
Sora menghambur ke dalam pelukan sang ibu begitu ia sudah sampai di rumah orang tuanya.
"Ibu ... Aku kangen sekali pada ibu," ungkap wanita itu dalam pelukan.
"Ibu juga," balas bu Arum.
Setelah puas berpelukan, mereka duduk di sofa ruang tamu. Tidak lupa Dimas mencium punggung tangan sang mertua.
Sora menengok ke arah dalam rumah, mencari sosok yang kini tidak terlihat.
"Ayah sedang ada urusan," kata bu Arum seolah tahu apa yang saat ini ada di dalam pikiran putrinya.
"Tapi ayah tahu kalau aku mau ke sini, bu?"
"Ayah pergi sejak tadi pagi, katanya pulang agak malam. Ibu juga belum sempat kasih tahu ayahmu kalau kalian datang ke sini."
Sora mengangguk-anggukan kepalanya.
"Bagus deh kalau ayah gak ada. Aku bisa bernapas lebih lega," ujar Sora sambil mengelus dada. Bu Arum hanya mengulas senyum kecil.
"Ah ya, Dimas. Mau minum apa? Biar ibu biarkan. Hangat atau dingin? Kopi, mau?" tawar wanita paruh baya itu.
"Tidak perlu repot-repot, bu. Nanti kalau haus aku bisa minta Sora saja yang ambilkan," sahut pria itu dan mendapat tatapan tajam dari Sora.
"Eh, siapa yang mau buatkan? Kau bisa buat sendiri di dapur," seru wanita itu dan mendapat teguran dari sang ibu.
"Soraaaa ..."
__ADS_1
Sora memamerkan sederet giginya yang tampak rapi. "Hehehe ... Maaf, bu. Aku hanya bercanda."
"Seorang istri harus melayani suami dengan baik, sayang. Jadi ibu harap kau bisa melayani suamimu dengan baik juga," tutur bu Arum.
"Iya, ibu. Tapi kan-"
"Tanpa tapi, nak. Bagaimanapun, Dimas kan suamimu. Dan untuk Dimas juga, jadilah suami yang baik untuk putri ibu. Jangan buat putri ibu sampai terluka. Ibu mohon dengan sangat."
Dimas mengangguk paham. "Aku akan berusaha menjadi yang terbaik, meski Sora ini sering kali menyebalkan," jawab pria itu.
"Kau yang menyebalkan! Kenapa jadi aku?" seru Sora tidak terima.
"Memang kau yang menyebalkan," ujar Dimas tidak mau kalah.
"Kau ini lempar batu sembunyi tangan. Kau yang menyebalkan. Bukannya minta maaf, kau malah terus menciumku dan itu membuatku tambah sebal padamu."
"Benarkah?"
"Kau tahu?"
"Apa?"
"Kau baru saja membuka aib kita di depan ibumu sendiri."
Sora seketika diam. Ia mengingat kembali apa yang baru saja ia katakan di depan ibunya. Dan begitu ia menoleh ke arah sang ibu, wanita paruh baya itu tampak sedang menahan senyum.
"Ibu senang dengan pengakuan kalian. Setidaknya itu membuat ibu memiliki harapan untuk segera mendapatkan cucu."
__ADS_1
"Hah, cucu?" Sora memandang ke arah Dimas, seketika ia ingat ucapan pria itu di hari pernikahan mereka.
"Jangan kaget, punya Dimas besar."
Sora bergidik sendiri. Ia tidak bisa membayangkan jika dirinya melakukan hal itu. Itu pasti akan sakit dan merobek area intimnya.
Sora menggeleng. "Tidak, tidak, tidak. Tolong jangan katakan itu lagi, ibu."
"Kenapa?" tanya bu Arum heran.
"Bagaimana caranya pernikahan paska bisa mendapat keturunan, ibu? Tidak ada hal yang mendasar untuk kita melakukan suatu hubungan badan," jawab Sora.
"Ada," sahut Dimas.
Sora dan bu Aruna menatap Dimas secara bersamaan.
"Apa?" tanya Sora kemudian.
"Atas dasar paksa juga."
Sora seketika memelototi pria itu dan mencubit lengan Dimas hingga membuat pria itu merintih kesakitan.
"Aawww ..."
"Sembarangan saja kalau bicara! Aku pikir aku bakalan mau apa di paksa buat melakukan itu denganmu?"
"Aku sudah bilang, suatu hari kau yang datang padaku, menyerahkan dirimu dengan sukarela."
__ADS_1
Jawaban Dimas kembali mendapat cubitan dari Sora. Bu Arum yang menyaksikan nya mengulas senyum sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia yakin jika apa yang terjadi pada pada putri dan menantunya saat ini, merupakan benih cinta di antara mereka. Di mulai dari saling benci dan gengsi, perlahan akan berubah jadi jatuh hati. Ini semua hanya perihal waktu.
_Bersambung_