Jangan Paksa Kita Menikah!

Jangan Paksa Kita Menikah!
Nyaris Di Tampar


__ADS_3

Malamnya, kedua bola Asberto seketika membulat sempurna begitu ia melihat sesuatu di layar laptopnya.


"Berani-beraninya dia!" ujarnya dengan wajah tampak marah.


Asberto bangkit berdiri dari sofa kamarnya, ia bergegas keluar kamar dan berjalan menuju kamar Dimas.


Tok tok tok ...


"Dimas! Dimas, keluar! Dimas!" seru pria itu seraya menggedor pintu lumayan keras.


Hal tersebut membuat Sora terbangun.


"Siapa yang ketuk pintu malam-malam?" pikir Sora.


"Dimas, keluar! Dimas!"


Iris mata Sora melebar, ternyata yang berteriak sambil menggedor pintu kamarnya itu papa mertuanya, Asberto.


Dengan cepat Sora mengguncangkan tubuh Dimas, jujur ia sangat takut sekaligus panik.


"Dimas, bangun, Dimas. Papamu teriak-teriak di luar. Dimas, ayo bangun .."


Sora berusaha untuk mengguncangkan tubuh Dimas lebih kencang. Sampai akhirnya kelopak mata pria itu terbuka.


"Ada apa? Kenapa membangunkanku tengah malam seperti ini? Pagi masih jauh, Sora. Ini baru jam sebelas malam," gerutu pria itu.

__ADS_1


"Dimas! Cepat keluar!"


Mendengar namanya di panggil oleh suara yang asing di telinga nya, kedua mata Dimas terbuka sempurna. Dimas menoleh kearah pintu lalu beralih pada Sora.


"Papa?"


Sora mengangguk. "Iya, itu papamu. Cepat bangun dan temui dia. Sepertinya dia marah besar padamu."


"Aku tidak pernah membuat kesalahan."


"Tapi sepertinya papamu marah, cepat temui dia, ayo cepat."


Dikas bergegas turun dari ranjang tempat tidur dan berjalan ke arah pintu. Begitu pintu terbuka, muncul sosok Asberto dengan wajah yang sudah di selimuti oleh amarah.


"Kenapa kau berani sekali mendekati ruangan itu? Bukankah papa sudah bilang jika itu hanya gudang," seru pria itu dan yang terlonjak kaget bukan Dimas, melainkan Sora.


"Kalau itu hanya gudang, kenapa papa sampai semarah ini?"


Pertanyaan Dimas membuat Asberto bungkam seketika.


"Aku rasa itu bukan gudang. Tapi ruangan rahasia dan terdapat sesuatu di dalamnya. Tidak ada gudang dengan pintu yang menggunakan pasword. Tidak ada gudang yang di pasangi CCTV dia sekaligus. Dan kenapa papa harus takut aku mendekati gudang itu? Sebenarnya apa yang terdapat di ruangan itu?"


"CUKUP, DIMAS!!"


"Dan kenapa orang yang berani mendekati ruangan yang papa bilang itu hanya sebuah gudang, akan papa beri hukuman?"

__ADS_1


Asberto hendak melayangkan sebuah pukulan, namun pria itu segera sadar dan mengurung kan niatnya menampar Dimas.


Sora yang melihatnya langsung menutup wajahnya menggunakan guling. Ia tidak bisa melakukan apapun selain diam.


"Kenapa tidak jadi, pa? Sepenting itulah ruangan itu sampai papa berniat menampar putra satu-satunya papa hanya karena berani mendekati sebuah gudang, hm?"


Asberto mengepalkan kedua tangannya. Ia tidak mau emosinya yang sudah memuncak sampai melukai Dimas. Dimas adalah satu-satunya harapan baginya.


Asberto memilih pergi dari sana, membawa emosi yang sudah meluap-luap.


Melihat sikap papanya barusan, membuat Dimas semakin yakin jika ada apa-apa di ruang rahasia tersebut. Sepertinya ia memang harus cari tahu tentang ruangan itu. Dan ia rasa, sedikit banyaknya Wilda mengetahui tentang ruangan tersebut.


Sora membuka guling yang ia gunakan sebagai penutup wajah. Dan sekarang Dimas sudah kembali ke ranjang tempat tidur.


"Kemana papamu?"


Dimas melirik Sora dengan tatapan serius.


"Apa yang sebenarnya terjadi antara kau dengan papamu? Kenapa dia sampai menampar dirimu?" Sora kian penasaran.


"Baru mau, belum sampai di tampar."


"Lalu apa masalahnya?" Sora berharap Dimas mau cerita padanya.


"Ini sudah terlalu malam. Aku harus lanjut tidur. Besok aku akan ceritakan setelah pulang dari kantor."

__ADS_1


Dimas membaringkan tubuh nya kembali dan menarik selimut sampai menutupi leher. Sementara Sora masih bertanya-tanya, sebenarnya apa yang terjadi di antara suami dan mertuanya? Sepertinya masalahnya sangat serius.


_Bersambung_


__ADS_2