
Dimas benar-benar di buat shock oleh pengakuan Wilda tentang ruangan itu. Bahkan rasanya ia masih sulit untuk mempercayainya.
Wilda mengatakan jika ruangan tersebut berisi orang-orang khusus nya wanita yang dulunya pernah menjadi sekretaris Asberto.
Yang mengejutkan, Wilda mengatakan jika wanita-wanita itu merupakan orang yang di lenyapkan oleh Asberto lantaran wanita-wanita itu tidak mau berhubungan badan dengannya. Dan pengakuan Wilda tak kalah mengejutkan, jika dirinya pun pernah nyaris bernasip serupa dengan wanita-wanita malang tersebut. Dan ia memilih untuk pasrah, yaitu dengan menuruti permintaan Asberto agar melayaninya saat berada di kantor.
Oleh karena itu kenapa ruangan khusus Asberto berada di ruang bawah tanah, agar tidak ada satu orang pun yang dapat mengetahui aksi bejjad nya. Dan kenapa Wilda sangat ketakutan begitu Dimas meminta dirinya untuk memberi tahu apa sebenarnya isi ruangan rahasia itu.
"Jadi, kau-"
"Iya, Dimas. Papamu sering memintaku untuk memuaskan dirinya. Bukan hanya untuk sekali atau dua kali, kapan pun dia mau aku tidak boleh menolak. Jika aku menolak, maka aku akan di lenyapkan dan akan di masukan ke dalam ruangan itu," terang Wilda seolah mengerti dengan apa yang ada di dalam pikiran Dimas.
"Aku tidak perduli kau mau percaya padaku atau tidak, tapi itulah kenyataannya. Aku berkata yang sejujurnya, Dimas. Papamu termasuk seorang psikopat."
Dimas berusaha untuk tidak mempercayai kata-kata Wilda, akan tetapi wanita itu memberikan sebuah bukti yang cukup kuat.
__ADS_1
"Lihat, Dimas. Ini gambar yang aku ambil diam-diam saat papamu tengah mencumbu ku di ruangan yang saat kau tempati." Wilda memperlihatkan sebuah foto di layar ponsel nya.
Dimas merasa itu foto asli, bukan editan.
"Lalu kenapa kau tidak berusaha untuk melapor ke pihak yang berwajib?" tanya Dimas merasa ada yang aneh.
"Aku tidak memiliki banyak uang untuk mengurus laporannya. Sebab aku pasti akan kalah jika papamu mampu membayar pengacara yang hebat untuk menutupi kasus ini. Dan aku tidak mau bernasib serupa dengan wanita-wanita yang ada di ruangan rahasia itu. Sebab akan percuma dan sia-sia rasanya jika pada akhirnya aku akan berakhir di sana," jawab wanita itu.
Dimas mencoba untuk menerima semua yang di katakan oleh Wilda. Jujur ia sangat marah, kecewa, dan terluka begitu mendengar papanya demikian. Seorang papa yang ia ketahui memiliki watak yang keras, disiplin, ternyata di balik itu semua memiliki sifat yang begitu memalukan sekaligus menjijikkan.
"Maaf, Dimas. Untuk itu aku sama sekali tidak tahu. Kau bisa cari tahu sendiri untuk hal itu. Mungkin kau bisa menemukan nya di rumahmu sendiri, atau di kamar papamu," ucap Wilda menciptakan sebuah kekecewaan di wajah Dimas.
"Kau serius tidak tahu? Kau tidak sedang berbohong kan?" tanya Dimas ragu.
"Aku berani sumpah, Dimas. Aku tidak tahu." Wilda mengacungkan dua jari ke udara sebagai tanda jika ia tidak sedang berbohong.
__ADS_1
Dari kedua mata wanita itu, sepertinya Wilda memang benar-benar tidak tahu untuk masalah password tersebut.
"Ya sudah, kalau begitu nanti aku akan mencari tahu sendiri. Terima kasih sudah mau jujur tentang ruangan itu."
"Ya, sama-sama. Tapi kau harus janji, jangan pernah menyebut namaku jika kau ingin membuka suara tentang ruangan itu pada papamu. Aku tidak ingin terseret."
Dimas mengangguk. "Kau tenang saja. Aku tidak akan mengatakan jika kau yang memberi tahu tentang ruangan itu."
"Terima kasih."
"Ya."
Dimas masih shock dengan apa yang baru saja ia dengar dari Wilda mengenai papanya. Setelah ini, ia harus melakukan hal seharusnya. Tidak perduli jika itu papanya, ia harus membongkar kejahatan ini di mulai dari mencari tahu password ruangan tersebut.
Tapi tiba-tiba saja ayah Sora terlintas di dalam pikiran Dimas. Jika papanya dan ayahnya Sora memiliki kesepakatan untuk menikahkannya, maka ada sesuatu di balik kesepakatan tersebut. Sepertinya ia perlu bicara juga dengan ayahnya Sora. Harus.
__ADS_1
_Bersambung_