Jangan Paksa Kita Menikah!

Jangan Paksa Kita Menikah!
Mendesak Wilda


__ADS_3

"Wilda, bisa kita makan siang bersama nanti?" tawar Dimas pada wanita yang baru saja memberikan sebuah berkas untuk di tanda tangani ke ruangan nya.


"Makan siang bersama?" ulang wanita itu.


"Ya, kenapa? Kau keberatan?"


Wilda menggeleng dengan cepat. "Tidak, aku sama sekali tidak keberatan, tuan Dimas."


"Jadi?"


"Ya, aku mau," jawab pria itu dengan menahan senyum di sudut bibirnya.


"Ok, nanti begitu jam makan siang sudah waktunya, aku akan menjemputmu di ruanganmu. Bagaimana?"


Wilda mengangguk. "Baik, tuan."


"Ya sudah, kalau begitu sekarang kau bisa kembali ke ruanganmu."


"Baik, tuan."


Wilda beranjak pergi dari sana dengan membawa perasaan senang. Seulas senyum akhirnya mulai terukir di kedua sudut bibirnya begitu ia sudah keluar dari ruangan tersebut.


Dimas menghembuskan napas sedikit kasar.


"Semoga saja dia tahu sesuatu tentang ruangan itu dan mau memberitahunya padaku," harap Dimas.

__ADS_1


***


Jam makan siang pun tiba, Dimas membawa Wilda pergi ke sebuah restoran yang lumayan jauh dari kantor.


Sementara Wilda bersorak kegirangan, lantaran ia bisa semobil berdua dengan pria yang ia tidak perdulikan status pernikahannya.


Lima belas menit kemudian mereka tiba di restoran tempatnya makan siang kali ini. Wilda mengernyit lantaran pria itu membawanya ke restoran yang kecil.


"Kau serius mau makan di sini?" tanya Wilda ragu.


"Iya, kenapa? Kau tidak suka?"


"Suka, suka. Aku suka," jawab wanita itu dengan cepat.


"Ya sudah, kalau begitu turun."


Keduanya pun turun dari mobil dan masuk ke restoran tersebut. Mereka memesan menu makanan yang berbeda. Sambil menunggu pesanan datang, Dimas memanfaatkan waktu tersebut untuk bicara mengenai tujuannya mengajak wanita itu makan siang.


"Ah ya, aku ingin memastikan sesuatu lagi padamu. Aku harap kau jujur." Dimas mengawali pembicaraan.


"Memastikan? Apa maksudmu, tuan?" tanya Wilda sedikit gugup.


"Kau yakin tidak tahu apa-apa mengenai ruangan ber pasword itu?" tanya Dimas to the point.


Wilda mengerjap sekali, dari ekspresi wajahnya Dimas bisa melihat sepertinya wanita itu memang menyembunyikan sesuatu darinya.

__ADS_1


"Kau pasti tahu tentang ruangan itu bukan?" desak Dimas.


Wilda menggeleng. "Aku tidak tahu apapun."


"Tapi matamu mengatakan jika kau tahu sesuatu tentang ruangan itu. Tolong katakan padaku sebenarnya itu ruangan apa?"


Wilda bergeming. Semakin membuat Dimas yakin jika Wilda tahu sesuatu tentang ruangan itu.


"Aku akan di pecat jika aku mengatakannya," jawab wanita itu ketakutan.


Jawaban Wilda akhirnya meyakinkan Dimas jika wanita itu memang mengetahui sesuatu.


"Perusahaan sudah di ambil alih olehku. Dan kau pun tahu sekarang aku pemimpinmu. Maka kau tidak akan di pecat, sebagai aku yang memegang kendali perusahaan."


Wilda masih diam dan menunduk. Ia tidak berani menatap wajah pria di hadapan nya.


"Justru aku akan memecatmu jika kau tidak memberi tahu ku tentang ruangan itu."


"Jangan! Aku mohon jangan pecat aku!"


Wilda menelungkupkan tangannya memohon.


"Ya sudah, kalau begitu tolong beri tahu aku tentang ruangan itu. Sedikit banyaknya aku hargai kejujuranmu. Dan aku akan berterima kasih sekali jika kau mau jujur padaku."


Wilda kembali diam. Ia bingung harus memberi tahu pria itu atau tidak. Keduanya membuat hidupnya merasa sangat terancam.

__ADS_1


"Baik. Aku tahu tentang ruangan itu dan aku akan memberitahumu," jawab Wilda kemudian membuat Dimas setidaknya bisa bernapas lega, lantaran wanita itu akhirnya mau jujur tentang ruangan itu.


_Bersambung_


__ADS_2