Jangan Paksa Kita Menikah!

Jangan Paksa Kita Menikah!
Cerita Hari Pertama Kerja


__ADS_3

"Bagaimana hari pertama kerjanya? Lancar?" tanya Sora begitu Dimas datang masuk kamar.


"Lancar. Hari pertamanya hanya di isi dengan perkenalan singkat dan menyusuri setiap lantai gedung," jawab Dimas seraya menyampirkan jas pada sandaran sofa.


"Jadi kau tidak bekerja?"


Sambil membuka kancing kemeja bagian tangannya, Dimas berjalan menghampiri Sora. Ia ikut duduk di tepi ranjang. Sementara wanita itu duduk menyandar di sandaran ranjang.


"Aku baru saja terjun ke dunia kerja, lagipula aku kerja di perusahaan papa. Jadi tidak mungkin lah aku masuk langsung kerja begitu saja," jawab Dimas kemudian.


"Menurutmu, kau akan betah kerja di sana? Maksudku, kau kan akan menjadi pemimpin besar sementara kau tidak memiliki skil untuk memimpin."


"Kenapa? Kau meremehkan aku?"


"Tidak, aku tidak begitu."


Dimas beralih membuka kancing kemeja bagian kerah leher. Barulah ia menjawab pertanyaan Sora.


"Sepertinya aku akan betah kerja di sana."


"Pasti banyak karyawan yang cantik dan tentunya membuatmu harus menyembunyikan statusmu sebagai suami?" tebak Sora.


Dimas menyunggingkan sudut bibirnya. "Kata siapa?"


"Aku yakin kau pasti melakukan hal itu. Benar kan?"


"Salah. Aku justru memberi tahu mereka kalau aku sudah menikah di saat mereka menatap kagum diriku."


"Sungguh? Aku tidak percaya."


"Ya sudah kalau tidak percaya, aku mengatakan yang sebenarnya."

__ADS_1


Dimas beranjak dari duduknya, ia mengambil handuk untuk mandi.


"Tunggu!" cegah Sora.


"Dimas menghentikan langkah, kemudian membalikan badan."


"Apa?"


Sora turun dari tempat tidurnya, lalu menghampiri pria itu.


"Kenapa kau tidak memberitahu aku jika peraturan yang ada di rumah ini tidak akan berlaku jika papamu tidak ada di rumah?" seru wanita itu.


Dimas mengernyit. "Dari mana kau tahu?" Dimas balik bertanya.


"Jawab dulu pertanyaanku!"


"Apa pelayan di sini yang memberitahumu?"


"Aku tanya, kenapa?"


"Agar kau bisa beradaptasi dulu di rumah ini," jawab Dimas seketika membuat Sora merasa kesal dan sedikit kecewa.


"Kau jahat, ternyata kau sendiri yang membuat aku tidak betah tinggal disini."


Sora hendak melipir, namun Dimas dengan cepat meraih pergelangan tangan wanita itu.


"Kenapa kau harus marah padaku? Aku juga bahkan baru tahu kalau peraturan tidak boleh bicara saat makan ternyata hanya berlaku di rumah."


Sora menoleh dan menatap pria itu.


"Sungguh?"

__ADS_1


Dimas mengangguk. "Iya. Tadi saat makan siang bersama papa, aku berusaha untuk diam saat makan akan berlangsung. Tapi papa bilang jika peraturan itu hanya berlaku di rumah, di luar bebas."


"Memang nya kau belum pernah makan bersama papamu di luar rumah? Maksudku makan bersama keluarga?"


"Semenjak aku mulai tumbuh besar apalagi duduk di bangku SMA, aku tidak pernah lagi ikut jalan keluar bersama keluarga. Dan saat itu belum ada peraturan seperti sekarang. Tadi siang, merupakan pertama kalinya aku makan di luar bersama papa setelah beberapa tahun lalu."


"Ah ya, lalu di kantor bagaimana? Apa peraturan seketat di rumah juga?" tanya Sora penasaran.


"Tentu, bahkan lebih. Tadi aku sudah di beri tahu aturan apa saja yang harus aku patuhi selama berada di kantor."


"Hidup papamu penuh dengan aturan," ucap Sora tanpa sadar.


"Tapi aku salut juga pada papa, dengan adanya aturan-aturan itu menjadikannya seseorang yang disiplin."


"Disiplin tersebut terbentuk karena adanya paksaan. Sebab seseorang takut jika sampai melanggar aturan tersebut, maka hidupnya akan terancam sebuah hukuman."


Dimas bergeming. Apa yang di katakan oleh Sora benar juga. Karyawan di kantor harus disiplin lantaran mereka akan terancam sebuah pilihan yang mengharuskan mereka di potong gaji atau angkat kaki dari sana.


"Ya sudah, kalau begitu aku mandi dulu, ya."


"Mau aku siapkan air hangat dulu?" tawar Sora.


"Tidak perlu, aku mandi air dingin saja. Mau ikut?"


"Ikut apa?"


"Mandi bersama." Jawaban Dimas seketika mendapat pelototan dari Sora, pria itu terkekeh kecil.


"Aku hanya bercanda, tapi jika kau menganggapnya serius juga tidak apa. Ayo."


"Big no!" tolak Sora penuh penekanan.

__ADS_1


Dimas kembali terkekeh sebelum akhirnya pria itu melipir pergi ke kamar mandi.


_Bersambung_


__ADS_2