Jangan Paksa Kita Menikah!

Jangan Paksa Kita Menikah!
Perkenalan Singkat


__ADS_3

Kedatangan Dimas di kantor di sambut hangat oleh seluruh karyawan di kantor. Asberto kemudian memperkenalkan putranya pada mereka. Bahwasannya mulai hari ini dan seterusnya, perusahaan akan di pimpin oleh Dimas Putra Asberto.


Tak jarang dari karyawan di sana yang terkagum-kagum pada pria itu. Bahkan bukan hanya wanita yang masih lajang saja yang mengidamkan Dimas, yang sudah bersuami pun tidak dapat membohongi diri sendiri, jika Dimas sangat menarik.


"Namaku Dimas. Aku sudah memiliki istri, namanya Sora. Dan mulai hari ini, aku yang akan menjadi pemimpin kalian semua. Harap di maklum jika nantinya ada kesalahan, mohon di bantu. Sebab aku baru saja terjun ke dunia kerja."


Perkenalan singkat Dimas mematahkan hati para wanita yang baru saja menaruh harapan padanya. Tapi ada satu wanita yang tetap ingin mewujudkan harapan untuk bisa memiliki hubungan lebih dari sekedar atasan dan bawahan dengan pria itu. Tidak perduli dengan statusnya.


Usai perkenalan singkat barusan, Dimas berjalan mengikuti langkah papanya menuju ruangan khusus untuk dirinya. Ruangan tersebut bukan berada di lantai teratas, melainkan di lantai bawah tanah.


Sampai di ruangan yang di maksud, Dimas mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan. Tatapan takjub melihat ruangan seorang pemimpin semewah ini.


"Ini serius ruangan untuk aku, pa?" tanya Dimas seolah masih tak percaya.


"Ya, ini ruangan untukmu. Bagaimana, apa kau menyukainya?"


"Tentu saja aku menyukainya. Aku akan betah berlama-lama di ruangan ini," jawab pria itu.

__ADS_1


"Baguslah kalau begitu. Papa senang jika kau mau meneruskan perusahaan ini. Dan tugasmu tidak berat di sini. Cukup tanda tangan usai menyetujui berkas yang nanti akan di antar oleh Wilda, sekretaris papa yang nantinya akan menjadi sekretaris mu."


Dimas mengangguk-anggukan kepalanya mengerti. Jika tugasnya hanya itu, mungkin dari kemarin-kemarin ia menyetujui untuk melanjutkan perusahaan sang papa.


"Ok, pa. Sekarang aku paham. Tapi kalau nanti ada yang tidak aku mengerti, aku bisa tanyakan pada siapa?"


"Bisa melalui Wilda, atau ke papa langsung."


"Ok."


"Selamat bekerja, putraku." Asberto merentangkan tangannya lalu di sambut oleh Dimas.


Pelukan mereka terlepas begitu mendengar suara pintu yang di ketuk oleh seseorang.


"Masuk!" ujar Asberto dan pintu pun terbuka lebar, muncul sosok wanita berkacamata dengan rambut yang di ikat ke atas dan dua helai poni sebatas dagu di sisi kiri kanan wajah.


Wanita itu berjalan beberapa langkah dan berhenti tepat di hadapan Asberto. Dia memberi senyum kecil pada Dimas.

__ADS_1


"Selamat bergabung, tuan Dimas," ucap wanita itu.


"Terima kasih," ucap Dimas.


"Dimas, ini Wilda, sekretaris yang papa maksud," Asberto mengenalkan wanita itu pada putranya.


Dimas membalas senyum wanita sekilas.


"Ah ya, tuan. Saya ke sini untuk meminta tanda tangan tuan yang tertunda dia hari lalu. Dan ini harus di tanda tangani sekarang juga." Wilda menyodorkan beberapa berkas yang ia bawa di tangannya.


Asberto mengecek berkas tersebut, membacanya sekilas. Setelah itu ia menandatangi berkas tersebut. Dimas memperhatikan cara kerja papanya. Ternyata tidak sesulit yang ia bayangkan.


Usai menanda tangani berkas tersebut, Asberto memberikannya lagi pada Wilda.


"Ini tanda tangan saya yang terakhir kalinya. Selanjutnya, kau bisa minta tanda tangan Dimas."


Wilda mengangguk paham. "Baik, tuan. Kalau begitu saya permisi."

__ADS_1


"Silahkan."


_Bersambung_


__ADS_2