Jangan Paksa Kita Menikah!

Jangan Paksa Kita Menikah!
Menaati Aturan


__ADS_3

Seharian ini hari pertama Dimas menjadi pemimpin di perusahaan papanya hanya di isi dengan jalan-jalan menelusuri setiap ruangan, lantai demi lantai. Asberto juga tidak lupa menjelaskan pada Dimas, di lantai berapa tempat apa, dan seterusnya. Hingga tidak terasa, waktu sudah menunjukan jam makan siang. Asberto mengajak Dimas untuk makan siang di restoran terdekat yang biasa ia datangi.


"Jam dua belas sampai jam satu, itu waktunya jam makan siang bagi siapapun yang ada di perusahaan ini tanpa terkecuali. Di sini orangnya disiplin semua, begitu tiba waktu makan siang, mereka akan meninggalkan pekerjaan. Tidak ada kata tanggung. Begitupun ketika jam makan siang habis, mereka sudah harus stay di meja masing-masing untuk melanjutkan pekerjaannya. Jadi kau juga harus disiplin seperti mereka, jangan mentang-mentang bos yang bisa bersikap seenaknya. Paham!?"


Dimas mengangguk. "Iya, pa."


"Waktunya pulang pun sama. Semua yang ada di kantor tidak bisa pulang sebelum waktunya tiba. Kecuali dia sakit yang mengharuskan dia pulang lebih awal, atau keluarga terdekat yang betul-betul membutuhkan kehadirannya. Tapi, ini hanya berlaku untuk karyawan saja."


Dimas menganggukan kepalanya lagi. Pantas saja papanya membuat begitu banyak aturan di rumah, memang papanya itu sudah di latih untuk disiplin. Dan pantas saja papanya sampai mengancam untuk memberi hukuman pada Sora, lantaran wanita itu hampir saja membuat mereka terlambat datang ke kantor.


"Jika ada yang melanggar aturan di kantor, apa saja hukumannya, pa?" tanya Dimas memberanikan diri untuk bertanya.


"Hanya ada dua pilihan."


"Apa itu?"

__ADS_1


"Kehilangan gaji bulan itu atau angkat kaki dari kantor."


"Seberat itu hukuman nya?"


"Justru dengan itu akan membuat mereka disiplin, jika tidak ingin terkena saksi."


Dimas paham maksud papanya. Jika hukumannya ringan, maka akan banyak karyawan yang menganggap remeh peraturan. Atau bahkan sengaja mengulangi lantaran tidak di beri efek jera.


Obrolan mereka terhenti begitu menu pesanan mereka datang. Dimas langsung diam, sebab yang ia tahu jika sedang makan maka sedikitpun tidak boleh ada yang mengeluarkan suara.


"Tapi, pa-"


"Peraturan itu hanya berlaku di rumah. Di luar itu, bebas."


Dimas mengulas senyum kecil. Ternyata jika di luar papanya tidak se mengerikan yang ia kenal di rumah. Sekarang ia jadi berpikir, jika hidup papanya ini memiliki prinsip.

__ADS_1


"Jadi, apa yang ingin kau tanyakan lagi mengenai kantor?"


Dimas lalu menanyakan banyak hal pada papanya, dan mereka mengobrol biasa sambil makan. Sungguh ini pengalaman yang luar biasa bagi Dimas, sebab ini merupakan pertama kalinya ia makan bersama papanya tanpa ada keheningan.


Sementara di rumah, Sora merasa hari begitu lama sekali. Sejam saja serasa sehari. Ia sudah tidak sabar menunggu Dimas pulang, untuk menyampaikan keinginannya untuk segera keluar dari rumah tersebut.


Suara ketukan pintu kamar membuyarkan lamunan nya. Sora segera bangkit berdiri dari duduknya, kemudian berjalan untuk membukakan pintu. Muncul pelayan dari balik pintu.


"Permisi, nyonya Sora. Saya hanya ingin memberi tahu nyonya, jika makan siang sudah siap dan akan segera di mulai. Nyonya Merry sudah menunggu di meja makan," ujar pelayan itu memberi tahu.


"Ah iya, terima kasih. Aku akan segera kesana," jawab Sora.


"Baik, kalau begitu saya permisi untuk kembali ke belakang," pamit pelayan itu.


"Iya, silahkan."

__ADS_1


_Bersambung_


__ADS_2