Jangan Paksa Kita Menikah!

Jangan Paksa Kita Menikah!
Sebuah Rencana


__ADS_3

Wiranto masih kaget begitu Dimas datang ke rumah dan ingin mengajaknya bicara empat mata. Sementara ia mengajak ayah mertuanya bicara di balkon, Sora dan bu Arum menyiapkan makan malam.


"Sebenarnya apa alasan ayah menjodohka Sora dengan aku?" tanya Dimas langsung pada intinya.


"Apa ayah harus memberitahu alasannya padamu?" Wiranto balik bertanya.


"Tentu, aku butuh jawaban yang jujur."


"Ayah rasa itu tidak perlu," jawab pria itu.


"Kenapa? Apa ada hal lain di balik pernikahan paksa antara aku dengan Sora? Sehingga ayah dan papaku begitu terburu-buru menikahkannya? Aku yakin, ayah pasti menyembunyikan sesuatu."


Wiranto menatap menantunya cukup lama, sebelum kemudian pria itu kembali memandang lurus ke depan.


"Kau sedang menggali informasi apa, Dimas?"


Dimas rasa, ayah mertuanya paham dengan pertanyaannya. Baguslah jika begitu, mudah baginya untuk mengungkap semua ini.


"Apa ayah sudah tahu sebenarnya papa seorang psikopat?"


Pertanyaan Dimas cukup mengejutkan.


"Apa yang kau bicarakan, Dimas?"

__ADS_1


"Apa pernikahan di antara kami ada hubungannya dengan ini?"


"Cukup, Dimas! Ayah sama sekali tidak paham maksud kamu." seru Wiranto.


"Sudah cukup buat ayah menyembunyikan hal ini. Tolong katakan dengan jujur padaku sekarang juga, apa alasan di balik pernikahan aku dengan Sora?"


Dimas sedikit mendesak, ia benar-benar butuh informasi seputar papanya melalui ayah mertuanya. Sebab ia yakin jika ayah mertuanya tahu sesuatu tentang papanya.


Setelah berulang kali menyangkal, akhirnya Wiranto mau mengatakan yang sejujurnya. Dimas cukup terkejut dengan pengakuan pria paruh baya itu.


"Ayah tidak tahu mengenai papamu psikopat atau bukan. Hanya saja ayah di ancam untuk menyerahkan salah satu nyawa dari ketiga anggota keluarga ayah. Yaitu Sora, ibunya, dan ayah sendiri. Jika ayah tidak bisa membayar hutang nyawa pada dirinya. Sebab papamu telah menyelamatkan ayah dari orang yang hendak membunuh ayah," terang Wiranto lagi.


Dimas diam untuk beberapa saat.


"Apa ayah pernah berpikir jika orang yang berniat melenyapkan ayah adalah orang suruhan papa juga?"


"Ya bisa jadi itu hanya tipu daya papa. Papa seolah-olah menjadi penyelamat ayah padahal papa memiliki tujuan yang sama. Yaitu meminta nyawa."


Kalimat Dimas ada benarnya juga.


"Sekarang aku sedang berusaha mengungkapkan kejahatan papa. Asberto adalah papaku, tapi aku tidak mau menutupi kejahatan seseorang sekalipun dia orang tuaku sendiri. Lagipula kejahatan papa sudah melampaui batas. Sudah banyak nyawa yang hilang karena ulah papa."


"Dari mana kau tahu hal itu?" tanya Wiranto penasaran.

__ADS_1


Kemudian Dimas menjelaskan semuanya.


"Apa mau butuh bantuan ayah?" tawar Wiranto.


"Memangnya ayah bersedia membantu ku?"


"Tentu saja. Jadi sekarang apa yang sedang kau rencanakan?"


"Di mulai dari password ruangan rahasia itu. Setelah itu, barulah kita bisa mengungkapkan kejahatan papa. Kasihan mama juga, sudah berapa kali papa mengkhianati mama tanpa sepengetahuannya."


Wiranto mengangguk-anggukan paham. Dengan membantu Dimas bisa sekaligus memberi pelajaran pada Asberto.


Kedatangan Sora menghentikan pembicaraan mereka.


"Yah, Dim, makan malam sudah siap. Ayo kita makan malam. Kasihan ibu sudah menunggu di bawah."


"Iya," sahut Wiranto dan Dimas hampir bersamaan.


Sementara Wiranto melangkah pergi duluan, Dimas dan Sora berjalan di belakang pria paruh baya itu.


"Tadi bicara apa sama ayah?" bisik Sora.


"Ini urusan pria, kau wanita tidak boleh tahu."

__ADS_1


Jawaban Dimas kembali membuat Sora kesal dengan pria itu.


_Bersambung_


__ADS_2