Jangan Paksa Kita Menikah!

Jangan Paksa Kita Menikah!
Aturan Tidak Berlaku


__ADS_3

"Peraturan itu hanya berlaku di rumah. Di luar itu, bebas."


Dimas mengulas senyum kecil. Ternyata jika di luar papanya tidak se mengerikan yang ia kenal di rumah. Sekarang ia jadi berpikir, jika hidup papanya ini memiliki prinsip.


"Jadi, apa yang ingin kau tanyakan lagi mengenai kantor?"


Dimas lalu menanyakan banyak hal pada papanya, dan mereka mengobrol biasa sambil makan. Sungguh ini pengalaman yang luar biasa bagi Dimas, sebab ini merupakan pertama kalinya ia makan bersama papanya tanpa ada keheningan.


Sementara di rumah, Sora merasa hari begitu lama sekali. Sejam saja serasa sehari. Ia sudah tidak sabar menunggu Dimas pulang, untuk menyampaikan keinginannya untuk segera keluar dari rumah tersebut.


Suara ketukan pintu kamar membuyarkan lamunan nya. Sora segera bangkit berdiri dari duduknya, kemudian berjalan untuk membukakan pintu. Muncul pelayan dari balik pintu.


"Permisi, nyonya Sora. Saya hanya ingin memberi tahu nyonya, jika makan siang sudah siap dan akan segera di mulai. Nyonya Merry sudah menunggu di meja makan," ujar pelayan itu memberi tahu.


"Ah iya, terima kasih. Aku akan segera kesana," jawab Sora.


"Baik, kalau begitu saya permisi untuk kembali ke belakang," pamit pelayan itu.


"Iya, silahkan."


Setelah pelayan itu berlalu, barulah Sora melangkahkan kami menuju ruang makan. Dan benar, mama mertuanya sudah menunggu di sana. Ia jadi ingat dengan ucapan Dimas tentang aturan yang ada di rumah ini, setiap makan itu ada waktunya. Maka sedetik pun tidak boleh terlambat ke meja makan. Dan tadi pagi ia baru saja mengalaminya.


Sora menundukan wajahnya saat sampai di ruang makan.

__ADS_1


"Maaf, ma. Aku telat," ucap Sora.


Merry melemparkan senyum pada menantunya.


"Ayo, duduk. Tidak ada kata telat di sini."


Sora mendongakan wajahnya menatap sang mama mertua. "Maksud mama?"


"Peraturan rumah ini di buat oleh papanya Dimas. Jadi peraturan itu tidak akan berlaku jika papanya Dimas sedang tidak ada."


Sora merasa kaget sekaligus senang dengan jawaban mama Merry.


"Mama serius?" tanyanya memastikan.


"Iya, Sora. Duduklah, kita makan siang sekarang."


"Kau pikir kau saja yang merasa tidak nyaman dengan peraturan yang papanya buat? Semua penghuni rumah ini merasakan hal yang sama. Termasuk mama sendiri," ungkap wanita itu.


"Tapi sebelumnya mama bilang-"


"Maaf ya jika mama tidak bilang hal ini sejak awal. Pasti kau tidak nyaman ya tinggal di sini karena adanya peraturan rumah ini?"


Sora mengangguk jujur. "Iya, bahkan aku ada rencana untuk pindah dari rumah ini."

__ADS_1


"Pindah? Pindah ke mana?"


Sora menggeleng. "Aku juga belum tahu. Baru rencana dan aku belum bilang juga pada Dimas."


"Oh ... Tapi setelah tahu hal barusan, masih ada rencana untuk pindah?"


"Ada, tapi sepertinya tidak untuk dalam waktu dekat."


"Baguslah kalau masih ingin tinggal di sini. Jujur mama senang jika ada kau di sini, ada teman ngobrol. Semoga saja setelah mengetahui hal barusan, kau jadi sedikit lebih betah tinggal di sini," ucap Merry penuh harap.


"Iya, terima kasih sudah memberi tahu, ma. Tapi apa Dimas juga tahu hal ini?"


"Tentu saja."


"Lalu kenapa Dimas juga tidak memberi tahuku, ya?"


"Mungkin belum, atau mungkin memang sengaja," jawab Merry.


"Awas saja kalau memang Dimas sengaja tidak beri tahu aku."


"Memang Dimas nya mau di apakan?" tanya wanita paruh baya itu penasaran.


Sora menggeleng seraya memamerkan sederet gigi putihnya. "Hehe .. Tidak, ma."

__ADS_1


Merry menggeleng-gelengkan kepalanya. Lalu mereka memulai makan siangnya berdua.


_Bersambung_


__ADS_2