil.
__ADS_1
"Kau pikir kau saja yang menganggap peraturan di rumah ini serasa konyol? Aku juga. Aku pernah tidak setuju dengan peraturan yang papa buat. Aku sempat protes. Tapi papa malah menghukumku karena aku berani membantah dirinya."
"Benarkah?"
"Ya. Kau tahu, aku pernah pulang di atas jam dua belas malam. Dalam peraturan tertulis jika penghuni rumah di sini tidak boleh keluar sampai batas jam sepuluh malam. Waktu itu papa menunggu di sofa ruang tamu. Dan begitu aku datang, kau tahu apa yang di lakukan padaku?"
"Apa?" tanya Sora penasaran.
"Aku di suruh untuk tidur di luar. Setelah itu aku pergi lagi dari rumah. Gak pulang tiga hari."
"Betul. Aku kehilangan fasilitas seperti mobil, ATM di blokir selama seminggu. Papa kembalikan fasilitas aku setelah aku mohon-mohon padanya. Oleh karena itu aku tidak bisa membantah untuk menikah denganmu waktu itu, karena ancamannya lagi fasilitas dan aku tidak bisa kehilangan itu," jelas Dimas.
Sora semakin tertarik dengan cerita Dimas. Ia berusaha untuk bertanya lebih jauh lagi tentang kehidupan pria itu. Sampai akhirnya ia kembali di buat badmood lantaran Dimas menyebut nama Angeline di sana.
Melihat raut wajah Sora yang sudah mulai berubah, Dimas menyudahi ceritanya.
"Maaf, aku tidak bermaksud membuatmu cemburu," ucap Dimas.
__ADS_1
"Hm? Apa katamu? Aku cemburu? No!"
"Mulutmu bisa bohong, tapi tidak dengan hatimu. Aku bisa melihat dari matamu. Kau cemburu pada Angeline, bukan?"
Sora memutar bola matanya malas. Lagi-lagi harus Angeline yang di bahas.
"Jadi antar aku ke rumah ayah aku tidak?" Sora berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Jadi kalau kau mau. Sekarang?"
"Ya."
"Ya udah siap-siap dulu sana. Aku mau izin sama papa mama dulu."
Dimas beranjak dari sana. Sementara Sora bersiap-siap ganti pakaian. Tapi sebelum itu, Sora menyempatkan diri untuk mengirimkan chat singkat pada ibunya, jika dirinya akan segera datang ke rumah. Tidak berapa lama, pesannya mendapat balasan berisi ungkapan senang sang ibu jika dirinya akan datang.
_Bersambung_
__ADS_1