Jangan Paksa Kita Menikah!

Jangan Paksa Kita Menikah!
Ruang Rahasia


__ADS_3

Keesokan harinya. Dimas kembali ke kantor dan hari ini ia sudah mulai bekerja. Ia memasang alarm lantaran Sora semalam marah dan kesal padanya. Jadi ia pikir Sora tidak akan membangunkannya.


Saat sampai di lantai bawah tanah, kedua mata Dimas kembali tertuju pada pintu ruangan terpencil yang menarik perhatiannya. Lebih tepatnya membuatnya penasaran dengan apa isi ruangan tersebut.


Dimas memutuskan untuk mengecek ruangan tersebut. Perlahan ia berjalan ke arah ruangan tersebut usai keluar dari lift.


Entah kenapa, Dimas merasa sedikit takut. Meski papa nya sudah mengatakan jika ruangan itu hanya sebuah gudang biasa, tidak tahu kenapa ia tidak percaya.


Sampai di depan pintu, Dimas mematung di sana. Pintu tersebut tidak memiliki knop yang terdapat di pintu biasa. Lalu dengan cara apa membuka pintu tersebut?


"Kenapa pintunya tidak memiliki knop, ya? Apa ruangan ini memang jarang di buka?" pikirnya.


Dimas termangu, sambil memperhatikan bagian pintu tersebut. Hingga kedua matanya menangkap sebuah angka di bagian samping bawah pintu. Kedua alisnya mengernyit.


Dimas membungkukan badannya kemudian berjongkok.


"Apa ini? Seperti angka untuk memasukkan pasword. Tapi untuk apa?"


Wajah Dimas tampak sedang berpikir keras.

__ADS_1


"Apa ini angka untuk memasukkan pasword agar bisa masuk ke ruangan ini? Oleh karena itu pintu ini tidak memiliki knop seperti pintu biasa yang lainnya?"


Sungguh teka-teki yang misteri, Dimas di buat kebingungan dengan ini.


"Aku yakin jika ruangan ini pasti bukan gudang. Pasti ruangan ini sebuah ruangan rahasia. Sebenarnya apa isi ruangan ini?"


Dimas harus tahu apa yang terdapat di ruangan tersebut. Perlahan tangannya bergerak ke arah angka untuk memasukkan pasword tersebut. Namun urung begitu tangan seseorang menyentuh pundaknya.


Dimas menoleh dan muncul seseorang yang saat ingin berdiri di hadapannya.


"Maaf, tuan Dimas. Ada satu berkas yang harus tuan tanda tangani," ujar seseorang itu yang tak lain adalah Wilda.


Dimas bangkit berdiri dan menerima berkas yang berikan oleh Wilda.


"Aku penasaran dengan ruangan ini. Kau tahu ini ruangan apa?" jawab dan tanya Dimas.


Seketika Wilda terlihat gugup. Namun dia pandai mengelola ekspresi sehingga ia mampu menutupi kegugupan nya.


"Tuan Asberto melarang siapapun untuk mendekati ruangan ini. Jika tuan ingin tahu ruangan apa ini, sebaiknya bisa tanyakan langsung kepada tuan Asberto."

__ADS_1


"Papa bilang ini hanya gudang biasa. Jika ini hanya gudang, kenapa papa sampai memberi peringatan agar tidak ada orang yang berani mendekat ke ruangan ini?" batin Dimas.


"Sebaiknya tuan Dimas jangan lagi mendekati ruangan ini, sebab jika tuan Asberto tahu maka dia akan memberi hukuman pada siapapun tanpa terkecuali. Ya mungkin tuan Dimas juga termasuk."


"Kau tahu seberapa berat hukumannya?"


Wilda menggeleng. "Aku tidak tahu seberat apa hukumannya. Tuan Asberto hanya memperingati dengan keras tanpa mengatakan apa hukumannya bagi yang melanggar."


Dimas jadi semakin penasaran, sepertinya ada sesuatu di dalam ruangan tersebut. Dimas mendongakan wajahnya ke atas, ia melihat ada dua cctv di sana.


"Sial, ada CCTV di sini," umpat nya.


"Kalau begitu apa berkas nya sudah bisa di tanda tangani sekarang?" pertanyaan Wilda mengalihkan Dimas dari ruangan tersebut.


Dimas mengangguk. "Ya."


Sebelum beranjak dari sana, Dimas mengamati apa saja yang ada di sana.


"Jika aku nekad untuk cari tahu apa yang terdapat di ruangan ini, maka hidupku akan terancam. Apalagi papa tidak menyebutkan hukuman untuk orang yang berani melanggar untuk siapapun yang mendekati ruangan ini." ucap Dimas dalam hati.

__ADS_1


Dimas beranjak dari sana untuk pergi ke ruangannya. Sementara Wilda mengikuti langkah pria itu dari belakang.


_Bersambung_


__ADS_2